Nasional

Masuk Musim Kemarau tapi Mengapa Hujan hingga Banjir Masih Terjadi? Begini Penjelasannya

NU Online  ยท  Jumat, 10 April 2026 | 10:00 WIB

Masuk Musim Kemarau tapi Mengapa Hujan hingga Banjir Masih Terjadi? Begini Penjelasannya

Ilustrasi hujan. (Foto: freepik)

Jakarta, NU Online

Memasuki bulan April yang seharusnya menjadi periode peralihan menuju musim kemarau, sejumlah wilayah di Indonesia justru masih diguyur hujan lebat bahkan disertai badai dan banjir. Fenomena ini memunculkan pertanyaan publik: mengapa hujan ekstrem masih terjadi di tengah peralihan musim?


Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari fase transisi menuju musim kemarau yang tidak berlangsung secara tiba-tiba.


Menurutnya, peralihan menuju musim kering justru diawali dengan meningkatnya aktivitas badai konvektif yang cenderung ekstrem. Fenomena ini ditandai dengan hujan deras yang sering disertai angin kencang hingga menyebabkan pohon tumbang.


โ€œTransisi menuju kering itu diawali dulu dengan badai gitu dengan badai-badai konvektif ya, jadi sekali hujan anginnya kuat banget gitu, sampai pohon-pohon bertumbangan,โ€ tutur Erma, dikutip NU Online, Jumat (10/4/2026).


Dia menyampaikan bahwa hujan deras hampir selalu disertai angin kencang sebagai satu kesatuan sistem cuaca.


โ€œJadi artinya ada komponen yang selalu menyertai hujan ketika terjadi, yaitu angin,โ€ katanya.


Fenomena angin kencang ini terbentuk dari proses atmosfer yang dikenal sebagai wind gas, yang muncul saat badai berkembang.


โ€œApa yang membuat angin itu terbentuk begitu kuat? Itu disebut biasanya wind gas, ketika terjadi hujan deras, tidak lain tidak bukan, itulah storm atau badai gitu,โ€ ujarnya.


Badai tersebut, lanjutnya, dihasilkan dari aktivitas konvektif yang sangat kuat di atmosfer. Kondisi tersebut saat ini diperparah oleh munculnya siklon tropis di kawasan Sub-Pasifik.


โ€œBadai yang dibangkitkan dari aktivitas konvektif yang sangat kuat, itulah yang kini sedang marak terjadi, dan siklon-siklon tropis juga sekarang mulai terbentuk di Sub-Pasifik,โ€ ujarnya.


Fenomena ini, kata dia, menjadi sinyal awal kemunculan El Nino. Pemanasan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik mendorong pembentukan awan hujan dan siklon tropis secara intensif.


โ€œIni sebenarnya sinyal juga bahwa dimulainya El Nino, El Nino itu membuat panas di Samudera Pasifik, jadi otomatis Samudera Pasifik itu banyak hujan,โ€ jelasnya.


Saat ini, lanjutnya, terpantau dua siklon tropis di wilayah timur Papua yang semakin menguatkan indikasi tersebut dengan adanya perluasan area pemanasan laut memungkinkan dampak badai di Sub-Pasifik menjalar hingga wilayah Papua.


โ€œBagian dari El Nino bisa sampai ke Papua, karena ada perluasan kolam hangat atau pemanasan permukaan lautnya,โ€ jelas Erma.


Dia mengingatkan bahwa dampak El Niรฑo tidak selalu identik dengan kekeringan. Dalam beberapa kasus, justru dapat memicu hujan ekstrem hingga banjir di wilayah tertentu.


โ€œBisa juga dampak dari El Nino itu bisa membuat kering. Tapi untuk daerah tertentu, tapi daerah yang lain mungkin juga bahkan bisa banjir,โ€ ujarnya.


Berdasarkan pembaruan dari berbagai lembaga, termasuk NOAA, potensi kemunculan Super El Nino diperkirakan menguat pada pertengahan tahun.


โ€œEl Nino itu prediksi salah satunya dari NOAA, memasuki terutama puncak-puncaknya Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November bahkan mungkin bisa berlanjut gitu,โ€ katanya.


Erma mengatakan bahwa peluang terjadinya Super El Nino mencapai lebih dari 60 hingga 70 persen pada Juni mendatang, dengan fase awal yang kemungkinan dimulai pada Mei.


โ€œMemang kita ini sedang kepanasan dan kapasitas panas yang sangat-sangat banyak di wilayah kita, karena wilayah kita juga banyak terdiri dari laut,โ€ pungkasnya.