NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80

Pustaka

Kumpulan artikel kategori Pustaka

Menampilkan 12 artikel (Halaman 69 dari 95)
Meneropong Masa Depan Dialog Antar Agama
Pustaka

Meneropong Masa Depan Dialog Antar Agama

Judul Buku : Dialog Antarumat Beragama; Gagasan dan Praktik di IndonesiaPenulis : JB. Banawiratma, Zainal Abidin Bagir, etc.Penerbit : CRCS UGM Jogjakarta & Mizan BandungCetakan : I, 2011Tebal : xx+288 halamanPeresensi: Munawir AzizTragedi kekerasan antarumat beragama yang meledak di pelbagai daerah pada beberapa tahun terakhir merupakan ancaman atas harmoni komunal manusia Indonesia. Pada awal 2011, kasus Cikeusik (Pandeglang), Temanggung dan Pasuruan merupakan fakta betapa relasi antarumat beragama di negeri ini masih mengalami pasang surut. Selanjutnya, konflik berupa kekerasan antar agama, etnis, sengketa lahan, hingga pertikaian aparat dan masyarakat menjadi fenomena di tahun kemarin. Di awal tahun 2012 ini, kekerasan atas nama agama mengguncang komunitas Syi’ah di Sampang, Madura. Ratusan orang menyerbu dan merusak bangunan pesantren Syi’ah, seolah kelompok ini akan di-Ahmadiyah-kan. Ketika toleransi menipis, lahirlah kekerasan yang dipicu oleh egoisme, fanatisme beragama, maupun kepentingan elite politik yang tega merusak rajutan kemanusiaan.

Momentum Mengevaluasi Perilaku
Pustaka

Momentum Mengevaluasi Perilaku

Judul: Membuka Pintu LangitPenulis: A. Mustofa BisriPenerbit: Penerbit Buku Kompascetakan: Pertama, Agustus 2011Tebal halaman: viii + 216Peresensi: Yayan Rubiyanto                   Moral dan etika masyarakat tampaknya menjadi hal penting yang perlu mendapat perhatian. Berbagai kasus kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini mengindikasikan bahwa negara kita terjangkit penyakit degradasi moral. Banyak media mensoroti kasus-kasus kekerasan yang terus saja terjadi, sebut saja kasus ‘Mesuji’, kasus ‘Bima’, kasus freepot, dan lain sebagainya. Terlepas dari sudut pandang hukum, ternyata ‘masyarakat atas’ seakan dengan seenaknya menerapkan kebijakan yang menimbulkan keresahan

Gus Dur Bukan Pemikir Liberal
Pustaka

Gus Dur Bukan Pemikir Liberal

Judul        : Islamku, Islam Anda, Islam KitaPenulis     : Abdurrahman WahidPenerbit   : Wahid Institute, JakartaCetakan I  : 2006Buku ini menghimpun 82 karya Abdurrahman Wahid yang ditulis dalam rentang waktu antara 2002 dan 2004 (termasuk beberapa karya yang tidak terdeteksi historisitasnya). Namun, hal pertama yang terkesan dari kumpulan tulisan ini adalah produktivitas Gus Dur di tengah kesibukan dan kondisi fisik yang menua.

Gus Dur Tidak Berhenti Menjawab
Pustaka

Gus Dur Tidak Berhenti Menjawab

Judul        : Gus Dur Menjawab Perubahan ZamanPenulis     : Abdurrahman WahidPenerbit   : Kompas, JakartaCetakan 1 : 2010KONTROVERSI memang begitu lekat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keberadaan KH Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur. Cucu  KH Hasyim Asy’ari ini, selain sulit dipahami dengan rasionalitas awam juga keluasan serta kedalaman ilmunya yang menyulitkan masyarakat untuk memahami Gus Dur apa adanya. Kendati demikian, Gus Dur bukan berarti sesosok misterius, manusia super atau luar biasa yang tidak bisa dipahami. Tidak mudah memang memahami cucu Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari ini, karena jika ingin memahami Gus Dur maka sama artinya memahami kondisi masyarakat yang begitu kompleks mulai dari aspek sosial, politik, keagamaan, kebudayaan, kesejahteraan, intellektual, dll.

