Nabi Yusya’ AS adalah salah satu utusan Allah yang hidup di masa Nabi Musa AS. Dialah sahabat setia Nabi Musa yang ikut mendampinginya ketika hendak bertemu dengan Nabi Khidir.
Dalam al-Qur’an, namanya memang tidak disebutkan secara eksplisit. Namun, para mufassir menjelaskan bahwa ia adalah pemuda (murid/pelayan) yang disebut dalam firman Allah pada Q.S. Al-Kahfi ayat 60:
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَآ أَبْرَحُ حَتَّىٰٓ أَبْلُغَ مَجْمَعَ ٱلْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِىَ حُقُبًا
Artinya: “Ketika Musa berkata kepada muridnya (pembantunya): “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai pertemuan dua laut atau aku akan berjalan (terus-menerus sampai) bertahun-tahun.”
Dalam Tafsir ath-Thabari, dijelaskan bahwa kata fatâ dalam ayat tersebut merujuk pada Yusya’ bin Nun. Imam ath-Thabari menulis:
واذكر يا محمد إذ قال موسى بن عمران لفتاه يوشع
Artinya: “Ingatlah wahai Muhammad, ketika Musa bin ‘Imran berkata kepada muridnya (pelayannya), yaitu Yusya’ (bin Nun).” (Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Tafsir ath-Thabari, [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2013], jilid VIII, hal. 245).
Keterangan ini semakin kuat dengan adanya hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebut nama Yusya’ bin Nun secara jelas dalam kisah perjalanan Nabi Musa mencari Nabi Khidir, “Kemudian Nabi Musa dan muridnya yang bernama Yusya’ bin Nun berangkat hingga keduanya sampai pada sebuah batu dan menyandarkan kepalanya,” (HR. Imam al-Bukhari).
Dengan demikian, jelaslah bahwa pemuda yang dimaksud dengan fatâ dalam ayat tersebut adalah Yusya’ bin Nun.
Yusya’ bin Nun dalam al-Bidayah wan Nihayah
Dalam al-Bidayah wan Nihayah, Imam Ibnu Katsir membahas secara khusus tentang Yusya’ bin Nun dalam bab “Dzikru nubuwwati Yusya’ wa qiyâmihi bi a’bâi Banî Israil ba’da Musa wa Harun” (Kenabian Yusya’ dan kepemimpinannya atas Bani Israil setelah wafatnya Musa dan Harun).
Pembahasan ini diawali dengan penjelasan tentang nasab Nabi Yusya’. Dari jalur ayah, Yusya’ merupakan keturunan Nabi Yusuf ‘alaihis salam. Nasab lengkapnya adalah Yusya’ bin Nun bin Afrayim bin Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil. (Al-Bidayah wan Nihayah, [Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, 2003], jilid II, hlm. 228)
Kenabian Yusya’
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Yusya’ diangkat menjadi nabi pada masa akhir hidup Nabi Musa AS. Pendapat ini dikemukakan Imam ath-Thabari dan mufassir lainnya berdasarkan riwayat dari Ibnu Ishaq. Imam Ibnu Katsir menuliskan:
وأما ما حكاه ابن جرير وغيره من المفسرين، عن محمد بن إسحاق: من أن النبوة حولت من موسى، إلى يوشع في آخر عمر موسى، فكان موسى يلقي يوشع فيسأله ما أحدث الله إليه من الأوامر والنواهي، حتى قال له: يا كليم الله، إني كنت لا أسألك عما يوحي الله إليك حتى تخبرني أنت، ابتداء من تلقاء نفسك، فعند ذلك كره موسى الحياة وأحب الموت
Artinya, “Adapun riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan para ahli tafsir lainnya dari Muhammad bin Ishaq, bahwa kenabian dipindahkan dari Musa kepada Yusya’ pada akhir hayat Musa. Musa sering mendatangi Yusya’ dan bertanya kepadanya tentang wahyu Allah berupa perintah dan larangan. Hingga suatu ketika Yusya’ berkata: ‘Wahai Kalimullah, dulu aku tidak pernah menanyakan kepadamu tentang wahyu yang Allah turunkan, sampai engkau sendiri yang menceritakannya kepadaku.’ Maka saat itulah Musa mulai tidak menyukai kehidupan dan mencintai kematian,” (Al-Bidayah wan Nihayah, jilid II, hlm. 228-229).
Namun, menurut Imam Ibnu Katsir, riwayat ini perlu ditinjau kembali (fa fî hadzâ nadhar). Sebab, menurut data yang kuat, Nabi Musa tetap menerima wahyu langsung dari Allah hingga wafatnya. Beliau menyimpulkan, jika memang riwayat ini benar berasal dari Ibnu Ishaq, kemungkinan besar sumbernya adalah cerita-cerita Ahli Kitab. (Al-Bidayah wan Nihayah, jilid II, hlm. 228-230)
Bukti Nabi Musa Tetap Menerima Wahyu
Salah satu bukti bahwa Nabi Musa tetap berhubungan langsung dengan Allah adalah riwayat shahih tentang pertemuannya dengan malaikat maut. Disebutkan bahwa Nabi Musa memukul mata malaikat maut. Kemudian Allah memerintahkan malaikat itu kembali dengan pesan:
“Jika Musa menghendaki hidup lebih lama, suruhlah ia meletakkan tangannya di atas punggung seekor sapi. Setiap helai bulu yang tertutupi tangannya akan menambah satu tahun umur.”
