Mengenal KH Anwar Iskandar, Anggota Ahwa Muktamar ke-35 NU di Tambakberas
NU Online · Ahad, 30 Agustus 2026 | 20:08 WIB
Anggota Ahwa terpilih KH Anwar Iskandar di Muktamar ke-35 NU di Tambakberas. (Foto: NU Online/Suwitno).
Nuriel Shiami Indiraphasa
Kontributor
Jombang, NU Online
Nama KH Anwar Iskandar muncul dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Ulama asal Banyuwangi itu terpilih sebagai salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), forum yang beranggotakan ulama dan tokoh NU yang dipercaya untuk menjalankan fungsi khusus dalam organisasi, termasuk memilih Rais Syuriyah.
Keterpilihan tersebut menambah panjang rekam jejak Kiai Anwar di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia kini menjabat Wakil Rais Aam PBNU masa khidmat 2022-2027. Sebelumnya, ia meniti perjalanan organisasi dari tingkat pelajar hingga menduduki sejumlah posisi strategis di NU.
Mengutip NUOnline Kiai Anwar lahir di Berasan, Muncar, Banyuwangi, pada 24 April 1950. Ia tumbuh dalam keluarga pesantren. Ayahnya, KH Iskandar, merupakan pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum. Dari pesantren keluarga itu, kecintaan Anwar terhadap ilmu agama mulai tumbuh. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke sejumlah pesantren di Jawa.
Salah satu fase penting dalam perjalanan keilmuannya berlangsung ketika ia belajar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Di Lirboyo, Kiai Anwar berguru kepada KH Mahrus Ali. Pengalaman belajar tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan intelektual dan spiritualnya sebagai ulama. Pendidikan Kiai Anwar tidak berhenti di lingkungan pesantren. Pada 1970, ia pindah ke Jakarta untuk menempuh pendidikan sarjana Sastra Arab di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Baca Juga
Sembilan Anggota Ahwa Telah Terpilih
Selain di bidang pendidikan, ia juga aktif di organisasi. Pengalaman keorganisasian Kiai Anwar dimulai sejak usia muda. Ia aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Ketika menjadi mahasiswa, ia kemudian bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan terlibat dalam kepengurusan hingga tingkat nasional.
Pengalamannya di organisasi kepemudaan berlanjut ketika ia dipercaya memimpin Gerakan Pemuda Ansor Cabang Kediri selama dua periode.
Karier Kiai Anwar di struktur NU kemudian terus berkembang. Ia pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Kediri dan kemudian dipercaya sebagai Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur. Puncaknya, ia dipercaya menduduki posisi Wakil Rais Aam PBNU untuk masa khidmat 2022-2027. Dalam Muktamar NU ke-35, pengalaman panjang tersebut kembali membawanya ke posisi penting sebagai anggota Ahwa.
Di luar struktur NU, Kiai Anwar juga memiliki peran penting dalam kepemimpinan keagamaan nasional. Ia menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), menggantikan KH Miftachul Akhyar. Anwar kembali dipercaya memimpin MUI untuk periode 2025-2030. Ia terpilih dalam Musyawarah Nasional (Munas) XI MUI pada 22 November 2025 melalui dewan formatur yang dibentuk dalam munas tersebut.
Kiprahnya juga pernah bersinggungan dengan ruang politik dan kenegaraan. Ia terlibat dalam sejumlah peran publik, termasuk di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Kehidupan keluarga Anwar juga tidak terlepas dari tradisi pesantren.
Kiai Anwar menikah dengan Nyai Qoni’atus Zahro, putri KH Sa’id, pengasuh Pondok Pesantren Assa’idiyah Jamsaren, Kediri pada 1975. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai satu putra dan lima putri. Pada 1990, Kiai Anwar menikah kembali dengan Nyai Hj Yayan Handayani asal Bogor. Pernikahan tersebut dikaruniai tiga putra dan satu putri yang kemudian menetap dan turut mengelola Pondok Pesantren Al-Amien.
Terpopuler
1
Sidang Pleno Muktamar NU Sepakati Ketum PBNU Dipilih melalui AHWA
2
Bakal Caketum PBNU Gus Kikin: Siapa Pun yang Terpilih Jadi Ketum, NU Harus Tetap Rukun
3
LPJ PBNU 2021–2026 Diterima Aklamasi, Gus Yahya Sampaikan Terima Kasih dan Minta Maaf
4
Dijual Setan Muktamar
5
Gus Yusuf Maju sebagai Caketum PBNU, Klaim Tak Langgar AD-ART NU
6
Gus Yahya Minta Massa Pendukung Gus Yusuf Tenang: Potensi Besar Harus Tetap Diakomodasi untuk NU
Terkini
Lihat Semua