Nasional MUKTAMAR KE-35 NU

RMI PBNU Gelar Majelis Nasyrus Sanad, Lestarikan Wirid KH Abdul Wahab Chasbullah

NU Online  ·  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 14:00 WIB

RMI PBNU Gelar Majelis Nasyrus Sanad, Lestarikan Wirid KH Abdul Wahab Chasbullah

Majelis Nasyrus Sanad Ijazah Kubro Kitab Bahrul Asrar, serta wirid dan hizib KH Abdul Wahab Chasbullah di Pesantren Annajiyah 1 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jumat (28/8/2026). (Foto: dok RMI PBNU)

Jombang, NU Online
Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Majelis Nasyrus Sanad Ijazah Kubro Kitab Bahrul Asrar, serta wirid dan hizib KH Abdul Wahab Chasbullah di Pondok Pesantren (PP) Annajiyah 1 Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026) malam.


Putri sulung KH Abdul Wahab Chasbullah, Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid menyampaikan bahwa, wirid dan doa peninggalan para ulama merupakan kekayaan rohani yang perlu dijaga karena sebagian tradisi tersebut mulai jarang ditemukan di sejumlah pesantren.


“Ini merupakan kekayaan rohani yang harus kita jaga,” ujarnya.


Ia menjelaskan, kumpulan wirid yang tersimpan tersebut tidak hanya berasal dari KH Abdul Wahab Chasbullah, tetapi juga menghimpun ijazah dari sejumlah ulama, di antaranya KH Hamid, KH Kholil, dan KH Abdul Rahim.


“Memang kumpulan di sini ada semuanya. Dari ijazahnya Kiai Hamid, Kiai Kholil, Abdul Rahim, Kiai Wahab, itu semua terkumpul,” tuturnya.


Nyai Hj Machfudhoh juga mengenang kebiasaan Mbah Wahab ketika mempersiapkan berbagai materi untuk menjalankan tugas kenegaraan. Ia masih mengingat sosok sang ayah yang tekun membaca kitab tafsir dan fikih, guna menyiapkan bahan sebelum berangkat ke Jakarta.


“Beliau kalau ngetik itu di depannya kitab-kitab. Yang dipegang itu tafsir, fikih dan beberapa kitab yang beliau butuhkan,” ujarnya.


Nyai Machfudhoh juga mengungkapkan salah satu wirid yang diberikan langsung oleh Mbah Wahab kepadanya yakni Burdah karya Imam Al-Bushiri.


Mbah Wahab pernah menceritakan kepadanya tentang pengalaman bertemu Imam Al-Bushiri dalam mimpi dan mendengar dua bait dari Burdah. Hal itulah menjadi salah satu latar belakang Mbah Wahab dalam mengamalkan bagian tertentu dari dua wirid.


“Pada saat itu memang Abah mimpi ketemu Imam Al-Busyiri dengan dua bait yang didengar oleh Abah,” ungkapnya.


Menurutnya, pesan itu menunjukkan kuatnya keyakinan para ulama terhadap keberkahan amalan yang diwariskan melalui sanad. RMI PBNU berupaya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan pesantren, bahwa ijazah tidak hanya menjadi legitimasi untuk mengamalkan suatu wirid, tetapi juga menjadi penghubung antara generasi sekarang dengan para ulama.


Ia berharap ijazah yang diberikan dalam majelis dapat memberikan manfaat dan terus diamalkan oleh Nahdliyin. “Mudah-mudahan bermanfaat ijazah yang disampaikan,” pungkasnya.


Kontributor: Septy Aisah