Tiga Akademisi Ungkap Jejak Islam Nusantara dari Manuskrip
NU Online · Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:00 WIB
Plenary Session 2 International Conference on Manuscripts and the Diversity of Islam(s) in Southeast Asia di UIII, Depok, Jawa Barat, Kamis (20/8/2026). (Foto: UIII)
Amien Nurhakim
Kontributor
Depok, NU Online
Tiga sarjana kajian Islam Asia Tenggara mengungkap kekayaan sejarah Islam Nusantara melalui manuskrip, catatan perjalanan, dan kajian tekstual Al-Qur’an. Temuan mereka menunjukkan bahwa kawasan ini bukan pinggiran dunia Islam, melainkan ruang yang aktif, kosmopolitan, dan memiliki tradisi keilmuan yang kuat.
Ketiga sarjana tersebut ialah Kepala Bagian Asia Tenggara British Library Annabel Teh Gallop, Guru Besar Sejarah Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Farish A. Noor, dan pakar manuskrip Islam UIN Jurai Siwo Lampung Ervan Nurtawab. Mereka berbicara dalam Plenary Session 2 International Conference on Manuscripts and the Diversity of Islam(s) in Southeast Asia di UIII, Depok, Kamis (20/8/2026), yang dimoderatori Maryam Qonitat.
Annabel Teh Gallop mengungkapkan bahwa jumlah manuskrip Al-Qur’an dari Asia Tenggara terus bertambah seiring dengan penelitian, katalogisasi, dan digitalisasi koleksi. Jika penelitian pada 2016 mencatat sekitar 1.075 manuskrip, ia kini memperkirakan jumlah sebenarnya hampir dua kali lipat.
“Saat ini saya memperkirakan jumlahnya mungkin dua kali lipat, yakni sekitar 2.000 manuskrip Al-Qur’an dari Asia Tenggara,” kata Annabel.
Sekitar 90 persen manuskrip tersebut masih berada di Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia. Sisanya tersebar di Eropa, Amerika, Australia, dan Timur Tengah. Di Belanda saja, Annabel mengidentifikasi 107 manuskrip Al-Qur’an Asia Tenggara, baik berupa mushaf lengkap maupun bagian tertentu dari Al-Qur’an.
Sebagian manuskrip sampai ke Eropa sebagai hadiah, tetapi sebagian lainnya dibawa sebagai rampasan perang. Salah satunya ialah mushaf Aceh yang diambil seorang perwira Belanda setelah invasi pada 1873 dari sisi jenazah seorang imam di sebuah masjid di Aceh Besar.
Menurut Annabel, banyak koleksi tersebut belum mendapatkan perhatian akademik yang memadai. “Hanya sedikit yang telah diteliti atau diterbitkan. Manuskrip lainnya hampir sepenuhnya belum dikenal,” ujarnya.
Sementara itu, Farish A Noor menyoroti cara orang Eropa memandang Banten pada awal abad ke-17. Melalui karya Theodore de Bry yang diterbitkan pada 1601 berdasarkan catatan perjalanan Jan Huygen van Linschoten, Banten digambarkan sebagai kerajaan Islam yang maju, ramai, dan dihuni beragam komunitas pedagang.
“Tantangan bagi orang Eropa saat itu adalah bagaimana menggambarkan kebudayaan dan peradaban lain yang beradab, tetapi bukan Eropa,” kata Farish.
Catatan tersebut menggambarkan Banten sebagai kota pelabuhan kosmopolitan yang dihuni pedagang Arab, Persia, Melayu, Gujarat, Benggala, Turki, China, hingga Afrika. Kehidupan politik dan perdagangan berjalan melalui mekanisme musyawarah yang melibatkan berbagai komunitas Muslim.
Menurut Farish, gambaran itu penting karena muncul sebelum pandangan kolonial terhadap Islam menjadi semakin kaku dan dipengaruhi kepentingan politik. Dalam catatan awal tersebut, masyarakat Muslim belum dipandang sebagai kelompok yang tunggal, tetapi sebagai komunitas yang beragam dari segi etnis, budaya, dan profesi.
“Banten jelas telah berkembang. Ia merupakan ruang multikultural dan plural, tempat berbagai kelompok etnis dan komunitas pedagang hidup serta bekerja bersama,” jelasnya.
Adapun Ervan Nurtawab mengajak peserta melihat manuskrip Al-Qur’an tidak hanya melalui iluminasi dan kaligrafi, tetapi juga melalui pembagian ayat, sistem penomoran, dan ragam qiraat. Unsur-unsur tersebut dapat digunakan untuk menelusuri hubungan antara satu mushaf dan mushaf lainnya.
Ervan juga menyinggung anggapan populer bahwa Al-Qur’an terdiri atas 6.666 ayat. Ia mengaku telah mempertanyakan angka tersebut sejak masih kecil.
“Ketika kecil, guru saya selalu mengatakan bahwa Al-Qur’an memiliki 6.666 ayat. Saya kemudian menghitungnya, tetapi jumlahnya tidak pernah mencapai 6.666. Saya tidak tahu angka itu berasal dari mana,” ungkap Ervan.
Ia menjelaskan bahwa tradisi Islam mengenal beberapa sistem penghitungan ayat yang berkembang di pusat-pusat keilmuan seperti Madinah, Makkah, Basrah, Damaskus, dan Kufah. Perbedaannya tidak terletak pada isi Al-Qur’an, melainkan pada penentuan batas dan penomoran ayat.
Melalui penelitian terhadap tiga manuskrip Al-Qur’an Banten abad ke-18, Ervan menunjukkan bahwa catatan di bagian tepi dan kepala surah mencerminkan keluasan pengetahuan para penyalin. Mereka tidak sekadar menyalin teks, tetapi memahami perbedaan qiraat dan sistem penghitungan ayat yang berkembang dalam tradisi keilmuan Islam.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah?
2
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
3
Para Kiai Sepuh Sampaikan Seruan Moral Jelang Muktamar Ke-35 NU, Soroti Penggalangan Dukungan Calon AHWA
4
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
5
Khutbah Jumat: Belajar Menjadi Orang yang Amanah dan Profesional dari Rasulullah
6
Iuran Lomba 17 Agustus: Gotong Royong atau Justru Bisa Jadi Judi? Ini Batas Hukumnya
Terkini
Lihat Semua