Beberapa hari lalu, warganet dihebohkan oleh video viral yang memperlihatkan seorang guru tugas di sebuah Madrasah Ibtidaiyah di Sampang, Madura, dihakimi dan dipukul oleh oknum wali murid.
Peristiwa itu bermula dari ketidakterimaan wali murid atas sanksi ringan yang diberikan kepada anaknya karena bergurau saat pelajaran. Versi cerita sang anak yang berbeda memicu kemarahan, hingga sang wali mendatangi dan menganiaya guru tersebut sampai mengalami lebam serius.
Sebelum melangkah lebih jauh, perlu dipahami bahwa guru tugas adalah santri utusan pesantren yang mengabdi di tengah masyarakat, membantu madrasah diniyah di pelosok desa. Masa pengabdiannya bisa mencapai satu tahun atau lebih, sehingga perannya tidak sekadar mengajar, tetapi juga mendidik dan membina.
Penganiayaan jelas melanggar ajaran agama dan hukum. Namun yang lebih memprihatinkan, peristiwa ini menunjukkan rapuhnya etika sebagian wali murid dalam berinteraksi dengan guru.
Padahal, sikap tidak hormat saja sudah berdampak buruk bagi pendidikan dan karakter anak, apalagi kekerasan. Karena itu, penting ditegaskan kembali etika berinteraksi dengan guru dalam perspektif Islam, dimulai dari sikap paling mendasar: menghormati mereka sepenuh hati sebagai orang tua anak-anak kita di sekolah.
Melihat kasus di atas, kita perlu merefleksikan kembali hadits Rasulullah SAW ini:
خَيْرُ الْآبَاءِ مَنْ عَلَّمَكَ
Artinya: “Sebaik-baik ayah adalah orang yang mengajarimu." (HR Imam Baihaqi).
Dalam riwayat lain disebutkan:
إِنَّمَا الْمُعَلِّمُ أَبٌ لَكُمْ ، مِثْلُ الوَالِدِ لِوَلَدِهِ
Artinya: “Sesungguhnya guru itu adalah ayah bagi kalian, sebagaimana orang tua terhadap anaknya.” (HR Imam Abu Daud).
Dua hadits ini dikutip oleh Imam Al-Ghazali dalam Minhajul Muta'allim, dan saat mengomentari hadits ini, ia menjelaskan:
بَلْ هُوَ الْوَالِدُ عَلَى الحَقِيقَةِ، فَإِنَّ الْأَبَ سَبَبُ الحَيَاةِ الْفَانِيَّةِ وَالمُعَلِّمُ سَبَبُ الحَيَاةِ الْبَاقِيَةِ
Artinya: “Bahkan gurulah orang tua pada hakikatnya. Karena sungguh orang tua penyebab kehidupan yang fana, sedangkan guru penyebab kehidupan yang kekal.” (Imam al-Ghazali, Minhajul Muta’allim, [Damaskus: Darut Taqwa, 2010], hal. 80).
Sebagai wali murid, harus memahami hal ini dan harus menghormati para guru anaknya, menghormati dengan sepenuh hati, tidak hanya cukup di bibir saja, tapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Inilah etika berinteraksi yang pertama.
Kemudian, etika berinteraksi ini tidak hanya berefek positif dalam menjaga kebaikan dalam berkomunikasi dan silaturahmi antara wali murid dan guru, tetapi juga sangat membantu pendidikan anak-anak yang sedang berjuang menuntut ilmu di sekolah.
Dengan dukungan sepenuh jiwa dari orang tua di rumah, para guru bisa dengan maksimal mengajari dan mendidik anak-anak kita di sekolah. Marik simak penjelasan Syekh Az-Zarnuji berikut:
قيل: يحتاج في التعلم والتفقه إلى جد الثلاثة المتعلم والأستاذ والأب إن كان أي الأب في الأحياء
Artinya: "Dikatakan bahwa dalam (proses) belajar dan memahami (ilmu) dibutuhkan semangat dari tiga orang, yakni (1) semangat dari pelajar (murid), (2) semangat dari guru, dan (3) semangat dari ayah (orang tua) jika masih hidup." (Syekh Az-Zarnuji, Ta'limul Muta'allim, [Jakarta: Darul Kutub al-Islamiyah, 2007], hal. 43).
Penjelasan ini menegaskan pentingnya dukungan sepenuh jiwa dari orang tua jika mereka menginginkan anaknya sukses dalam menjalani pendidikan. Etika buruk terhadap para guru anak, apalagi perbuatan aniaya, sama sekali tidak mencerminkan dukungan tersebut.
Selain itu, penjelasan ini juga menunjukkan bahwa guru dan wali murid merupakan dua unsur yang tak terpisahkan. Secara tegas, Syekh Az-Zarnuji menjelaskan bahwa kesuksesan pendidikan anak membutuhkan kolaborasi antara wali murid dan guru. Apabila ekosistem saling mendukung dan kolaborasi berjalan dengan baik, maka dampak positifnya akan dirasakan oleh anak-anak yang dididik.
Jadi, jika etika ini tidak diindahkan, jangan mengharapkan kesuksesan dalam pendidikan anak-anak kita. Sinergi dan kolaborasi antara para guru dan para wali murid adalah hal yang tidak bisa ditawar. Dengan alasan inilah etika bersosial berupa dukungan dan berkolaborasi merupakan sebuah keniscayaan.
Terakhir, juga perlu menjadi perhatian bagi setiap wali murid bahwa mereka menjadi jembatan pengantar kesuksesan dalam pendidikan, bukan malah menjadi batu sandungan. Para guru sudah mengajari dan mendidik anak-anak kita dengan ikhlas, telah menggantikan dalam melaksanakan kewajiban.
Sebagai orang tua, kita wajib memberi teladan baik kepada anak-anak dalam bersosial dengan guru-gurunya, termasuk tidak memberikan contoh yang buruk dengan bercekcok. Sebab hal tersebut akan berdampak serius pada cara pandang negatif mereka terhadap guru-gurunya, yang menyebabkan nilai keberkahan ilmu yang didapatkan terkikis.
Dalam konteks mengajari etika baik, Rasulullah SAW bersabda:
أكرموا أولادكم وأحسنوا آدابهم
Artinya: "Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaguslah etika mereka semua." (HR Ibnu Majah).
Bagaimana cara memuliakan dan mengajari etika yang baik? Syekh Zainuddin Al-Munawi menjelaskan sebagaimana berikut:
بأن تعلموهم رياضة النفس ومحاسن الأخلاق وتخرجوهم في الفضائل وتمرنوهم على المطلوبات الشرعية ولم يرد إكرامهم بزينة الدنيا وشهواتها
Artinya: "Dengan cara mengajari mereka (anak-anak) melatih jiwa dan etika-etika baik, mendorong mereka untuk melakukan banyak keutamaan, melatih mereka melaksanakan tuntutan syariat, dan tidak memuliakan mereka dengan perhiasan dan syahwat duniawi.” (Syekh Zainuddin Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, 1356 H], jilid II, hal. 90).
Dengan demikian, etika yang baik kepada guru bukan sekadar sopan santun, melainkan fondasi keberhasilan pendidikan anak. Dari sikap kita, anak belajar bagaimana menghormati dan memuliakan gurunya.
Kolaborasi wali murid dan guru adalah kunci melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berakhlak. Semoga kita menjadi pendukung proses belajar, bukan penghambat; menjadi mitra yang menguatkan, bukan pihak yang melemahkan. Wallahu a‘lam.
Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pengajar di PP Putri Al-Masyhuriyah Kebonan Bangkalan.