Musa bertanya: “Lalu setelah itu apa?” Malaikat menjawab: “Kematian.” Musa pun berkata: “Kalau begitu, matikan aku sekarang saja, ya Rabb,” (Al-Bidayah wan Nihayah, jilid II, hlm. 228-229).
Riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi Musa tetap menerima wahyu langsung dari Allah hingga akhir hayatnya.
Kepemimpinan Yusya’ bin Nun
Setelah Musa dan Harun wafat, Yusya’ bin Nun memimpin Bani Israil. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Nabi Harun wafat dua tahun sebelum Nabi Musa. Imam Ibnu Katsir mencatat:
أن هارون توفي بالتيه قبل موسى أخيه بنحو من سنتين، وبعده موسى في التيه أيضًا كما قدمنا، وأنه سأل ربه أن يقرب إلى بيت المقدس فأجيب إلى ذلك، فكان الذي خرج بهم من التيه، وقصد بهم بيت المقدس هو يوشع بن نون عليه السلام، فذكر أهل الكتاب وغيرهم من أهل التاريخ: أنه قطع بني إسرائيل نهر الأردن، وانتهى إلى أريحا، وكانت من أحصن المدائن سورًا، وأعلاها قصورًا وأكثرها أهلًا فحاصرها ستة أشهر
Artinya, “Harun wafat di padang Tih sebelum Musa, saudaranya, sekitar dua tahun lebih awal. Setelah itu Musa pun wafat di padang Tih sebagaimana telah disebutkan. Musa sempat memohon kepada Allah agar didekatkan ke Baitul Maqdis, dan permohonannya dikabulkan. Maka yang membawa Bani Israil keluar dari padang Tih dan memimpin mereka menuju Baitul Maqdis adalah Yusya’ bin Nun. Ahli Kitab dan para sejarawan menyebutkan bahwa Yusya’ menyeberangkan Bani Israil melewati Sungai Yordan hingga sampai ke kota Yerikho (Ariha), salah satu kota paling kuat pertahanannya, paling tinggi bangunannya, dan paling padat penduduknya. Yusya’ mengepung kota tersebut selama enam bulan,” (Imam Ibnu Katsir, al-Bidayah wan Nihayah, jilid II, hlm. 236)
Padang Tih berada di antara Mesir dan Palestina, umumnya diyakini berada di sekitar Semenanjung Sinai (Gurun Sinai). Di tempat inilah Bani Israil tersesat selama empat puluh tahun setelah diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun. Peristiwa ini terjadi karena mereka menolak perintah Allah untuk memasuki dan membebaskan Baitul Maqdis dari kaum yang kejam dan bengis. Mereka takut menghadapi kekuatan kaum tersebut, bahkan berkata:
يٰمُوۡسٰٓى اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَهَاۤ اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِيۡهَا فَاذۡهَبۡ اَنۡتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَاۤ اِنَّا هٰهُنَا قَاعِدُوۡنَ
Artinya, “Wahai Musa! Kami tidak akan pernah memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap menunggu di sini saja,” (Q.S. Al-Maidah: 24).
Mendengar itu, Nabi Musa berdoa agar dipisahkan dari kaum fasik tersebut. Allah pun berfirman:
فَاِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيۡهِمۡ اَرۡبَعِيۡنَ سَنَةً ۚ يَتِيۡهُوۡنَ فِى الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَى الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِيۡنَ
Artinya, “(Jika demikian) maka (negeri itu) terlarang bagi mereka selama empat puluh tahun. (Selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka janganlah engkau bersedih hati terhadap kaum fasik itu,” (Q.S. Al-Maidah: 26)
Kata “Tih” memiliki kesamaan dengan kata “yatîhûna” (mereka mengembara kebingungan) dari ayat tersebut. Artinya, mereka benar-benar berputar-putar tanpa arah selama empat puluh tahun hingga generasi penentang perintah Allah habis, lalu digantikan generasi baru yang dipimpin oleh Nabi Yusya’ bin Nun.
Sayyidina Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan ayat ini berkata:
فتاهوا في الأرض أربعين سنة، يصبحون كل يوم يسيرون ليس لهم قرار، ثم ظلل عليهم الغمام في التيه وأنزل عليهم المن والسلوى ..... ثم كانت وفاة هارون، عليه السلام، ثم بعده بمدة ثلاثة سنين مات موسى الكليم، عليه السلام ، وأقام الله فيهم يوشع بن نون عليه السلام، نبيا خليفة عن موسى بن عمران، ومات أكثر بني إسرائيل هناك في تلك المدة
Artinya: “Mereka berkelana di bumi selama empat puluh tahun. Setiap hari mereka berjalan tanpa pernah menetap. Allah menaungi mereka dengan awan di padang Tih, dan menurunkan manna dan salwa untuk makanan mereka. Lalu wafatlah Harun ‘alaihissalam, kemudian tiga tahun setelahnya wafat Musa Kalimullah ‘alaihissalam. Allah mengangkat Yusya’ bin Nun sebagai nabi dan khalifah menggantikan Musa bin ‘Imran. Kebanyakan Bani Israil meninggal di tempat itu selama masa tersebut,” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim [Riyadh: Dar Taibah, 2002], jilid III, hlm. 80).
