Nasional

Pemulihan Fisik dan Psikologis Anak Korban Keracunan MBG Harus Jadi Prioritas

NU Online  ·  Sabtu, 5 September 2026 | 18:00 WIB

Pemulihan Fisik dan Psikologis Anak Korban Keracunan MBG Harus Jadi Prioritas

Menteri PPPA Arifa Fauzi mengunjungi korban keracunan MBG di Sidoarjo. (Foto: Kemenpppa)

Jakarta, NU Online

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi bersama Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Trenggono dan perwakilan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) meninjau kondisi anak-anak yang masih menjalani perawatan pascakejadian keracunan makanan di RSUD R.T. Notopuro, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (5/9/2026).


Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan anak sekaligus memastikan proses pemulihan berjalan dengan baik.


Berdasarkan hasil pemantauan di rumah sakit, kondisi anak-anak yang masih menjalani perawatan terus membaik. Sebagian anak telah diperbolehkan pulang setelah menjalani penanganan dan observasi medis, sementara anak yang masih dirawat terus mendapatkan pemantauan dari tenaga kesehatan.


Menteri PPPA Arifah Fauzi menegaskan bahwa pemulihan anak perlu menjadi perhatian utama setelah penanganan medis dilakukan. Selain memastikan kondisi fisik, pendampingan psikologis juga perlu diberikan sesuai kebutuhan masing-masing anak, termasuk bagi anak yang mengalami trauma pascakejadian.


“Yang paling penting sekarang adalah memastikan anak-anak dalam kondisi sehat dan merasa aman. Setelah kondisi fisiknya membaik, kita juga perlu memastikan kondisi psikologisnya. Jika ada anak yang membutuhkan pendampingan, termasuk trauma healing, kami siap berkoordinasi dan berkolaborasi agar anak-anak dapat kembali beraktivitas dan belajar dengan nyaman,” kata Arifah dalam keterangannya yang diterima NU Online.


Arifah juga menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dalam proses pemulihan anak. Menurutnya, anak perlu mendapatkan rasa aman dan dukungan yang cukup agar dapat kembali menjalani aktivitas di sekolah maupun pesantren tanpa rasa takut atau khawatir.


“Pemulihan tidak berhenti ketika anak sudah dinyatakan sehat secara medis. Kita perlu memastikan anak dan keluarganya mendapatkan dukungan yang dibutuhkan, sehingga anak dapat kembali ke lingkungan sekolah dan pesantren dengan rasa aman dan nyaman,” ujar Arifah.


Evaluasi Penanganan

Senada dengan Arifah, Wakil Kepala BGN Trenggono menyampaikan bahwa kondisi anak-anak yang masih menjalani perawatan semakin membaik dan sebagian telah diperbolehkan pulang.


“Sudah kita cek langsung, anak-anak dalam kondisi baik dan sebagian sudah siap untuk pulang. Kami juga terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan SOP untuk memastikan hal-hal yang perlu diperbaiki dapat segera ditindaklanjuti,” ujar Trenggono.


Arifah mengatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, pihak pesantren dan sekolah, serta pihak terkait lainnya untuk memastikan proses pemulihan anak dan keluarga berjalan sesuai kebutuhan.


Pendampingan psikologis, termasuk trauma healing apabila diperlukan, menjadi bagian dari upaya memastikan anak dapat kembali menjalani aktivitas secara aman dan nyaman.


“Pemulihan anak menjadi bagian penting dalam penanganan kejadian ini. Dengan memastikan kesehatan, rasa aman, dan dukungan yang dibutuhkan anak serta keluarga, proses pemulihan diharapkan dapat berjalan secara menyeluruh dan anak dapat kembali tumbuh, belajar, dan beraktivitas dengan nyaman,” tandasnya.