Nasional MUKTAMAR KE-35 NU

Menelusuri Perjuangan Nyai Shinta Nuriyah, Tak Sekadar Pendamping Gus Dur

NU Online  ยท  Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:40 WIB

Menelusuri Perjuangan Nyai Shinta Nuriyah, Tak Sekadar Pendamping Gus Dur

Bedah buku berjudul Shinta Nuriyah: Merawat Solidaritas Kemanusiaan di Ribath Al-Muhajirin 2 Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jumat (28/8/2026). (Foto: NU Online/Ira Wahyu Wardhani)

Jombang, NU Onlineย 
Nyai Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid bukan sekadar pendamping Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, melainkan seorang pejuang sosial yang memiliki pijakan gerakan mandiri.


Rekam jejak tersebut terungkap dalam bedah buku Shinta Nuriyah: Merawat Solidaritas Kemanusiaan pada kegiatan NU Online Forum di Ribath Al-Muhajirin 2 Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026). Kegiatan ini dalamย rangkaย memeriahkan Muktamarย Ke-35 NU.


Buku karya Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin ini disusun berdasarkan riset mendalam selama delapan tahun. Karya ini menghadirkan ruang refleksi bagi para muktamirin untuk mengenal dari dekat kepemimpinan, pola pengasuhan, hingga konsistensi gerakan kemanusiaan Nyai Shinta.


Syaifullah Amin memaparkan tiga karakter utama yang menjadi penanda kuat sosok Nyai Shinta Nuriyah.ย 


Pertama, konsistensi dalam mejalankan tirakat, seperti puasa sunnah, wirid, dan bacaan kalimat thayyibah. Tirakat ini tidak hanya menjadi amalan pribadi, tetapi juga ikhtiar mendoakan keluarga dan masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.


Kedua, etos kerja keras dan penghargaan terhadap proses yang tertanam sejak kecil, termasuk saat membantu usaha ibunya.


Ketiga, keberpihakan yang kuat terhadap kaum mustadh'afin (kelompok tertindas) dan perempuan.ย 


Kepedulian ini diwujudkan melalui pendirian Yayasan Puan Amal Hayati pada 3 Juli 2000 yang fokus pada pemberdayaan serta penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak.


"Perjalanan perjuangan Nyai Shinta lebih tepat dipahami melalui titik balik sebelum dan sesudah kecelakaan yang dialaminya, bukan semata-mata dibatasi pada fase sebelum atau setelah wafatnya Gus Dur," ujar Amin.


Selain kiprah sosial, buku ini juga mengulas pola pengasuhan Nyai Shinta terhadap anak-anaknya, seperti Alissa Wahid, Yenny Wahid, dan Inayah Wahid. Nilai-nilai kedisiplinan membaca, pendidikan tinggi, tanggung jawab, serta keterbukaan rumah bagi jejaring pertemanan anak menjadi fondasi utama pengasuhan, yang senantiasa diimbangi dengan ikhtiar tirakat dan doa.


Kontributor: Iraย Wahyuย Wardhani