Kala Gus Dur Menulis Kiai
Pustaka

Kala Gus Dur Menulis Kiai

Judul      : Kiai Nyentrik Membela PemerintahPenulis   : Abdurrahman WahidPenerbit : LKiS, YogyakartaCetakan  : Pertama, 1997Laiknya orang Betawi kebanyakan, lelaki ini begitu paham jalanan Jakarta. Rokok kretek menjadi temannya yang paling dekat kemanapun kaki dilangkahkan. Rambutnya agak gondrong. Tiap malam Jumat ia harus mengajar tafsir Jalalain di majelis ta’lim, dan menjadi rujukan sisik melik urusan agama di kampungnya. Namun, kala membincang Marxisme, Sosialisme Tan Malaka, Soekarno hingga Lenin, tampak ia begitu fasih dan berapi-api. Seakan lupa bahwa ia memiliki julukan prestisius di tengah masyarakat: Kiai muda dari Betawi.

Gus Dur Tabayun
Pustaka

Gus Dur Tabayun

Judul        : Tabayun Gus DurPenulis     : Abdurrahman WahidPenerbit   : LKiS YogyakartaCetakan 1 : 1998 KH ABDURRAHMAN WAHID sudah “pulang” dua tahun lalu. Secara jasadi, ia tak tampak. Namun, pemikirannya masih terus (bias) dibaca banyak orang. Itulah fungsi menulis kata Pramoedya Ananta Toer. “Menulis adalah kerja untuk keabadian,” katanya. Gus Dur sadar betul pentingnya menulis. Sehingga ia tak pernah berhenti mengemukakan gagasan-gagasannya, lewat tulisan.

Abdurrahman, Selalu Bikin Penasaran
Pustaka

Abdurrahman, Selalu Bikin Penasaran

Judul        : Kumpulan Kolom Gus Dur; Kumpulan Artikel Abdurrahman WahidPenulis    : Abdurrahman WahidPenerbit    : LKiS YogyakartaCetakan    : I, 2002 Dari deretan dan  tumpukan pelbagai buku yang ada di lemari perpustakaan keluarga di rumah,  mungkin yang paling saya sukai sejak anak-anak adalah buku-buku karangan Gus Dur dan buku-buku yang ada Gus Durnya. Bukan untuk membaca, memelajari, dan mendedah pikiran-pikiran Gus Dur. Saya yang saat itu masih duduk di bangku sekolah SMP tahun pertama, lebih doyan melihat-lihat gambar atau foto yang ada dia.

Seandainya Gus Dur...
Pustaka

Seandainya Gus Dur...

Judul       : Islamku, Islam Anda, Islam KitaPenulis    : Abdurrahman WahidPenerbit  : Wahid Institute, JakartaCetakan   : I, 2006 Saya sudah tidak ingat lagi, kapan nama Gus Dur terinternalisasi dalam diri saya. Sejak di pesantren dulu, nama beliau tiba-tiba saja melekat dalam ingatan saya sebagai sosok “dewa” yang dengan lihai menggelitik sosok-sosok lain yang mengaku sebagai dewa.

Menuai Hikmah lewat Dongeng
Pustaka

Menuai Hikmah lewat Dongeng

Judul :  Pesantren Dongeng: Melipur Hati, Menikmati Kisah, Mendulang HikmahPenulis :  Awang SuryaPenerbit:  ZamanCetakan:  I, 2011Tebal:  224 HalamanISBN:  978-979-024-270-8Peresensi: Ahmad Suhendra Saat kecil, di antara kita mungkin sering atau pernah dibacakan dongeng sebelum tidur oleh orang tua. Bahkan, mungkin dongeng itu masih tersimpan dalam telinga kita sampai sekarang. Namun, anak-anak sekarang sudah jarang atau bahkan tidak ada yang menikmati dongeng. Kemajuan teknologi membuat anak-anak terlena dengan permainan produk kemajuan teknologi. Mungkin dongeng sudah dianggap kuno, sehingga eksistensi dongeng dalam kancah dunia anak-anak sudah mulai terkikis.

(Buku) Gus Dur Menguatkan Saya
Pustaka

(Buku) Gus Dur Menguatkan Saya

Judul          : Tuhan Tidak Perlu DibelaPenulis       : Abdurrahman WahidPenerbit    : LKiS, YogyakartaCetakan     : Kelima, Januari 20105 November lalu, pagi-pagi sekali seorang teman HTI menghubungi saya via SMS. Sebelum membaca secara detail apa yang tertera dalam pesan itu, saya memprediksi bahwa SMS ini pasti berisi ajakan untuk mengikuti Majelis Tafkir, seperti biasanya. Saya memang rutin mengikutinya tiap Jum’at siang.