Nasional MUKTAMAR KE-35 NU

PTNU Didorong Perkuat Budaya Riset dan Kontribusi bagi Kemajuan Bangsa

NU Online  ยท  Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:00 WIB

PTNU Didorong Perkuat Budaya Riset dan Kontribusi bagi Kemajuan Bangsa

Mendiktisaintek Prof Brian Yuliarto saat Forum Silaturahmi PCINU & Halaqah Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama. (Foto: NU Online/ Habib)

Jombang, NU Onlineย 

 

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Prof Brian Yuliarto mendorong Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) mengambil peran lebih besar dalam mendorong kemajuan bangsa melalui penguatan riset, pengembangan teknologi, dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

 

Penegasan tersebut disampaikan dalam acara Forum Silaturahmi PCINU & Halaqah Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama. Kegiatan dalam memeriahkan Muktamar ke-35 NU ini dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Muhajirin III Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).ย 

 

Menurut Brian, perkembangan teknologi yang berlangsung secara cepat menuntut perguruan tinggi berada di garis depan dalam menghadapi perubahan. Ia menilai PTNU memiliki modal besar untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.ย 

 

โ€œModal tersebut tidak hanya berasal dari keberadaan perguruan tinggi, tetapi juga didukung oleh jaringan pendidikan NU yang luas, basis masyarakat yang kuat, serta jaringan alumni dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) yang tersebar di berbagai negara,โ€ ujarnya.ย 

 

Menurutnya, jejaring tersebut perlu ditransformasikan menjadi kekuatan ilmu pengetahuan yang mampu memperluas kerja sama akademik dan riset di tingkat nasional maupun internasional.

 

โ€œAlumni dan PCINU dapat menjadi jembatan yang mempertemukan perguruan tinggi di Indonesia dengan universitas di berbagai negara,โ€ ucapnya.ย 

 

Ia mendorong agar kerja sama tersebut diwujudkan dalam program yang konkret, bukan berhenti pada hubungan kelembagaan. Bentuk kolaborasi dapat dilakukan melalui pertukaran dosen, penelitian bersama, pengembangan teknologi, penguatan laboratorium, hingga hilirisasi hasil penelitian.

 

Selain memperkuat riset dan jejaring global, Brian menilai PTNU dapat mengambil peran strategis dalam membangun ekosistem industri halal berbasis sains dan teknologi.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dalam industri halal yang perlu dikembangkan lebih jauh agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk halal.ย 

 

โ€œTetapi juga mampu menghasilkan teknologi, inovasi, dan industri yang memiliki daya saing di tingkat global,โ€ tegasnya.ย 

 

Ia menilai perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam pengembangan industri halal karena memiliki kapasitas riset dan sumber daya akademik. PTNU dapat berkontribusi melalui penelitian di bidang pangan, kosmetik, farmasi, serta bidang lain yang berkaitan dengan industri halal.

 

โ€œMakanya, perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui riset pangan, kosmetik dan lainnya, hingga pengembangan standar dan penjaminan produk halal,โ€ ujar Brian.

 

Karena itu, ia berharap Halaqah Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama tidak hanya menghasilkan gagasan, tetapi juga melahirkan langkah-langkah konkret yang dapat dijalankan secara berkelanjutan. Menurutnya, penguatan PTNU membutuhkan sinergi berbagai pihak, terutama perguruan tinggi, jejaring PCINU, dan pemerintah.ย 

 

โ€œKolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan program yang memperkuat kapasitas riset, inovasi teknologi, serta pengembangan industri yang memberikan manfaat bagi masyarakat,โ€ ungkapnya.ย 

 

โ€œMari kita bangun perguruan tinggi NU yang semakin kuat dalam riset, semakin luas dalam jejaring global, dan semakin besar kontribusinya bagi masyarakat,โ€ ajak Brian.

 

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Prof Kamaruddin Amin menilai perguruan tinggi memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter keberagamaan sekaligus menentukan kualitas dan arah perjalanan sebuah bangsa. Karena itu, PTNU didorong untuk tidak hanya berfokus pada pendidikan dan penelitian, tetapi juga mengambil peran dalam menjawab berbagai persoalan kebangsaan.

 

โ€œKarakteristik keberagamaan suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dari kontribusi perguruan tinggi dan lembaga pendidikan yang berkembang di negara tersebut,โ€ tegasnya.ย 

 

Ia mencontohkan karakteristik keberagamaan Arab Saudi yang banyak dipengaruhi oleh tradisi keilmuan perguruan tinggi Islam yang berkembang di negara tersebut, seperti Universitas Islam Madinah dan Universitas Umm Al-Qura.

 

โ€œArtikulasi keberagamaan sebuah bangsa itu juga tidak bisa dipisahkan dari kontribusi karakteristik kampus atau lembaga pendidikan di negara tersebut. Misalnya, kenapa kita kenal Saudi Arabia itu memiliki karakteristik artikulasi keberagamaan yang agak salafi, karena di situ ada Universitas Madinah, Ummul Quro, dan perguruan tinggi lainnya,โ€ ujarnya.

 

Hal serupa, menurutnya, dapat dilihat di Iran. Karakteristik keberagamaan masyarakat Iran yang kuat dengan paham Syiah juga tidak terlepas dari keberadaan lembaga pendidikan yang menjadi pusat pengembangan keilmuan dan pemikiran keagamaan, termasuk Universitas Internasional Al-Mustafa.

 

โ€œKenapa Iran sangat kokoh dalam paham Syiah? Karena di sana ada Universitas Internasional Al-Mustafa dan kampus-kampus lainnya,โ€ katanya.

 

Dalam konteks Indonesia, ia menilai karakter keberagamaan yang moderat dan wasathiyah juga memiliki hubungan erat dengan peran perguruan tinggi, pesantren, dan organisasi kemasyarakatan keagamaan. Keberadaan lembaga-lembaga tersebut turut membentuk tradisi keilmuan dan corak keberagamaan masyarakat Indonesia yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan kehidupan bersama.

 

โ€œKenapa Indonesia yang memiliki karakteristik dan artikulasi keberagamaan yang sangat moderat, sangat wasathiyah, juga tidak bisa dilepaskan dari kontribusi perguruan tinggi, pondok pesantren, dan organisasi kemasyarakatan keagamaan,โ€ pungkasnya.

 

Kontributor: A Habiburrahman