Semarak Muktamar ke-35, NU Online Kenalkan Kerja Redaksi dan Buka Peluang Jadi Kontributor
NU Online · Sabtu, 29 Agustus 2026 | 18:03 WIB
Direktur NU Online Hamzah Sahal (keempat dari kiri) bersama awak redaksi NU Online (Foto: Indi/NU Online)
Nuriel Shiami Indiraphasa
Kontributor
Jombang, NU Online
Dari kegelisahan melihat jarak antara elite dan warga Nahdlatul Ulama, NU Online lahir sebagai media. Dua puluh tiga tahun kemudian, media tersebut berkembang menjadi media multiplatform dengan jangkauan puluhan juta pengguna. Perjalanan itu dibagikan kepada puluhan peserta dalam "NU Online Forum" di Jombang, Jawa Timur.
Forum bertajuk “Belajar Jurnalistik, Mengenal Alur Kerja Redaksi, dan Membuka Peluang Menjadi Bagian dari Kontributor NU Online” itu digelar di MTs Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Sabtu, (29/8/2026). Sebanyak 86 peserta mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian menyemarakkan Muktamar ke-35 NU tersebut.
Forum NU Online menjadi ruang untuk memperkenalkan kerja redaksi dan membuka peluang bagi masyarakat yang ingin terlibat sebagai kontributor. Sejumlah pengelola NU Online hadir sebagai narasumber, antara lain Direktur Utama NU Online Hamzah Sahal, Direktur NU Online Institute Ahmad Mundzir, Pemimpin Redaksi Ivan Aulia Ahsan, Redaktur Eksekutif Mahbib Khoiron, Redaktur Pelaksana Warta Fathoni, Redaktur Warta Muhammad Syakir Niamilah Fiza, Redaktur Pelaksana Keislaman Alhafiz Kurniawan dan Redaktur Keislaman Amien Nurhakim.
Direktur Utama NU Online Hamzah Sahal mengatakan media tersebut sejak awal dibangun oleh orang-orang yang memiliki keahlian sekaligus kegelisahan terhadap publikasi di lingkungan NU. Kegelisahan itu salah satunya muncul dari jarak yang lebar antara pimpinan organisasi dan jamaah.
“NU Online adalah laboratorium kecil di mana gagasan itu dihidupkan di lingkungan Nahdlatul Ulama,” kata Hamzah.
Menurut Hamzah, salah satu cara menjembatani jarak tersebut adalah menghadirkan media yang memungkinkan gagasan para tokoh NU dibaca oleh masyarakat luas. Ia mencontohkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang sepanjang hidupnya terus menulis untuk menyebarkan gagasan.
Hamzah mengatakan perjalanan NU Online ditopang empat hal, yakni sumber daya manusia, kesinambungan, jaringan, dan bisnis. Menurut dia, NU Online bukan media yang baru, melainkan telah hadir selama 23 tahun.
“NU Online adalah wajah terakhir Nahdlatul Ulama yang membawa bendera kiai, pesantren, Nahdlatul Ulama di lautan digital,” ujarnya.
Pemimpin Redaksi NU Online Ivan Aulia Ahsan mengatakan usia panjang tersebut membuat NU Online harus terus berinovasi. Menurut dia, sebuah institusi akan stagnan apabila tidak melakukan pembaruan. Ia menyebut NU Online berdiri sebagai media siber hanya beberapa tahun setelah sejumlah media digital besar di Indonesia.
“NU Online sebagai media siber Indonesia itu sudah sangat senior,” kata Ivan.
Menurut Ivan, perkembangan pengelolaan korporasi juga berpengaruh terhadap profesionalisasi pengelolaan redaksi. Redaksi tidak dapat berhenti beradaptasi ketika pola konsumsi informasi masyarakat terus berubah.
Redaktur Eksekutif NU Online Mahbib Khoiron mengatakan NU Online pada awalnya lahir sebagai portal berita. Namun, media tersebut kemudian berkembang ke berbagai platform, mulai dari media sosial, aplikasi, NU Online Institute, hingga NUO Kids. Dari satu platform, NU Online kini menjadi media multiplatform.
Berdasarkan laporan 2025 yang disampaikan Mahbib, NU Online mencatat sekitar 2 miliar view dalam setahun.
Perubahan tersebut, kata Mahbib, juga menunjukkan pergeseran orientasi media. Jika pada masa awal NU Online lebih berpusat pada organisasi, kini pendekatannya lebih berorientasi pada audiens.
“Dari yang awalnya organisasi-sentris sekarang audiens-sentris,” ujar Mahbib.
Perkembangan media digital tersebut tetap membutuhkan penulis. Redaktur Pelaksana NU Online Fathoni mengatakan kemampuan jurnalistik merupakan keterampilan yang harus terus dipelajari. Namun, sebelum mempelajari teknik menulis, seseorang perlu memiliki gairah untuk menulis.
“Untuk bisa menulis itu kita harus punya gairah terlebih dahulu. Ini sebuah keterampilan yang harus dipelajari,” kata Fathoni.
Menurut dia, media tidak hanya berkembang melalui teknologi dan produk baru. Kontribusi penulis tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan media.
Salah seorang peserta, Farida (27), guru asal Gresik, mengaku tertarik mengikuti Forum NU Online karena telah lama menjadi pembaca dan penonton produk-produk NU Online. Ia mengaku kerap menggunakan aplikasi NU Online dan mengikuti program Menjadi Indonesia.
Bagi Farida, menjadi penulis NU Online memiliki prestise tersendiri. Ia menilai proses seleksi yang ketat membuat penulis NU Online dituntut memiliki otoritas dalam bidang yang ditulis.
“NU Online itu menjadi sangat prestisius di kalangan teman-teman karena kalau bisa menulis di NU Online, berarti bisa melewati tahap seleksi yang ketat,” kata Farida.
Terpopuler
1
Para Kiai Sepuh Sarankan Presiden Prabowo Tindak Tegas Pejabat yang Ikut Campur Muktamar Ke-35 NU
2
Muktamar Ke-35 NU Dibuka Kamis 27 Agustus Pukul 15.00 WIB oleh Presiden Prabowo
3
Dijual Setan Muktamar
4
Khutbah Jumat: Bulan Maulid, Kembali Membaca Sirah Nabawiyah untuk Diteladani
5
LPJ PBNU 2021–2026 Diterima Aklamasi, Gus Yahya Sampaikan Terima Kasih dan Minta Maaf
6
Khutbah Jumat: Mengambil Teladan dari Model Kepemimpinan Nabi
Terkini
Lihat Semua