Syariah

Hakikat Bid'ah menurut Muallim Syafii Hadzami

NU Online  ยท  Jumat, 30 Januari 2015 | 00:10 WIB

Hingga kini perkara bidโ€™ah masih saja diperselisihkan. Baik dalam teori maupun praktiknya. Sebagian orang menganggap bidโ€™ah sebagai sesuatu yang salah dan harus diluruskan. Dan sebagian yang lain memposisikan bidโ€™ah sebagai suatu kreatifitas yang dibolehkan selama tidak menerjang rambu-rambu al-Qur'an dan as-sunnah.<>

Mengenai perkara bidโ€™ah ini Muallim Syafiโ€™i Hadzami ulama Betawi menerangkan dengan cukup panjang dalam bukunya Taudhihul Adillah juz tiga. Muallim Syafiโ€™i memulai tulisannya dengan menukil perkataan As-Syatibi dalam kitabnya al-Iโ€™tisham begini kalimatnya:

ุฃุตู„ ู…ุงุฏุฉ ุจุฏุน ู„ู„ุงุฎุชุฑุงุน ุนู„ู‰ ุบูŠุฑ ู…ุซุงู„ ุณุงุจู‚ ูˆู…ู†ู‡ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุจุฏูŠุน ุงู„ุณู…ูˆุงุช ูˆุงู„ุฃุฑุถ ุงู‰ ู…ุฎุชุฑุนู‡ู…ุง ู…ู† ุบูŠุฑ ู…ุซุงู„ ุณุงุจู‚ ูˆู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู‚ู„ ู…ุง ูƒู†ุช ุจุฏุนุง ู…ู† ุงู„ุฑุณู„ ุงู‰ ู…ุง ูƒู†ุช ุงูˆู„ ู…ู† ุฌุงุก ุจุงู„ุฑุณุงู„ุฉ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู‰ ุงู„ุนุจุงุฏ ุจู„ ุชู‚ุฏู…ู†ู‰ ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุงู„ุฑุณู„ ูˆูŠู‚ุงู„ ุงุจุชุฏุน ูู„ุงู† ุจุฏุนุฉ ุงุฐุง ุงุจุชุฏุงู’ ุทุฑูŠู‚ุฉ ู„ู… ูŠุณุจู‚ ุงู„ูŠู‡ุง. ูˆู‡ุฐุง ุงู…ุฑ ุจุฏูŠุน ูŠู‚ุงู„ ูู‰ ุงู„ุดูŠุฆ ุงู„ู…ุณุชุญุณู† ุงู„ุฐู‰ ู„ุง ู…ุซู„ ู„ู‡ ูู‰ ุงู„ุญุณู†.

Kata badaโ€™a pada mulanya menunjukkan arti mengada-adakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Seperti dalam firman Allah โ€˜ุจุฏูŠุน ุงู„ุณู…ูˆุงุช ูˆุงู„ุฃุฑุถโ€™ (Allah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi) maksudnya Dialah Allah yang mengadakan keduanya tanpa ada contoh sebelumnya. Begitu pula firman-Nya dalam ayat โ€˜ู‚ู„ ู…ุง ูƒู†ุช ุจุฏุนุง ู…ู† ุงู„ุฑุณู„โ€™(katakanlah Muhammad โ€œbukanlah aku ini Rasul yang diutus mula-mula/pertama kali) maksudnya bahkan sebelumku (Muhammad) telah banyak Rasul yang diutus Allah swt.Ddalam bahasa Arab kata bidโ€™ah juga sering digunakan seperti kalimat โ€˜ ุฅุจุชุฏุน ูู„ุงู† ุจุฏุนุฉโ€™ (si fulan telah merintis satu jalan yang belum pernah didahului orang lain). Atau juga dalam kalimat โ€˜ู‡ุฐุง ุฃู…ุฑ ุจุฏูŠุนโ€™ (ini adalah perkara yang indah) yaitu perkara yang indah dan belum pernah ada tandingannya.

Demikian Muallim Syafiโ€™i Hadzami memulai keterangan tentang arti bidโ€™ah dari sisi kebahasaan. Karena kata bidโ€™ah itu berasal dari bahasa Arab maka yang menjadi rujukan juga penggunaan kata tersebut dalam keseharian masyarakat Arab. Selanjutnya dijabarkan bahwa kata bidโ€™ah digunakan untuk menunjuk suatu hasil atu karya. ย Sedangkan proses pekerjaannya (berkreasi) dikatkan ibdaโ€™.

Dengan demikian bidโ€™ah merupakan hasil pekerjaan yang bisa terkena hukum, bukan hukum itu sendiri. Karena pada hakikatnya hukum syarโ€™i itu cuma lima yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Tidak ada bidโ€™ah di dalamnya. Jadi sangat tidak tepat jika dikatakan โ€œyang begini atau begitu hukumnya bidโ€™ahโ€. Intinya keterangan ini menegaskan bahwa bidโ€™ah bukanlah termasuk hukum syarโ€™i.

ย Adapun secara istilah Muallim Syafiโ€™i Hadzami memberi pemahaman bidโ€™ah sebagaimana dipergunakan dan difahami kebanyakan orang Indonesia sebagai suatu amalan yang tidak ada dalil syaraโ€™nya. Bidโ€™ah biasa dijadikan pembanding dengan sunnah yaitu sesuatu yang ada dalil syarโ€™inya.

