Nasional

Perang Iran Versus Amerika-Israel Guncang Energi Global, Indonesia Terancam Krisis BBM dan Inflasi

NU Online  ·  Sabtu, 14 Maret 2026 | 20:30 WIB

Perang Iran Versus Amerika-Israel Guncang Energi Global, Indonesia Terancam Krisis BBM dan Inflasi

Manager Director Energy Shift, Putra Adhiguna saat Diskusi Media bertema Perang Iran-AS-Israel dan Ancaman Krisis Energi Indonesia di Jakarta, Kamis (12/3/2026). (Foto: dok panitia)

Jakarta, NU Online

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi mengguncang stabilitas energi global. Ketergantungan banyak negara terhadap bahan bakar fosil membuat gejolak di kawasan tersebut tidak hanya berdampak pada sektor energi dunia, tetapi juga dapat memicu inflasi dan tekanan ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia.


Manager Director Energy Shift, Putra Adhiguna menilai masyarakat sangat bergantung pada energi fosil dalam kehidupan sehari-hari. Ketergantungan itu terlihat dari penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak hingga kompor rumah tangga yang masih mengandalkan gas.

 

“Banyak dari kita berinteraksi dengan fosil setiap hari, baik melalui kendaraan yang masih menggunakan bahan bakar minyak maupun kompor yang ditenagai gas. Jika suplai energi itu terhenti, masyarakat akan sangat kesulitan dan inflasi bisa terjadi,” ujarnya saat Diskusi Media bertema Perang Iran-AS-Israel dan Ancaman Krisis Energi Indonesia di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

 

Ia menjelaskan sekitar 20 persen suplai minyak dunia melewati kawasan Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi global.

 

“Ketika konflik meningkat dan distribusi energi terganggu, dampaknya dapat menyebar ke berbagai negara yang bergantung pada pasokan minyak, apalagi Indonesia masih bergantung dengan minyak dari daerah Timur,” katanya.

 

Senada, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudistira mengungkapkan Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap guncangan energi global karena konsumsi bahan bakar minyak masih sangat besar, terutama di sektor transportasi.

 

“Transportasi menjadi salah satu konsumen BBM terbesar di Indonesia. Memang ada kemajuan, misalnya konversi sekitar 3.000 barel per hari, tetapi jalan menuju kemandirian energi masih sangat panjang,” ujarnya.


Menurutnya, konflik berkepanjangan di Timur Tengah juga dapat memicu tekanan terhadap stabilitas ekonomi nasional.


Bhima mengatakan bahwa kondisi ekonomi Indonesia sebenarnya sudah berada di fase rentan menuju resesi teknikal.

 

“Kalau krisis ini berkelanjutan dan menjalar ke berbagai kawasan, stabilitas ekonomi akan terancam. Ekonomi Indonesia bahkan bisa mendekati jurang resesi, terutama jika tekanan terjadi pada kuartal kedua,” ujarnya.


Ia mengatakan bahwa rencana pemerintah memperpanjang cadangan penyimpanan bahan bakar minyak hingga tiga bulan justru meningkatkan impor energi.

 

“Storage BBM kita yang semula hanya cukup untuk 20 sampai 23 hari akan diperpanjang menjadi tiga bulan. Artinya impor minyak akan semakin besar, apalagi jika harga minyak sudah menyentuh 100 dolar AS per barel,” katanya.

 

Sementara itu, Climate and Energy Manager Greenpeace, Iqbal Damanik menegaskan dampak konflik energi global tidak hanya terasa pada sektor industri, tetapi juga langsung menyentuh kehidupan rumah tangga.

 

“Perang di Iran yang melibatkan Amerika dan Israel tidak hanya berdampak secara regional atau antarnegara, tetapi juga sampai ke dapur masyarakat,” ujarnya.

 

Iqbal mengungkapkan bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan rendah akan menjadi pihak yang paling merasakan dampak kenaikan harga energi dan inflasi.

 

“Ketika harga energi naik dan ekonomi terguncang, yang pertama kali merasakan dampaknya adalah masyarakat yang berada di garis kemiskinan,” ujarnya.