Istana Prawoto Pusat Kerajaan Demak?
Brentolo, salah satunya. Oleh penulis buku ini, Brentolo diduga sebagai ''cikal bakal'' penyebutan dari ''Bintoro'', yang sangat terkait dengan kata ''Demak'' yang kemudian dikenal sebagai ''Demak Bintoro''.
Kumpulan artikel kategori Pustaka
Brentolo, salah satunya. Oleh penulis buku ini, Brentolo diduga sebagai ''cikal bakal'' penyebutan dari ''Bintoro'', yang sangat terkait dengan kata ''Demak'' yang kemudian dikenal sebagai ''Demak Bintoro''.
Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin (2015-2018) mengatakan bahwa akhir-akhir ini Islam Nusantara menjadi wacana publik. Tidak hanya di kalangan warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin), tetapi masyarakat Indonesia ikut memperbincangkannya. Seolah-olah ada anggapan bahwa Islam Nusantara adalah hal baru.
Pikiran seringkali tertipu oleh tampilan dhahir masalah yang hadir, kita lebih terpaku pada peliknya masalah tersebut dan mengabaikan sisi substansialnya. Jika demikian, alih-alih masalah terselesaikan, kita malah melahirkan masalah yang lebih besar lagi.
Kesinambungan keilmuan tersebut dirawat dengan adanya sanad atau silsilah keilmuan yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi yang selanjutnya hingga sampai sekarang. Ilmu sanad ini hanya dimiliki oleh umat Islam, tidak selainnya, sehingga kitab suci selain Al-Qur’an, rawan mengalami sebuah distorsi (tahrif) di dalamnya.
Sebagai sebuah karya yang lahir dari rahim pesantren, karya ini sangat perlu untuk diapresiasi dan ditularkan kepada santri-santri lain. Hilmi yang masih nyantri di Jombang ini menunjukkan bahwa seorang santri harus kreatif.
Nasib generasi muda Muslim pun tak kalah tragis, mereka masih harus meraba identitasnya. Mencari-cari nilai spiritual yang paling sesuai dan gampang bagi mereka. Yang pada akhirnya, menuntun mereka tak bisa lebih detail lagi mencerna dan mendalami karakter Islam yang sebenarnya.
Pengasuh pondok pesantren Tebuireng KH Salahudin Wahid dalam pengantar buku tersebut mengatakan, tujuan penerbitan buku ini adalan menumbuhkan kembali ingatan warga NU akan adanya tokoh NU yang terlupakan, bahkan mungkin sudah tidak banyak ingat lagi yang ingat nama mereka.
Lahirnya Wawasan Pancasila dari rahim pemikiran Yudi Latif menjadi oase dan angin segar bagi gersangnya suasana dan panasnya atmosfer politik yang tengah berkecamuk akhir-akhir ini guna mengoreksi atas keindonesiaan pribadi.
Terlepas dari pengarang mengetahui atau tidak tentang cerpen tersebut, tetapi cerpen demikian bukanlah hal baru, bahkan cenderung meniru. Memang, tidak ada karya yang murni. Setiap karya pasti menjadi epigon atas karya yang lain. Tetapi bukan berarti hampir persis seperti cerpen berjudul Trik Ahli Neraka dan Robohnya Surau Kami tersebut.
Akhirnya, seperti dikatakan Yanuardi Syukur (Alumnus Australia-Indonesia Muslim Exchange Program) dalam endorsement-nya, kehadiran buku ini sangat penting di tengah banyaknya pengalaman para penjelajah yang hanya berhenti di memori atau di blog tapi tidak dibukukan. Membaca buku ini akan memperluas cakrawala pengetahuan, kultur, dan diversitas manusia di dunia yang sangat luas ini.
Terkait hewan yang menjadi tokoh utama, bisa kita lihat bagaimana Eka Kurniawan memainkan mereka dalam penceritaannya, baik dalam novel seperti O, maupun dalam cerpen-cerpennya, seperti Kapten Bebek Hijau. Eka berani memainkan mereka menjadi tokoh utama. Cerpen dan novelnya itu bak fabel.
Selain itu ada juga sambutan tertulis dari KH Ali Yafie. Kitab yang ditulis pada tahun 2009 ini oleh beliau dinilai sebagai bentuk respon nyata atas kebutuhan umat yang sangat membutuhkan pegangan dalam hal perayaan mauludan.