Legen, Minuman Menyegarkan dari Sari Pohon Lontar
NU Online · Ahad, 5 April 2026 | 21:00 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Di tengah sinar matahari yang kian terik, minuman dingin dan menyegarkan menjadi pilihan untuk melepas dahaga. Minuman legen ini, salah satunya. Minuman yang banyak ditemukan di wilayah pesisir utara Jawa Tengah dan Timur ini menjadi minuman khas yang bisa dijadikan minuman penyegar sekaligus buah tangan.
Umayah, penjual legen atau air nira dari Desa Tanjung Sulang Rembang, bercerita bahwa legen yang dijual tersebut didapatkan asli dari pohon siwalan atau biasa disebut pohon lontar.
Keasliannya bisa dilihat dari warna air nira yang nampak kecoklatan dan rasa soda alami saat diminum langsung.
Tidak hanya itu, minuman legen tersebut juga mempunyai buah yang legit, manis dan dagingnya kenyal dengan sensasi cita rasa yang unik.
Umayah juga menceritakan, untuk mendapatkan air nira atau legen dari pohon lontar, ia memerlukan waktu hingga dua hari untuk terisi botol berukuran besar. Proses pengambilan air nira atau legen didapatkan dengan cara menyadap tandan bunga (manggar) muda dari pohon palma seperti lontar/siwalan, aren, atau kelapa, dimulai dari memukul lembut tandan supaya getah keluar, kemudian memotong ujung tandan, setelah itu air ditampung menggunakan bambu (bumbung) selama 12 jam.
"Kami harus memerlukan beberapa hari untuk mendapatkan air legen itu, pernah semalaman cuma dapat setengah botol ukuran besar. Karena legen kami tidak ada campuran air atau pewarna apapun," ucap Umayah saat didatangi kekediamannya pada, Ahad (5/4/2026).
Umayah mengaku, telah berjualan air nira selama 25 tahun. Dengan jam terbang berdagang yang sangat lama itulah, ia telah merasakan fluktuasi harga maupun permintaan produksi legen dari pelanggannya.
"Kami jual legen asli ini satu botol besar cuma Rp 15 ribu," tambahnya.
Tidak hanya legen, Umayah juga menjual buah Siwalan (lontar), dan dumbeg (olahan berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula aren/jawa).
Lapak jualan legen dan beberapa makanan khas lokal Rembang lainnya selalu ramai dikunjungi pembeli baik di hari biasa, maupun di akhir pekan. Umayah biasanya menjual air nira dan beberapa olahan makanan lainnya di rumah, di setor ke warung-warung, dan berjualan di di area pinggir jalan halaman rumah sekira pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.
Senada, Yhulyana, salah satu pelanggan dan warga desa Cabean Kidul Kecamatan Bulu Rembang mengaku juga sering membeli air legen produksi dari Bu Umayah, ia menilai, keaslian yang dirasakan jauh berbeda dengan air legen yang biasanya di jual di sepanjang jalan.
"Saya sudah berlangganan lama dengan Pak Solikin dan Bu Umayah. Legennya asli, sampai saat ini, saya belum menemukan legen asli kecuali di Desa Tanjung," tutupnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Kenaikan BBM dan Panic Buying dalam Pandangan Islam
2
Khutbah Bahasa Jawa: Nalika Kahanan Rekasa, Tansah Cekelen Sabar lan Takwa
3
Poroz Tuntut Permintaan Maaf dari IM3 Indosat terkait Iklan yang Dinilai Merendahkan Zakat
4
PBNU Terima Kunjungan IAIS Malaysia, Bahas Kondisi Geopolitik dan Kerja Sama Umat Islam
5
Korban Meninggal di Lebanon Akibat Serangan Israel Tembus 1.368 Orang
6
Ekspor Bumbu dan RTE Haji 2026 Dibuka, UMKM Indonesia Mulai Tembus Rantai Pasok Global
Terkini
Lihat Semua