Selanjutnya Muallim Syafiโ€™i Hadzami menjelaskan rincian macam bidโ€™ah dengan diawali pendapat Imam Syafiโ€™i katanya

ุงู„ุจุฏุนุฉ ุจุฏุนุชุงู† ุจุฏุนุฉ ู…ุญู…ูˆุฏุฉ ูˆ ุจุฏุนุฉ ู…ุฐู…ูˆู…ุฉ ูู…ุง ูˆุงูู‚ ุงู„ุณู†ุฉ ูู‡ูˆ ู…ุญู…ูˆุฏ ูˆู…ุงุฎุงู„ูู‡ุง ูู‡ูˆ ู…ุฐู…ูˆู…

Bidaโ€™ah itu ada dua macam. Bidโ€™ah yang terpuji dan bidโ€™ah yang tercela. Maka mana-mana yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji, dan mana-mana yang menyalahinya itulah yang tercela

Ini merupakan dalil pertama yang digunakan oleh Muallim Syafiโ€™i Hadzami menunjukkan adanya dua macam bidโ€™ah. Penunjukan dalil ini tidaklah sembarangan, mengingat otoritas Imam Syafiโ€™i sebagai salah satu peletak dasar madzhab syafiโ€™i yang telah diakui secara mufakat hasil ijtihadnya.

Guna menguatkan dan menjelaskan rincian bidโ€™ah ini, Muallim Syafiโ€™i Hadzami mengambil satu pendapat lagi dari Al-Baihaqi sebagaimana tersebut dalam manakibnya:

ุงู„ู…ุญุฏุซุงุช ุถุฑุจุงู† ู…ุง ุงุญุฏุซ ูŠุฎุงู„ู ูƒุชุงุจุง ุงูˆุณู†ุฉ ุงูˆ ุงุซุฑุง ุงูˆ ุงุฌู…ุงุนุง ูู‡ุฐู‡ ุจุฏุนุฉ ุงู„ุถู„ุงู„ุฉ ูˆู…ุง ุงุญุฏุซ ู…ู† ุงู„ุฎูŠุฑ ู„ุง ูŠุฎุงู„ู ุดูŠุฆุง ู…ู† ุฐู„ูƒ ูู‡ุฐู‡ ุจุฏุนุฉ ุบูŠุฑ ู…ุฐู…ูˆู…ุฉ

Segala yang diadakan itu ada dua macam. Sesuatu yang diadakan padahal menyalahi kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijmaโ€™ maka inilah bidโ€™ah yang sesat. Sedangkan apa-apa yang baik yang ย diadakan yang tidak bertentangan dengan tersebut (kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijmaโ€™) maka itulah bidโ€™ah yang tidak tercela.

Sampai di sini semakin jelas bahwa pemahaman tentang bidโ€™ah sebagai sesuatu kreasi baru tidaklah sesederhana pemahaman hitam dan putih. Karena tidak semua yang baru itu dapat dianggap sesat. Mengingat banyak hal-hal baru yang tidak ada di zaman Rasulullah saw juga baik.

Dalam rangka menklasifikasikan bidโ€™ah Muallim Syafiโ€™i Hadzami memperjelas dengan pendapat Al-Hadidi dalam Syarah Nahjul Balaghah menyatakan yang artinya demikian โ€œlafald bidโ€™ah dipakai untuk dua pengertian. Salah satunya yang untuk menunjukkan sesuatu yang melanggar al-Qurโ€™an dan as-sunnah semisal puasa di hari idul adha ataupu pada hari-hari tasyriq. Karena puasa pada hari-hari tersebut dilarang. Pengertian kedua, kata bidโ€™ah digunakan untuk menunjuk sesuatu pekerjaan yang dilakukan tanpa dasar nash, namun syaraโ€™ membiakannya. Dan kemudian biasa dilakukan oang-orang Islam setelah wafatnya Rasulullah saw. Adapun hadits yang berbunyi โ€œ ูƒู„ ุจุฏุนุฉ ุถู„ุงู„ุฉ ูˆูƒู„ ุถู„ุงู„ุฉ ูู‰ ุงู„ู†ุงุฑ โ€œ setiap bidโ€™ah itu sesat dan setiap kesesatan masuk neraka dapat diperuntukkan terhadap makna bidโ€™ah yang pertama. Sedangkan perkataan sayyidina Umar as. Sehubungan dengan shalat tarawih berjamaโ€™ah yang berbunyi โ€œ ุฅู†ู‡ุง ู„ุจุฏุนุฉ ูˆู†ุนู…ุช ุงู„ุจุฏุนุฉ ู‡ูŠ ย โ€œ sesungguhnya yang demikian ini bidโ€™ah dan inilah sebaik-baik bidโ€™ah. Dapat diaterapkan pada pemahaman makna bidโ€™ah yang kedua.

Demikianlah pendapat Muallim Syafiโ€™i Hadzami mengenai arti bidโ€™ah sebagaimana diterbitkan dalam bukunya Taudhihul Adillah jilid ke III. Sesungguhnya pengambilan berbagai rujukan ini merupakan bukti betapa luasnya pengetahuan agama Muallim Syafiโ€™i di satu sisi. Dan pada sisi lain menunjukkan ketawadhuโ€™annya sebagai seorang alim yang tidak mau menunjukkan pendapat sendiri selagi masih ada rujukan para ulama.

ย 

ย 

Terkait

Syariah Lainnya

Lihat Semua