NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Zuhud Itu Bukan Anti-Dunia

NU Online·
Zuhud Itu Bukan Anti-Dunia
Ilustrasi menolak pemberian. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Kata zuhud sering kita dengar dari mimbar-mimbar, atau ceramah yang kadang lebih khusyuk nadanya daripada isinya. Zuhud, katanya, adalah menjauh dari dunia, menolak harta, hidup miskin dan pakaian compang-camping ala sufi. Zuhud adalah menolak hak yang seharusnya diberi. Singkatnya, zuhud adalah jauh dari dunia secara lahir maupun batin. Titik.

Padahal, kalau kita jujur, definisi seperti ini lebih sering melahirkan topeng kepalsuan. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin, meluruskan kesalahpahaman orang dalam memandang konsep tasawuf ini. Kata Imam Ghazali, banyak orang mengira, orang yang meninggalkan harta duniawi adalah orang yang zuhud. Padahal tidak mesti demikian. Sebab meninggalkan harta dan berpenampilan ‘buruk’ itu mudah saja bagi mereka yang suka dipuji sebagai seorang yang punya sifat zuhud.

Pada akhirnya, zuhud bukanlah soal berapa banyak harta yang kita punya, melainkan bagaimana hati kita memandang harta itu. Dunia bukan dosa. Dunia hanyalah cermin, ia memantulkan isi hati manusia. Kalau hatimu terus menerus bersifat rakus, dunia jadi jebakan. Tapi kalau hatimu tenang, dunia bisa jadi jalan menuju Tuhan.

اعلم أنه قد يظن أن تارك المال زاهد وليس كذلك فإن ترك المال وإظهار الخشونة سهل على من أحب المدح بالزهد

Artinya; “Ketahuilah, bisa jadi seseorang mengira bahwa orang yang meninggalkan harta adalah seorang zahid (orang yang zuhud), padahal tidak demikian. Sesungguhnya meninggalkan harta dan menampakkan kesederhanaan itu mudah bagi orang yang mencintai pujian karena sifat zuhudnya,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz IV, halaman 252)

Sementara itu, Abu Bakar al-Kalabazi, dalam kitab berjudul at-Ta'arruf li Madzhab Ahl at-Tashawwuf menyebutkan bahwa zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal, atau meninggalkan sebab-sebab duniawi. Zuhud adalah keadaan batin seseorang yang tidak tergantung pada sesuatu pun selain Allah. Dunia di tangannya tidak menodai jernihnya hati, sebab hatinya telah berlabuh pada Dzat yang tak pernah berubah.

Al-Kalabazi menulis, bahwa zuhud kurang lebih begini, “Orang yang punya sifat zuhud adalah yang tidak memiliki sifat ketergantungan terhadap sesuatu pun selain Allah,”. Hakikat zuhud bukanlah kemiskinan, melainkan kebebasan. Bukan menolak dunia, tapi melepaskan hati dari jerat nafsu dunia. Zuhud adalah keadaan di mana seseorang hidup di dunia, namun dunia tidak hidup di dalam dirinya.

قَالَ مَسْرُوق الزَّاهِد الذى لَا يملكهُ مَعَ الله سَبَب سُئِلَ الشبلى عَن الزّهْد فَقَالَ وَيْلكُمْ أى مِقْدَار لأَقل من جنَاح بعوضة حَتَّى يزهد فِيهَا قَالَ أَبُو بكر الواسطى كم تصول بترك كنيف وَإِلَى مَتى تصول بإعراضك مَا لَا يزن عِنْد الله جنَاح بعوضة

Artinya; “Masruq berkata, 'Orang yang zuhud adalah orang yang tidak memiliki keterikatan sebab apa pun selain kepada Allah.”

Seseorang bertanya kepada Asy-Syibli tentang makna zuhud, maka ia menjawab, “Celaka kalian! Apa nilai dunia ini--bahkan kurang dari sayap seekor nyamuk--sehingga seseorang merasa perlu bersikap zuhud terhadapnya?

Abu Bakar al-Wasithi berkata, “Sampai kapan engkau akan berlagak sombong hanya karena meninggalkan sesuatu yang tak lebih berharga dari jamban kotor? Dan sampai kapan engkau akan membanggakan dirimu karena berpaling dari sesuatu yang tidak seberat sayap seekor nyamuk di sisi Allah?” (Abu Bakar al-Kalabazi, at-Ta‘arruf li Madzhab Ahl at-Tashawwuf, (Beirut: Darul Kutub, t.t.], halaman 93).

Sementara itu, Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi, dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah memberikan semacam teguran halus terhadap kecenderungan sebagian orang yang menganggap zuhud identik dengan kemiskinan dan menjauh dari dunia. Ia mengutip pendapat Imam Abu Qasim, yang menjelaskan bahwa menolak kenikmatan halal bukanlah bentuk kesalehan, melainkan kekeliruan dalam memahami otoritas Ilahi. Sebab, hal-hal yang halal sudah diperbolehkan oleh Allah. Jika Allah memberi seseorang rezeki yang halal dan memintanya untuk bersyukur atas nikmat itu, maka meninggalkan harta halal tersebut tanpa alasan bukanlah sikap zuhud yang benar. Karena tidak sepatutnya seseorang menolak sesuatu yang sudah Allah izinkan untuk dinikmati.

