NU Jangan Terkooptasi Kekuasaan, Harus Jadi Pengarah Perubahan
NU Online · Kamis, 27 Agustus 2026 | 20:05 WIB
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Husein Muhammad atau Buya Husein (Foto: Haekal Attar/NU Online)
Haekal Attar
Penulis
Jombang, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Husein Muhammad atau Buya Husein mengatakan bahwa NU memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan bangsa Indonesia.
Buya Husein menyampaikan hal tersebut usai Pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, NU perlu merumuskan kebijakan-kebijakan baru yang dapat mendorong perubahan ke depan dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan.
"Saya juga ingin mengatakan, jangan terkooptasi oleh kekuasaan karena NU bagaikan ruh bagi negara ini. Jadi, NU lah yang harus mengarahkan negara ini. Tidak boleh terkooptasi itu," tegasnya.
Buya Husein menekankan pentingnya peran ulama dalam mengawal perubahan bangsa agar tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.
"Itu fungsi ulama salah satunya, ulama dimana-mana fungsinya adalah memberi ruh perubahan pada prinsip-prinsip kemanusiaan," tegasnya.
Sebelumnya, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa keterbelakangan ekonomi dan kebodohan menjadi faktor utama yang dapat menghambat kekuatan amar ma'ruf nahi munkar dan kemunduran umat Islam saat ini.
"Sesungguhnya penyebab utama yang menghambat kekuatan umat untuk menjalankan amar ma'ruf nahi munkar serta menegakkan ajaran Islam adalah kemiskinan dan kelemahan di berbagai bidang, khususnya dalam bidang ekonomi," jelasnya.
Kiai Miftach menambahkan bahwa selain lemahnya ekonomi, kemunduran umat akan kian nyata saat kebodohan (al-jahlu) dibiarkan merebak di kalangan masyarakat.
"Di antara faktor terbesar kemunduran yang telah diperingatkan Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah merebaknya kebodohan (al-jahlu). Dampaknya sungguh berbahaya, hingga sebagian orang tidak lagi mampu membedakan mana perkara yang berharga dan mana yang merusak, bahkan menerima argumen palsu (sufshathah) sebagai sebuah kenyataan," tegas Kiai Miftach.
Sementara itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memberikan penghormatan kepada para kiai, khususnya kiai kampung, yang selama ini memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat.
Prabowo menilai para kiai kampung telah menjalankan pengabdian yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Mereka mengajari anak-anak belajar mengaji, membimbing kehidupan keagamaan, menjaga kerukunan antarumat, sekaligus merawat kedamaian di tengah masyarakat desa.
"Terima kasih kepada ulama khususnya kiai kampung yang telah mengajari anak anak kita, menjaga kerukunan antar umat dan kedamaian di desa," terangnya.
Terpopuler
1
Para Kiai Sepuh Sarankan Presiden Prabowo Tindak Tegas Pejabat yang Ikut Campur Muktamar Ke-35 NU
2
Ini Jadwal Lengkap Agenda Muktamar ke-35 NU di Tambakberas Jombang
3
Muktamar Ke-35 NU Dibuka Kamis 27 Agustus Pukul 15.00 WIB oleh Presiden Prabowo
4
KH Ma’ruf Amin: Calon Ketua Umum PBNU Harus Punya Kapasitas Manajerial dan Teknokratis
5
Anjuran Merayakan Maulid Nabi Muhammad dan Dalil-Dalilnya
6
Muktamar NU: Absennya Tema Besar dan Agenda Kerakyatan
Terkini
Lihat Semua