NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Belajar Tabayun: Hikmah Tabayun dari Kisah Bani Musthaliq

NU Online·
Belajar Tabayun: Hikmah Tabayun dari Kisah Bani Musthaliq
Ilustrasi meminta maaf. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Kasus hilangnya tumbler penumpang salah satu transportasi publik memicu polemik setelah tuduhan diarahkan kepada petugas yang sebelumnya mengamankan barang tersebut. Keterangan dari kedua pihak justru menunjukkan adanya informasi yang simpang siur dan belum terverifikasi sepenuhnya. Peristiwa ini menegaskan pentingnya tabayun, atau memeriksa kebenaran sebelum menuduh atau mengambil keputusan agar tidak merugikan orang lain.

Dalam hal ini, Allah sudah mengingatkan para hamba-Nya untuk tidak terburu-buru memutuskan saat mendapatkan kabar sebagaiamana yang termaktub di dalam QS. Al-Hujurat [49]: 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ۝٦

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.

Dalam Kitab Fathurrahman fi Tafsiril Quran dijelaskan bahwa ayat ini turun ketika Rasulullah mengutus Walid bin Uqbah, saudara seibu Utsman bin Affan untuk mengambil zakat dari Bani Musthaliq. Namun, Walid pernah memiliki riwayat permusuhan dengan mereka pada masa jahiliyah. Ketika Bani Musthaliq mendengar kedatangan Walid, mereka justru keluar untuk menyambutnya sebagai bentuk penghormatan terhadap utusan Rasulullah. 

Namun Walid salah sangka; ia merasa takut dan mengira mereka hendak menyerangnya. Ia pun kembali dengan tergesa menemui Rasulullah dan melaporkan bahwa Bani Musthaliq menolak zakat dan berniat membunuhnya. Rasulullah sempat marah dan bermaksud menggempur mereka, sebelum akhirnya delegasi Bani Musthaliq datang menjelaskan bahwa mereka keluar untuk menghormati Walid karena mereka telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berlindung dari murka keduanya.

Untuk memastikan kebenarannya, Rasulullah kemudian mengutus Khalid bin Walid. Setibanya di sana, Khalid tidak menemukan apa pun kecuali ketaatan dan kebaikan dari Bani Musthaliq. Ia pun kembali melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah. Setelah peristiwa inilah ayat tersebut turun sebagai pelajaran tentang pentingnya tabayun sebelum berpikir dan bertindak (Mujiruddin, Fathurrahman fi Tafsiril Quran, [Darun Nawadir: 2009], jilid VI, hlm. 363).

Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam Shafwatut Tafasir juga menyampaikan hal yang sama, bahwa ayat ini adalah peringatan Allah kepada hamba-Nya agar senantiasa mencari kebenaran dan memverifikasi informasi terlebih dahulu. Tujuannya agar seorang Muslim tidak sampai mencelakakan orang lain hanya karena tergesa menyebarkan kabar yang belum tentu benar. Kesalahan dalam bertindak tanpa tabayun bisa berujung pada penyesalan, sebagaimana yang diperingatkan Allah dalam ayat tersebut (Muhammad Ali Ash-Shabuni, Shafwatut Tafasir, [Kairo, Dar Ash-Shabuni Litthaba’ah Wannasyr Wattauzi’, 1997], jilid III, hlm. 216).

Dengan demikian, tabayun sebelum menyebarkan informasi atau mengambil keputusan adalah hal yang sangat penting—terlebih di zaman ketika hoaks dan kebohongan begitu mudah menyebar. Tabayun menjadi kewajiban moral setiap orang agar tidak ada pihak yang dirugikan oleh kabar yang tidak benar, dan agar kita sendiri tidak menyesal karena telah menyebarkan sesuatu yang membawa mudarat bagi orang lain.

Ustadzah Siti Amiratul Adibah, Mahasiswa Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Alumnus Pondok Pesantren As'ad Jambi dan Ma'had Aly Situbondo.

Artikel Terkait

Belajar Tabayun: Hikmah Tabayun dari Kisah Bani Musthaliq | NU Online