Nasional

Ormas Islam Perlu Ubah Strategi Dakwah Agar Gen Z Tak Makin Jauh dari Agama

NU Online  ยท  Ahad, 26 Juli 2026 | 20:00 WIB

Ormas Islam Perlu Ubah Strategi Dakwah Agar Gen Z Tak Makin Jauh dari Agama

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi pada Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) di Hotel Bidakara Jakarta Selatan, Pada Ahad (26/7/2026). (Foto: NU Online/Suci)

Jakarta, NU Online

Generasi Z (Gen Z) memiliki tingkat religiusitas yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini perlu menjadi perhatian para ulama dan organisasi keagamaan, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Temuan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) di Hotel Bidakara Jakarta Selatan, Pada Ahad (26/7/2026).


"Berdasarkan data riset yang dikeluarkan, dua hingga tiga juta data riset yang dikumpulkan sejak 1999, saya menemukan pola yang menunjukkan bahwa Generasi Z, yakni mereka yang lahir pada rentang 1981 hingga 1997, cenderungย kurang religius dibandingkan generasi yang lebih tua," kata Burhanudin.


Menurutnya, tingkat religiusitas tersebut diukur melalui berbagai indikator. Pertama, religiusitas dilihat dari seberapa sering seseorang menjadikan agama sebagai dasar dalam mengambil keputusan.ย 


"Gen Z sekarang semakin jarang menggunakan agama dalam mengambil keputusan," kata Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.


Kedua, aktivitas dalam organisasi keagamaan. Burhan menjelaskan, dibandingkan generasi sebelumnya, Gen Z kini lebih banyak terlibat dalam organisasi berbasis hobi atau komunitas, seperti K-Pop, daripada organisasi keagamaan.


"Gen Z itu sekarang lebih banyak aktif di organisasi seperti hobi, K-Pop. Sementara responden yang lebih tua umumnya aktif di majelis taklim, NU, HMI, PMII, IMM. Gen Z kita makin jarang yang aktif di organisasi-organisasi semacam ini," ujarnya.


Selain itu, survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia juga menunjukkan bahwa Gen Z semakin kurang percaya terhadap otoritas maupun hierarki. Menurutnya, kecenderungan tersebut dilihat dari munculnya berbagai fenomena sosial yang kini berkembang seperti fenomena tidak menikah dan childfree (tidak mau punya anak).


"Gen Z dalam survei-survei kita makin kurang percaya terhadap otoritas atau hierarki. Dan itu mungkin menjelaskan mengapa mereka punya pandangan untuk tidak menikah. Kalaupun menikah, mereka enggak mau punya anak atau memilih childfree," jelasnya.


Ia juga menyinggung fenomena yang sebelumnya disampaikan Menteri Agama mengenai peningkatan kasus pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan di sejumlah kota.


"Termasuk fenomena kumpul kebo. Di beberapa kota, ditemukan banyak anak yang didaftarkan ke sekolah tanpa NIK karena mereka lahir tanpa melalui lembaga pernikahan," katanya.


Menurut Burhanuddin, fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga merupakan tren global yang terjadi di dunia.


"Jadi, ada satu fenomena yang menarik, yang ketika saya lihat secara komparatif, itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Ini terjadi di seluruh dunia," ujarnya.


Ia kemudian merujuk pada tesis dan temuan riset sosiologis The Decline of Religion karya Ronald Inglehart dan Pippa Norris yang membahas penurunan peran agama di berbagai negara.


"Jadi, bukan hanya Islam yang mengalami kemerosotan, tetapi banyak agama di seluruh dunia yang disebabkan oleh lahirnya generasi baru," ungkapnya.


Burhanuddin menjelaskan bahwa Generasi Z lahir dalam situasi dunia yang relatif lebih aman sehingga lebih mengedepankan ekspresi diri dan cenderung kurang mempercayai otoritas maupun hierarki.


"Nah, otoritas dan hierarki ini biasanya adalah agama. Jadi ini yang menjelaskan mengapa banyak gereja yang tutup di negara-negara Barat," tuturnya.


Oleh karena itu, ia menilai MUI dan organisasi-organisasi keagamaan perlu memberi perhatian serius terhadap tren tersebut dengan menyiapkan mitigasinya. Jika tidak ada Langkah ke arah sana, ia khawatir organisasi keagamaan akan ketinggalan zaman.


Misalnya, lanjut Burhan, terkait dengan pola dakwah keagamaan, organisasi keagamaan perlu menyesuaikan diri dengan karakteristik Generasi Z agar tetap mampu menjangkau mereka.


"Jadi, saya kira mimbar agama sudah berubah. Dakwah keagamaan harus kita modifikasi sesuai dengan perkembangan Gen Z supaya Gen Z tidak makin jauh dari agama," katanya.