Akhir Ramadhan: Sudah Mampukah Mengendalikan Diri?
Esensi puasa adalah menahan atau mengendalikan diri. Pengendalian ini diperlukan oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok. Latihan dan pengendalian diri itulah esensi puasa.
Kumpulan artikel kategori Ramadhan
Esensi puasa adalah menahan atau mengendalikan diri. Pengendalian ini diperlukan oleh manusia, baik secara individu maupun kelompok. Latihan dan pengendalian diri itulah esensi puasa.
Pada saat yang sama, mereka memerlukan asupan gizi yang cukup dan teratur untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dan menjaga daya tahan tubuh agar memiliki ketahanan yang lebih baik dari serangan Covid-19.
Mereka dapat berbuka puasa bila aktivitas mereka dalam menjalankan tugas tersebut mengharuskan mereka untuk menjaga asupan gizi dan makanan yang memadai serta teratur
Fidyah (tebusan) adalah denda yang wajib ditunaikan karena meninggalkan kewajiban puasa atau melakukan larangan tertentu
Perempuan yang keluar darah istihadhah secara syara’ berstatus sebagai perempuan yang suci, dalam artian kewajiban-kewajiban yang dibebankan pada perempuan yang suci semuanya berlaku bagi perempuan yang istihadhah, seperti shalat dan puasa.
Lupakan malam-malam tertentu, tingkatkan saja amal ibadah dengan niat yang ikhlas di hari yang tersisa dengan niat mengikuti sunnah nabi, maka Lailatul Qadar pasti akan menghampiri.
Untuk bertemu dengan malam lailatul qadar, seorang hamba sesungguhnya bisa mempersiapkan diri sedari awal Ramadhan tiba. Ini menunjukkan bahwa kebaikan harus bersifat kontinu sebagaimana kemulian yang ditunjukkan pada malam lailatul qadar dan dampaknya terhadap kehidupan di masa-masa yang akan datang.
Pada sisi lain, ibadah puasa mengandung hikmah atau pelajaran yang hendak dituju oleh mereka yang berpuasa, yaitu la‘allakum tattaqūn. Di sini puasa berkaitan dengan kualitas atau spiritualitas dari ibadah puasa itu sendiri.
Gus Baha menjelaskan bahwa Tak ada hadits yang mengharuskan kita mencari Lailatul Qadar tanggal 21 Ramadhan.
Kita setidaknya menemukan empat kata kunci, yaitu onani/masturbasi (istimna’), orgasme yang ditandai dengan ejakulasi (inzal), kontak fisik laki-laki dan perempuan berupa sanggama/hubungan badan atau lainnya (mubasyarah), dan pembatalan puasa (ifthar).
Aku bertanya lagi, “Apakah Lailatul Qadar itu hanya ada di masa nabi saja? Apabila mereka telah tiada, maka Lailatul Qadar dihapuskan, ataukah masih tetap ada sampai hari kiamat?” Rasulullah SAW menjawab, “Tidak, bahkan Lailatul Qadar tetap ada sampai hari kiamat”.
Para ulama mazhab Syafi’i berpandangan bahwa menggunakan minyak wangi pada saat siang hari di bulan puasa adalah tidak sunnah atau makruh. Hal ini dikarenakan dalam penggunaan minyak wangi terdapat kandungan makna kemewahan di dalamnya yang tidak selaras dengan tujuan dari puasa.