Nasional

MBG Disebut Hambat Pengembangan Fasilitas dan Riset Kampus

NU Online  ยท  Rabu, 17 Juni 2026 | 10:00 WIB

MBG Disebut Hambat Pengembangan Fasilitas dan Riset Kampus

Mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Muhammad Zidan Ramdani saat uji materiil Uji Materi UU APBN 2026 dan UU Sisdiknas terhadap UUD 1945 di Ruang Rapat Pleno MK, Jakarta, pada Senin (15/6/2026). (Foto: tangkapan layar kanal Youtube MK)

Jakarta, NU Online

 

Mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (Fidikom) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Muhammad Zidan Ramdani menyebutkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis telah merenggut aspek penting dalam kegiatan belajar mengajar di kampus.

 

Saksi Pemohon Perkara Nomor 52/PUU-XXIV/2026 itu menyatakan, program MBG menghambat dukungan anggaran bagi pengembangan fasilitas pembelajaran yang masih membutuhkan peningkatan. Padahal, perkembangan industri komunikasi, media digital, penyiaran, dan teknologi informasi berlangsung sangat cepat dan membutuhkan dukungan sarana belajar yang memadai.

 

"Berdasarkan aspirasi mahasiswa yang kami terima, masih terdapat berbagai fasilitas pembelajaran yang memerlukan peningkatan kualitas dan pengembangan lebih lanjut," katanya dalam uji materiil Uji Materi UU APBN 2026 dan UU Sisdiknas terhadap UUD 1945 di Ruang Rapat Pleno MK, Jakarta, pada Senin (15/6/2026).

 

"Beberapa di antaranya meliputi modernisasi ruang kelas dan perangkat pembelajaran digital, peningkatan kualitas jaringan internet dan infrastruktur teknologi informasi, penambahan koleksi perpustakaan, jurnal ilmiah berlangganan, serta akses basis data penelitian internasional," sambungnya.

 

Menurutnya, fasilitas pembelajaran perlu terus dikembangkan agar mampu mengikuti pesatnya perkembangan industri komunikasi, sehingga lulusan memiliki daya saing yang memadai.

 

Ia juga menyoroti keterbatasan dukungan anggaran bagi penelitian, pengembangan kompetensi, dan kegiatan kemahasiswaan. Menurutnya, pendidikan tinggi tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai aktivitas mahasiswa yang memerlukan dukungan pendanaan memadai.

 

"Mahasiswa sering menghadapi keterbatasan bantuan penelitian, kompetisi ilmiah, konferensi akademik, program pengabdian masyarakat, pertukaran pelajar, magang, maupun pengembangan inovasi," katanya.

 

Ia menambahkan, tidak sedikit mahasiswa yang cemas akan kesulitan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) sampai menunda studi. Bahkan, ada yang terancam tidak dapat melanjutkan pendidikan, padahal mereka menggantungkan harapan masa depan yang lebih baik melalui pendidikan tinggi.

 

Tidak hanya itu, katanya, berkurangnya akses beasiswa dan meningkatnya beban biaya pendidikan menjadi kekhawatiran banyak mahasiswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga menengah ke bawah.ย 

 

"Bantuan pendidikan bukan hanya instrumen pendukung, melainkan faktor penentu keberlangsungan studi," tegasnya.

 

Selain itu, Zidan mengungkapkan bahwa kesejahteraan dosen memiliki dampak langsung terhadap kualitas pembelajaran yang diterima mahasiswa.ย 

 

Menurutnya, mahasiswa berharap memperoleh proses pembelajaran yang berkualitas dan intensif serta didampingi oleh dosen yang memiliki waktu dan fokus yang cukup untuk menjalankan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.ย 

 

"Namun, dalam praktiknya, mahasiswa sering menghadapi keterbatasan waktu konsultasi akademik, termasuk dalam proses bimbingan tugas akhir, penelitian, maupun pengembangan kompetensi di luar ruang kelas. Situasi tersebut tentu memengaruhi kualitas pengalaman belajar mahasiswa," terangnya.