Daerah

Beuleukat Teutet, Ketan Srikaya Khas Pidie Jaya saat Ramadhan dan Oleh-Oleh Jalur Banda Aceh-Medan

Selasa, 10 Maret 2026 | 12:30 WIB

Beuleukat Teutet, Ketan Srikaya Khas Pidie Jaya saat Ramadhan dan Oleh-Oleh Jalur Banda Aceh-Medan

Beuleukat Teutet, Ketan Srikaya Khas Pidie Jaya. (Foto: dok istimewa)

Banda Aceh, NU Online

Bulan Ramadhan selalu menghadirkan suasana khas dalam kehidupan masyarakat Aceh. Selain memperbanyak ibadah, masyarakat juga meramaikan bulan suci dengan berbagai kuliner tradisional yang disajikan saat berbuka puasa. Salah satu makanan khas yang cukup populer adalah beuleukat teutet, ketan srikaya yang berasal dari wilayah Pidie Jaya.


Kuliner tradisional ini dikenal dengan perpaduan rasa gurih dan manis yang khas. Lapisan bawahnya berupa ketan kukus yang dimasak dengan santan, daun pandan, dan sedikit garam sehingga menghasilkan tekstur pulen dan aroma harum. Sementara bagian atasnya dilapisi srikaya pandan yang lembut, manis, dan legit.


Perpaduan dua lapisan tersebut menjadikan beuleukat teutet sebagai makanan yang banyak digemari masyarakat. Tidak hanya sebagai kudapan sehari-hari, makanan ini juga sering hadir sebagai sajian berbuka puasa di rumah-rumah masyarakat Aceh.


Menurut pecinta kuliner Aceh, Misniati, beuleukat teutet termasuk salah satu hidangan yang sering dibuat keluarga saat bulan Ramadhan.


“Biasanya menjelang berbuka puasa banyak orang mencari makanan yang manis dan lembut. Beuleukat teutet sangat cocok karena rasanya gurih dari santan dan manis dari srikaya,” ujarnya.


Secara tradisional, makanan ini dibuat dari bahan yang cukup sederhana. Untuk bagian ketan, bahan yang digunakan antara lain beras ketan yang direndam sekitar dua jam, santan kental, garam, dan daun pandan.


Beras ketan yang telah direndam kemudian dikukus sekitar 20 menit hingga setengah matang. Setelah itu ketan dimasak kembali bersama santan, garam, dan daun pandan hingga santan meresap. Proses ini dalam tradisi memasak masyarakat Aceh dikenal sebagai diaron.


Setelah santan terserap, ketan kembali dikukus hingga matang dan pulen. Ketan yang telah matang kemudian dipadatkan dalam loyang yang dialasi daun pisang atau dioles minyak agar tidak lengket.


Tahap berikutnya adalah membuat lapisan srikaya. Bahan yang digunakan antara lain telur, gula pasir, santan kental, tepung terigu, tepung tapioka, garam, serta pasta pandan untuk memberi warna dan aroma.


Semua bahan tersebut dicampur hingga merata, lalu disaring agar teksturnya lebih halus. Setelah itu adonan srikaya dituangkan di atas lapisan ketan yang telah dipadatkan di dalam loyang.


Loyang kemudian dikukus kembali selama sekitar 30-40 menit hingga srikaya mengeras dan matang sempurna. Setelah selesai dikukus, beuleukat teutet biasanya didinginkan terlebih dahulu selama beberapa jam agar teksturnya benar-benar padat dan mudah dipotong.


Hasil akhirnya adalah potongan ketan srikaya berwarna hijau pandan yang lembut dan harum. Teksturnya pulen dengan rasa manis gurih yang khas.


Selain menjadi hidangan berbuka puasa, beuleukat teutet juga memiliki nilai sosial dalam kehidupan masyarakat Aceh. Makanan berbahan dasar ketan kerap disajikan dalam berbagai acara adat, kenduri, maupun kegiatan keagamaan.


Penggiat budaya dari Universitas Al-Aziziyah Indonesia Samalanga, Tgk Iswadi, mengatakan bahwa makanan berbahan ketan memiliki makna simbolik dalam tradisi masyarakat Aceh.


“Dalam budaya Aceh, ketan sering dimaknai sebagai simbol perekat hubungan sosial. Karena sifatnya lengket, ketan dianggap melambangkan kebersamaan dan persatuan masyarakat,” jelasnya.


Ia menambahkan bahwa tradisi kuliner seperti beuleukat teutet tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dengan nilai kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Menariknya, popularitas beuleukat teutet tidak hanya dikenal di daerah asalnya. Makanan ini juga menjadi salah satu oleh-oleh khas yang banyak dicari oleh para pelintas jalur utama Banda Aceh-Medan.


Jalur darat Banda Aceh menuju Medan merupakan salah satu rute perjalanan penting di Aceh yang dilalui banyak masyarakat setiap hari. Para pelintas jalan tersebut sering berhenti di sejumlah kawasan di Pidie Jaya untuk membeli beuleukat teutet sebagai buah tangan.


Biasanya makanan ini dijual dalam potongan kotak yang dibungkus daun pisang atau kotak plastik sederhana. Selain rasanya yang lezat, beuleukat teutet juga cukup praktis dibawa sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah.


Bagi para perantau Aceh yang pulang kampung, makanan ini sering menjadi pengingat rasa kampung halaman. Tidak sedikit pula para pelancong dari luar daerah yang tertarik mencicipinya karena keunikan rasa dan bentuknya.


Di sepanjang jalur Banda Aceh-Medan, terutama ketika memasuki wilayah Pidie dan Pidie Jaya, beberapa pedagang kerap menjajakan berbagai kuliner tradisional Aceh. Di antara berbagai pilihan makanan tersebut, beuleukat teutet termasuk yang paling sering diburu pembeli.


Kehadiran makanan ini di sepanjang jalur perjalanan menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Selain menjadi sumber ekonomi bagi pedagang lokal, makanan ini juga membantu memperkenalkan kekayaan budaya Aceh kepada para pendatang.


Di tengah perubahan zaman dan berkembangnya berbagai jenis makanan modern, kuliner tradisional seperti beuleukat teutet tetap bertahan. Rasanya yang khas serta nilai budaya yang melekat membuat makanan ini tetap diminati hingga kini.


Karena itu, keberadaan beuleukat teutet tidak sekadar makanan manis untuk berbuka puasa atau oleh-oleh perjalanan. Lebih dari itu, ia merupakan bagian dari identitas kuliner Aceh yang mencerminkan tradisi, kebersamaan, dan kearifan lokal masyarakatnya.