NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80

Pustaka

Kumpulan artikel kategori Pustaka

Menampilkan 12 artikel (Halaman 58 dari 95)
Rakyat Kecil, Islam, dan Politik di Indonesia
Pustaka

Rakyat Kecil, Islam, dan Politik di Indonesia

Sejak awal sekitar pada tahun 1950-1960-an antara politik dan Islam di Indonesia tidak bisa menyatu. Hal ini karena sering didengungkannya sebuah fatwa oleh para kiai dan ulama yang anti politik. Mereka memandang bahwa politik itu najis dan tidak boleh berdekatan dengan agama yang menurut pandangan mereka Islam itu suci. Sehingga tidak mengherankan jika politik diharamkan oleh para ulama bagi umat Islam pada saat itu.

Muhammadiyah Itu NU! Dokumen Fiqih yang Terlupakan
Pustaka

Muhammadiyah Itu NU! Dokumen Fiqih yang Terlupakan

‘Tembok Berlin’ yang selama ini memisahkan Muhammadiyah dan NU membuat jarak yang cukup lebar. Tembok ini sejatinya bukanlah masalah yang besar, hanya saja tembok yang dimaksud adalah khilafiyyah pada masalah  furu’ yang sering menjadi kambing hitam persoalan dalam masyarakat muslim Indonesia. Sehingga pada kondisi-kondisi tentu kedua ormas tersebut nampak sulit untuk mencapai kata bersatu.

Khazanah Tafsir Al-Qur’an di Indonesia
Pustaka

Khazanah Tafsir Al-Qur’an di Indonesia

Al-Qur’an sebagai kitab suci agama umat Islam menjadi pegangan hidup yang tak pernah luntur oleh gerusan zaman. Ia selalu hadir di tengah-tengah kehidupan manusia. Kandungan ayatnya yang universal selalu fleksibel dalam berbagai hal. Keuniversalan itulah yang menjadikannya selalu dijadikan pegangan hidup. Hati yang duka, perasaan yang resah akan terobati oleh lantunan-lantunannya. Ia bisa menjadi obat sekaligus penerang di saat manusia berada dalam kegelapan.

Membaca Nalar Politik Pesantren
Pustaka

Membaca Nalar Politik Pesantren

Tahun 2014 menjadi tahun paling ‘panas’ dan menegangkan dalam iklim demokrasi di Indonesia. Setelah sebelumnya sukses memilih para wakil rakyat (legislatif), pada 9 Juli 2014 mendatang, masyarakat Indonesia akan melaksanakan pilpres, menunaikan hak pilihnya untuk masa depan Indonesia 5 (lima) tahun ke depan. Sebuah kenyataan yang mendebarkan, sebab nasib Indonesia ke depan, begitu bergantung pada pelaksanaan pilpres ini.