Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Berkah Riyoyo Langgeng Dumugi Setahun Ngajeng
Khutbah Idul Fitri berbahasa Jawa ini mengingatkan untuk senantiasa menjaga keberkahan Hari Raya Idul Fitri sampai setahun ke depan
Artikel dengan tag "Khutbah Idul Fitri"
Khutbah Idul Fitri berbahasa Jawa ini mengingatkan untuk senantiasa menjaga keberkahan Hari Raya Idul Fitri sampai setahun ke depan
Khutbah ini mengingatkan kita, Idul Fitri yang disebut hari kemenangan karena seharusnya kita mencapai kematangan spiritual dan sosial.
Materi khutbah Idul Fitri kali ini mengangkat tema tentang berbagai hal yang perlu disiapkan agar bisa kembali atau mudik ke Surga.
khutbah Idul Fitri ini mengajak evaluasi dan koreksi terhadap ibadah yang dilakukan selama Ramadhan.
Khutbah Idul Fitri ini mengajak jamaah untuk menjadi orang yang bertakwa di hari kemenangan setelah menjalankan puasa sebulan penuh.
Khutbah Idul Fitri bahasa Madura ini mengajak jamaah untuk konsisten menunaikan ibadah kepada Allah swt, sekalipun bulan Ramadhan sudah pergi.
Khutbah Idul Fitri kali ini mengingatkan kita agar semangat menahan hawa nafsu selama Ramadhan harus membekas sepanjang tahun.
Khutbah Idul Fitri 1444 H versi Bahasa Sunda ini mengangkat tema tentang refleksi ibadah puasa dan memetik pelajaran berharga di bulan Ramadhan.
Khutbah idul fitri ini menjelaskan jaminan Allah setelah puasa Ramadhan. Khutbah id ini menjelaskan keutamaan mereka yang melewati puasa Ramadhan.
Khutbah Idul Fitri 1444 H ini mengingatkan umat Islam untuk kembali merenungkan makna Idul Fitri sebagai momentum kebahagiaan dan introspeksi.
Materi khutbah Jumat Idul Fitri kali ini dikemas dalam bahasa Jawa. Hal ini untuk menambah khazanah dan keragaman khutbah Jumat Idul Fitri yang ada di NU Online. Dalam khutbah Jumat Idul Fitri bahasa Jawa ini dibahas tentang keutamaan Hari Raya Idul Fitri yang di antaranya adalah panen pahala.
Naskah khutbah Idul Fitri ini mengajak umat Islam untuk merawat intensitasnya ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah agar tidak berhenti pada saat Ramadhan saja. Keistiqamahan mesti dijaga, terutama naluri untuk mengenal Allah yang merupakan fitrah tiap manusia.