Nasional

Warga NU Harap Muktamar Lahirkan Pemimpin yang Mampu Rangkul Anak Muda dan Berani Bela Warga

NU Online  ·  Selasa, 11 Agustus 2026 | 17:00 WIB

Warga NU Harap Muktamar Lahirkan Pemimpin yang Mampu Rangkul Anak Muda dan Berani Bela Warga

Diskusi Publik "Mencari Ketua Umum PBNU yang Berintegritas: Menyusun Kriteria Kepemimpinan NU Memasuki Abad Kedua di Jakarta, Selasa (11/8/2026). (Foto: NU Online/Suci)

Jakarta, NU Online

Menjelang perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026, warga NU memiliki harapan terhadap nahkoda baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).


Mereka berharap pemimpin NU ke depan mampu merangkul anak muda, memperkuat advokasi bagi Nahdliyin di akar rumput, serta memiliki batasan yang jelas dalam membangun relasi dengan kekuasaan.


Harapan itu mengemuka dalam Diskusi Publik "Mencari Ketua Umum PBNU yang Berintegritas: Menyusun Kriteria Kepemimpinan NU Memasuki Abad Kedua yang digelar Tempo di Jakarta, Selasa (11/8/2026).


Ketua Umum Pengurus Besar Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI PB PMII) Wulansari Aliyatus Sholikhah mengatakan terdapat tiga tantangan besar kepemimpinan NU ke depan. 


"Dari perspektif anak muda, hari ini kepada anak-anak muda tidak hanya bisa menyampaikan bahwa NU itu besar, tapi NU memberikan manfaat apa untuk anak muda,”kata Wulan.


Ia menilai periode 2020 hingga 2035 merupakan puncak bonus demografi Indonesia. Karena itu, kepemimpinan NU hasil Muktamar ke-35 nanti turut menentukan bagaimana NU mengambil peran dalam momentum tersebut.


"Saya rasa anak muda punya peran di situ," kata Wulan.


Wulan menegaskan, anak muda tidak boleh lagi diposisikan semata-mata sebagai masa depan NU. Namun, anak muda harus menjadi bagian penting dari NU saat ini.


"Kalau dahulu anak muda adalah masa depan NU, hari ini tidak bisa, kita harus dianggap bahwa anak muda adalah bagian dari NU hari ini,” katanya.


Menurut Wulan, kondisi tersebut menghadirkan tantangan bagi NU untuk manjawab bagaimana relevansi, merespons transformasi global, sekaligus mempertahankan tradisi kepada anak muda.


"Artinya, NU punya tantangan terhadap relevansi, transformasi global dan menjaga tradisi,” jelasnya.


Kedekatan dengan istana perlu dibatasi

Sementara itu, Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jakarta KH Taufik Damas mengatakan NU membutuhkan pemimpin yang memahami NU sekaligus mampu melihat kondisi masyarakat di akar rumput dan global.


"Bagi saya sangat berbahaya kalau mendapatkan jabatan tinggi tapi tidak memiliki worldview yang baik,” ujarnya.


Ia mencontohkan sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menurutnya memiliki kecerdasan sekaligus cara kepemimpinan sederhana yang bisa dirasakan masyarakat bawah.


Taufik juga menilai pemimpin NU ke depan harus memahami posisi NU sebagai salah satu kekuatan masyarakat sipil terbesar di Indonesia. Karenanya, kedekatan dengan istana perlu dibatasi agar fungsi NU sebagai kekuatan masyarakat sipil tetap berjalan.


"Jangan jadi jubir presiden karena kalau terlalu dekat dengan kekuasaan, fungsi-fungsi advokasi pembelaan terhadap rakyat kecil nanti kurang,” jelasnya.


Tata kelola harus berdampak

Senada dengan itu Tokoh Muda NU, Hatim Al Ghazali, mengatakan terdapat tiga tantangan NU ke depan, salah satunya berkaitan dengan tata kelola organisasi sebagai jam'iyah. Menurutnya, modernisasi tata kelola organisasi tidak boleh berhenti pada aspek administratif, tetapi harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.


"Jangan sampai tata kelola ini terkesan modern tapi tidak memiliki dampak terhadap masyarakat,” katanya.


Hal serupa, lanjut Hatim, berlaku dalam kepemimpinan. Pemimpin NU tidak boleh berada di menara gading dan jauh dari kehidupan jamaah di tingkat bawah.


"Demikian juga kepemimpinannya, tidak dalam menara gading sementara jamaah di bawah,” ujarnya.


Tantangan kedua, kata Hatim, berada pada level nasional. Ia menyebut NU memiliki basis jamaah yang sangat besar. Berdasarkan survei Alvara, sekitar 57,2 persen atau 147 juta umat Islam Indonesia merupakan warga NU.


Namun, sebagian besar warga tersebut merupakan masyarakat yang bekerja sebagai petani, nelayan, dan buruh. Karena itu, perhatian organisasi harus dirasakan hingga tingkat akar rumput.


"Itu tantangan NU dari aspek nasionalnya,” katanya.


Adapun tantangan ketiga berada pada level global. Menurut Hatim, NU sejak awal lahir sebagai respons terhadap berbagai tantangan zaman, sehingga organisasi keagamaan tersebut perlu terus merespons persoalan global dari perspektif keagamaan. Hari ini, kata dia, dunia menghadapi berbagai persoalan, mulai dari perang hingga krisis iklim.


"Perubahan iklim, krisis perang bukan melawan diplomasi-diplomasi sebagaimana negara lakukan. Tapi bisa melawan gerakan yang ada untuk menggerakkan global menjadi baik,” tuturnya.


Muktamar jadi titik balik

Sementara itu, Putri bungsu Gus Dur Inaya Wulandari Wahid mengatakan Muktamar ke-35 NU akan menjadi muktamar pertama di abad kedua NU. Karena itu, hasil forum tersebut dinilai akan menjadi titik penting bagi perjalanan organisasi sekaligus kehidupan politik Indonesia.


"Muktamar besok akan menjadi titik balik setelah dinamika NU belakangan," kata Inaya.


Oleh karena itu, apa pun hasil yang muncul dari Muktamar ke-35 NU di Pesantren Tambakberas, Jombang nanti akan memiliki pengaruh terhadap kondisi politik Indonesia.


"Jadi, di Muktamar nanti hasil apapun yang muncul akan sangat berpengaruh terhadap kondisi politik Indonesia,” ujarnya.


Inaya juga menilai situasi masyarakat saat ini telah mengalami perubahan. Menurutnya, terdapat banyak narasi tentang NU yang belum tentu menggambarkan kondisi dan suara warga NU secara keseluruhan.


"Situasi hari ini memang beda, kondisi masyarakat, situasi masyarakatnya berbeda. Sekarang ada banyak narasi yang tidak menggambarkan NU secara keseluruhan,” katanya.


Karena itu, kondisi tersebut menjadi perhatian penting bagi siapa pun yang nantinya terpilih memimpin PBNU.“Itu yang menjadi sesuatu yang perlu konsen besar untuk siapapun yang akan terpilih besok,” pungkasnya.