Persoalan Pangan Bukan Hanya Produksi, tetapi Juga Keterjangkauan
NU Online ยท Sabtu, 14 Maret 2026 | 17:00 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Persoalan pangan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan produksi, tetapi juga menyangkut keterjangkauan harga serta akses masyarakat terhadap pangan di berbagai daerah.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Lembaga Riset Internasional Pembangunan Sosial, Ekonomi, dan Kawasan IPB University, Profย Widyastutikย dalam diskusi publik Gejolak Harga Pangan Ramadhan 2026 dan Kondisi Produksi Nasionalย yang diselenggarakan Serikat Petani Indonesia (SPI), Kamis (12/3/2026).
Menurut Widyastutik, ketersediaan pangan secara nasional tidak otomatis menjamin masyarakat dapat mengaksesnya dengan mudah.
โKetersediaan pangan bisa saja ada, tetapi persoalannya adalah apakah pangan tersebut benar-benar terjangkau oleh masyarakat. Barangnya ada, tetapi masyarakat tidak mampu menjangkaunya. Di sini peran pemerintah menjadi penting untuk memastikan pangan tetap terjangkau bagi seluruh masyarakat,โ ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kondisi harga pangan dapat berbeda-beda di setiap daerah karena dipengaruhi oleh faktor daya beli serta tantangan distribusi.
โDi beberapa wilayah seperti Papua, tantangan logistik membuat indeks keterjangkauan pangan relatif lebih rendah dibandingkan daerah lain. Artinya, persoalan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga bagaimana distribusi dan akses masyarakat terhadap pangan tersebut,โ tambahnya.
Selain itu, Widyastutik menilai kenaikan harga pangan pada bulan Ramadhan memang sering terjadi karena peningkatan permintaan masyarakat.
โSebagian kenaikan harga menjelang Ramadan memang merupakan konsekuensi logis dari meningkatnya permintaan. Namun karena pola ini terjadi berulang, hal ini menunjukkan perlunya perbaikan secara sistemik dalam kebijakan stabilisasi pangan,โ kata Widyastutik.
Ia juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku pupuk yang masih cukup tinggi, sehingga sektor pertanian rentan terhadap gangguan rantai pasok global.
Menurutnya, kebijakan stabilisasi harga pangan selama ini masih cenderung bersifat reaktif dan bersifat sementara.
โIntervensi kebijakan sering kali bersifat reaktif, sporadis, dan sementara. Ke depan diperlukan pendekatan yang lebih preventif, dengan memastikan ketersediaan stok serta instrumen stabilisasi harga yang memadai baik di tingkat pusat maupun daerah. Pemerintah perlu memastikan stabilisasi harga pangan tidak hanya dilakukan saat terjadi gejolak, tetapi juga melalui upaya mitigasi risiko yang lebih sistematis,โ pungkasnya.
Baca Juga
Anjuran Islam Terhadap Ketahanan Pangan
Terpopuler
1
2.500 Alumni Ikuti Silatnas Iktasa di Istiqlal Jakarta, Teguhkan 3 Fungsi Utama Pesantren
2
Akademisi Soroti Gejala Pembusukan Demokrasi yang Kian Sistematis Sejak Era Jokowi ke Prabowo
3
Savic Ali Kritik Arah Kebijakan Pemerintah yang Sentralistik, Jauh dari Kepentingan Rakyat Kecil
4
Bahaya Tidur Berlebihan: 8 Dampak Buruk bagi Kesehatan Menurut Imam Munawi
5
Perundingan AS-Iran Gagal, Ketum PBNU dan Paus Leo XIV Ajak Seluruh Umat Wujudkan Perdamaian
6
YLBHI: HAM Diabaikan, Warga yang Kritik Pemerintah Tak terlindungi
Terkini
Lihat Semua