Setelah masa hukuman empat puluh tahun berakhir, Nabi Yusya’ memimpin generasi baru Bani Israil keluar dari padang Tih. Mereka menyeberangi Sungai Yordan menuju kota yang pertahanannya sangat kuat, yaitu Yerikho (Ariha). Nabi Yusya’ mengepung kota itu selama enam bulan hingga akhirnya berhasil menaklukkannya. Setelah itu, ia menaklukkan kota demi kota hingga mendekati Baitul Maqdis. Disebutkan bahwa Nabi Yusya’ berhasil mengalahkan tiga puluh satu kerajaan di wilayah Syam dalam ekspedisi menuju Baitul Maqdis (Al-Bidayah wan Nihayah, jilid II, hlm. 237).
Ketika sampai di Baitul Maqdis, Nabi Yusya’ mengepung kota tersebut pada hari Jumat menjelang Ashar. Jika matahari terbenam, maka sudah masuk hari Sabtu, yang saat itu wajib digunakan hanya untuk beribadah. Karena itu Nabi Yusya’ berdoa:
إنك مأمورة وأنا مأمور، اللهم احبسها عليَّ
Artinya, “Engkau (matahari) diperintahkan, dan aku pun diperintahkan. Ya Allah, tahanlah matahari untukku.”
Maka Allah menahan matahari hingga kota itu berhasil ditaklukkan (Imam Ibnu Katsir, al-Bidayah wan Nihayah, jilid II, hlm. 237). Rasulullah SAW bersabda:
إن الشمس لم تحبس لبشر إلا ليوشع ليالي سار إلى بيت المقدس
Artinya, “Matahari tidak pernah ditahan untuk seorang manusia pun kecuali untuk Yusya’ ketika ia berjalan menuju Baitul Maqdis,” (H.R. Ahmad)
Setelah memasuki kota, Nabi Yusya’ dan pengikutnya mengalahkan qauman jabbârîn (kaum perkasa dan bengis) yang selama ini ditakuti Bani Israil (Q.S. Al-Maidah: 21-26). Para mufassir menjelaskan bahwa kaum ini memiliki fisik besar, kejam, dan suka memperbudak bangsa lain. Dalam Tafsir ath-Thabari disebutkan:
لأنهم كانوا لشدة بطشهم وعظيم خلقهم، فيما ذكر لنا، قد قهروا سائر الأمم غيرهم
Artinya, “Karena dahsyatnya kekuatan dan besarnya fisik mereka, sebagaimana diriwayatkan, mereka telah menundukkan seluruh bangsa lain selain mereka,” (Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Tafsir ath-Thabari, jilid IV, hlm. 515)
Allah memerintahkan Bani Israil memasuki kota itu dengan rendah hati dan penuh syukur, seraya mengucapkan “hitthah” (ampunilah dosa kami). Namun sebagian dari mereka mengganti ucapan itu dan berbuat zalim, sehingga mereka mendapat balasan dari Allah (Q.S. Al-Baqarah: 58-59).
Setelah kaum zalim itu dibinasakan, Baitul Maqdis dibangun kembali oleh Nabi Yusya’ bersama orang-orang saleh dari Bani Israil. Ia memimpin dengan hukum Allah. Dari sinilah cikal bakal kerajaan besar yang kelak dipimpin Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Dengan demikian, Nabi Yusya’ bin Nun merupakan peletak dasar kemajuan Bani Israil di Tanah Suci.
Menurut perkiraan Imam Ibnu Katsir, Nabi Yusya’ wafat pada usia seratus dua puluh tujuh tahun, sekitar dua puluh tujuh tahun setelah wafatnya Nabi Musa (Al-Bidayah wan Nihayah, jilid II, hlm. 242).
Kisah Nabi Yusya’ bin Nun dan Bani Israil di padang Tih memberikan pelajaran berharga bahwa ketakutan dan ketidaktaatan hanya akan membawa kesesatan dan keterpurukan, sedangkan keberanian, kesabaran, dan kepatuhan kepada Allah akan membuka jalan menuju kemenangan.
Mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Yusya’ menjadi bukti bahwa pertolongan-Nya akan selalu menyertai hamba-hamba yang beriman dan teguh. Dari sini kita belajar, bahwa setiap generasi hanya akan mencapai kejayaan bila mereka berpegang pada kebenaran, menegakkan syariat, dan tidak tunduk pada hawa nafsu serta ketakutan duniawi. Wallahu a'lam.
Ustadz Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.