Simak penjelasan berikut;

قَالَ الأستاذ الإِمَام أَبُو القاسم رحمه اللَّه: اختلف النَّاس فِي الزهد فمنهم من قَالَ الزهد فِي الحرام، لأن الحلال مباح من قبل اللَّه تَعَالَى فَإِذَا أنعم اللَّه سبحانه عَلَى عبده بمال من حلال وتعبده بالشكر عَلَيْهِ فتركه لَهُ باختياره لا يقدم عَلَى إمساكه بحق إذنه،

Artinya; "Berkata Al-Ustadz Al-Imam Abu Al-Qasim rahimahullah: Manusia berbeda pendapat tentang makna zuhud. Di antara mereka ada yang berkata, zuhud itu berarti meninggalkan yang haram. Sebab, hal-hal yang halal telah diizinkan oleh Allah Ta‘ala. Maka ketika Allah menganugerahkan kepada hamba-Nya harta yang halal dan memerintahkannya untuk bersyukur atas nikmat itu, lalu ia meninggalkan harta tersebut atas kehendaknya sendiri, maka ia tidak berhak mendahulukan meninggalkannya atas sesuatu yang telah Allah izinkan," (Imam Abu Qasim al-Qusyari, Ar-Risalah Qusyairiyah, [Kairo: Darul Ma’arif, tt], Jilid I, halaman 239).

Artinya, zuhud tidak berarti menolak rezeki yang halal atau hidup dalam kemelaratan yang disengaja. Justru zuhud adalah tentang bagaimana seseorang mengatur hubungan batinnya dengan nikmat duniawi, agar tidak tergelincir menjadi budak dari kenikmatan itu.

Dengan demikian, zuhud, kata para sufi, bukan menolak dunia. Ia bukan anti-kemajuan, bukan pula melarikan diri ke gua sunyi di puncak gunung. Zuhud justru adalah cara baru memandang dunia: memilikinya tanpa diperbudak olehnya. Seperti perahu yang mengarungi laut, air boleh mengelilinginya, tapi jangan sampai masuk ke dalamnya. Bila itu terjadi, bahaya, perahu akan tenggelam.

Relevansi Zuhud di Era Media Sosial

Di era media sosial saat ini, tampaknya zuhud menemukan relevansinya. Pasalnya, kita hidup di era yang membius. Orang menakar keberhasilan dari jumlah followers, menilai kebahagiaan dari banyaknya likes, dan mengukur harga diri dari merek pakaian yang menempel di tubuh. Segalanya bergerak cepat, penuh suara, dan memaksa kita untuk selalu tampak.

Menjadi zuhud di era modern bukan berarti berhenti bekerja, menolak teknologi, atau memutus hubungan dengan dunia. Justru, ia menuntut keterlibatan yang penuh, namun dengan hati yang ringan. Ia mengajarkan bagaimana seseorang bisa memiliki, tanpa dimiliki. Ia adalah seni menaruh dunia di tangan, bukan di dada.

Sufi besar Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, “Zuhud di dunia adalah pendek cita-cita, bukan dengan makan makanan kasar atau memakai pakaian wol.” Artinya, zuhud bukan soal penampilan luar atau cara hidup yang miskin harta, tetapi tentang hati yang tidak bergantung pada dunia. Dunia boleh dimiliki, tapi jangan sampai menguasai batin.

Al-Junaid menambahkan dengan indah, “Zuhud adalah tangan yang kosong dari kepemilikan, dan hati yang kosong dari ketertarikan.” Ungkapan itu seperti denting kesadaran di tengah hiruk-pikuk zaman modern, di mana manusia terus mengejar lebih banyak, tanpa tahu kapan harus berhenti. Zuhud mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati lahir bukan dari banyaknya yang dimiliki, tetapi dari ringannya hati saat melepas. (Ar-Risalah Qusyairiyah, Jilid I, halaman 240).

Seorang pebisnis bisa zuhud jika hartanya tak membuatnya sombong. Seorang pejabat bisa zuhud bila kekuasaannya tak memalingkan hatinya dari kebenaran. Seorang pekerja kreatif pun bisa zuhud, bila hasil karyanya tak membuatnya haus pujian. Zuhud bukan soal berapa yang kita punya, tapi seberapa dalam kita menggantungkan diri pada yang Maha Punya.

Di balik segala kesibukan di tengah masyarakat urban atau perkotaan, zuhud adalah kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya, “Untuk apa aku melakukan semua ini?” Pertanyaan ini sederhana, tapi pernahkah kita melakukannya? 

Ketika kita mampu menjawabnya dengan jernih, bahwa kerja keras, kesuksesan, dan teknologi hanyalah sarana menuju kebaikan, maka di situlah ruh zuhud mulai berdenyut dalam diri kita. Sifat inilah yang membuat manusia tidak silau oleh gemerlap dunia, tapi juga tidak membabi-buta untuk menjauhinya. Wallahu a'lam.

Ustadz Zainuddin Lubis, Pegiat Kajian Keislaman.

Tags:Zuhud

Artikel Terkait

Zuhud Itu Bukan Anti-Dunia | NU Online