Presiden Prabowo Akui Kiai dan Ulama adalah Tokoh Paling Dekat dengan Rakyat
NU Online · Selasa, 23 Juni 2026 | 15:30 WIB
Presiden Prabowo Subianto di penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Institut Agama Islam Sayyidina Kholil, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). (Foto: NU Online/Suwitno0
Haekal Attar
Penulis
Bangkalan, NU Online
Presiden Prabowo Subianto menilai para kiai dan ulama dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan tokoh yang paling dekat dengan rakyat. Menurutnya, kedekatan para kiai dan ulama dengan masyarakat menjadikan mereka memahami kondisi yang dihadapi rakyat dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu disampaikannya dalam penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Institut Agama Islam Sayyidina Kholil, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026) siang.
"Para kiai dan para ulama, menurut saya, adalah tokoh-tokoh yang paling dekat dengan rakyat, apalagi dengan rakyat di pedesaan. Karena itu, para kiai dan para ulama paham dan mengerti apa yang dirasakan rakyat. Para kiai dan ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat di bawah," katanya.
Selain kiai dan ulama, katanya, antara pemerintah, TNI, dan kepolisian juga sesungguhnya memahami apa yang dirasakan rakyat. "Karena itu, ulama, pemerintahan, tentara, dan kepolisian sesungguhnya paham dan mengerti perasaan rakyat," ujarnya.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menyatakan bahwa sumpah jabatan yang diucapkannya pada 20 Oktober 2024 dalam menjalankan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjadi tanggung jawab yang harus dijalankan secara sungguh-sungguh.
"Saya disumpah untuk menjalankan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan segala peraturan perundang-undangan yang berlaku. Saya disumpah, saya harus menjalankannya," katanya.
Indonesia Perlu Lebih Terbuka Menghadapi Persoalan Negara
Pada kesempatan itu, Presiden Prabowo juga menyampaikan bahwa pemerintah perlu berbicara secara terbuka mengenai berbagai persoalan yang dihadapi bangsa. Ia menilai, selama ini masih terdapat kecenderungan untuk tidak mengungkapkan kondisi yang sebenarnya.
"Kita tidak perlu pura-pura, kita tidak perlu bicara manis-manis karena memang sering bangsa Indonesia suka bicara yang manis-manis di depan. Kita kadang tidak mau bicara apa adanya," katanya.
Ia menemukan adanya berbagai penyimpangan yang selama ini dibiarkan setelah mempelajari berbagai data dan fakta sejak menjabat sebagai presiden,
"Penyimpangan-penyimpangan ini, menurut keyakinan saya, inilah yang membuat bangsa kita berada dalam keadaan sekarang," katanya.
Kekayaan Negara Mengalir ke Luar Negeri
Ia juga menyoroti banyaknya kekayaan negara yang hilang dan tidak sepenuhnya dinikmati oleh rakyat. Menurutnya, sebagian kekayaan bangsa justru dinikmati oleh segelintir pihak.
"Bahkan, kekayaan tersebut terlalu banyak mengalir ke luar negeri dan tidak tinggal di Indonesia," terangnya.
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
5
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua