Daerah

Empat Bulan di Tenda Darurat, Warga Pante Lhong Aceh Terancam Berlebaran Tanpa Rumah

Jumat, 20 Maret 2026 | 07:00 WIB

Empat Bulan di Tenda Darurat, Warga Pante Lhong Aceh Terancam Berlebaran Tanpa Rumah

Warga Pante Lhong di tenda darurat pengungsian. (Foto: dok NU Care-LAZISNU)

Bireuen, NU Online

Ramadhan biasanya menjadi bulan yang penuh ketenangan dan kebersamaan bagi masyarakat Aceh. Namun, suasana berbeda justru dirasakan warga Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen.


Hampir empat bulan setelah banjir bandang melanda kawasan tersebut pada akhir November 2025, sebagian warga masih bertahan hidup di tenda-tenda darurat berwarna biru. Di tempat sederhana itulah mereka menjalani ibadah puasa Ramadhan, bahkan terancam menyambut Hari Raya Idul Fitri tanpa rumah yang layak.


Deretan tenda biru tampak berdiri di tanah yang dulunya merupakan kawasan permukiman warga. Kini, tempat itu berubah menjadi pengungsian darurat. Pada siang hari, panas matahari terasa menyengat di dalam tenda. Udara menjadi pengap, membuat anak-anak sering keluar untuk mencari tempat yang sedikit lebih teduh.


Bagi para orang tua, kondisi tersebut menghadirkan kesedihan tersendiri. Ramadhan yang biasanya dipenuhi aktivitas keluarga di rumah kini harus dijalani dalam ruang sempit dengan fasilitas sangat terbatas.


Saat malam tiba, angin yang bertiup membuat tenda bergoyang. Jika hujan turun, kekhawatiran pun muncul karena air dapat masuk dari celah-celah tenda. Situasi ini membuat banyak keluarga harus selalu waspada.


Sebagian warga bahkan merasa seperti hidup di tempat yang terlupakan. Hampir empat bulan mereka bertahan di pengungsian dengan perhatian yang dirasakan masih sangat terbatas.


Bencana banjir bandang yang melanda Pante Lhong pada akhir November 2025 memang membawa dampak sangat besar. Air bah yang datang dari kawasan hulu membawa lumpur, pasir, dan kayu dalam jumlah besar yang menghantam permukiman warga.


Akibatnya, lebih dari 25 rumah dilaporkan hanyut atau hilang terbawa arus, sementara sedikitnya 318 rumah lainnya mengalami kerusakan berat. Banyak kawasan permukiman tertimbun material lumpur dan pasir dengan ketebalan antara 1,5 hingga 3 meter.


Tidak hanya rumah warga yang rusak, infrastruktur penting juga terdampak, termasuk bendungan irigasi Pante Lhong yang selama ini mengairi lebih dari 6.500 hektare lahan persawahan. Kerusakan bendungan tersebut mengancam sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.


Setelah bencana terjadi, ratusan kepala keluarga sempat mengungsi ke balai desa. Namun, karena keterbatasan fasilitas, sebagian warga kemudian membangun gubuk darurat atau menempati tenda bantuan untuk bertahan hidup hingga sekarang.


Memasuki akhir Ramadhan 1447 H, kehidupan di tenda-tenda biru itu tetap berjalan dengan segala keterbatasan. Aktivitas sahur dan berbuka puasa dilakukan dengan peralatan dapur yang sangat sederhana. Sebagian keluarga hanya memiliki satu atau dua alat masak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Di tengah kondisi tersebut, semangat menjalankan ibadah Ramadhan tetap terjaga. Warga saling membantu dan berbagi makanan agar semua keluarga dapat menjalani puasa dengan baik.


Namun, menjelang Idul Fitri, kekhawatiran mulai muncul di tengah masyarakat. Jika kondisi tidak segera berubah, mereka kemungkinan harus merayakan Lebaran di tenda pengungsian.


Kondisi ini juga menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk LAZISNU PWNU Aceh yang bersama tim dari LAZISNU PBNU melakukan kunjungan kemanusiaan ke lokasi pengungsian. Dalam kunjungan tersebut, rombongan membawa sejumlah bantuan bagi masyarakat terdampak, termasuk distribusi air bersih yang sangat dibutuhkan para pengungsi.


Ketua LAZISNU PWNU Aceh, Tgk Akmal Abzal, yang ikut mendampingi penyaluran bantuan tersebut, Jumat pekan lalu, mengaku sangat tersentuh melihat kondisi warga yang masih bertahan di tenda setelah hampir empat bulan bencana terjadi.


Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses pemulihan masyarakat masih menghadapi berbagai kendala. Ia menjelaskan bahwa hingga kini proses pendataan korban bencana di wilayah tersebut dinilai belum sepenuhnya maksimal.


“Tidak bisa dibayangkan jika hujan turun, ke mana mereka harus beristirahat, apalagi ada orang tua renta dan anak-anak. Bantuan dari semua pihak sangat diharapkan,” ujarnya.


Hal itu turut mempengaruhi percepatan penanganan, terutama terkait pembangunan hunian bagi masyarakat terdampak.


Selain itu, perdebatan mengenai pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) masih berlangsung di tingkat pemangku kebijakan.


“Pendataan masih belum maksimal dan di tingkat pengambil kebijakan juga masih terjadi perdebatan terkait huntara dan huntap. Sementara masyarakat di lapangan masih bertahan di tenda,” tambahnya.


Ia menilai kondisi ini sangat memprihatinkan karena masyarakat masih berada dalam fase pemulihan setelah kehilangan rumah dan sumber penghidupan akibat bencana.


Menurutnya, situasi tersebut berbeda dengan kondisi di beberapa wilayah tetangga yang juga pernah mengalami bencana serupa. Di Kabupaten Pidie Jaya, misalnya, pembangunan hunian sementara bagi korban bencana sudah mulai ditempati oleh sebagian warga dan sebagian lainnya hampir rampung.


Perbandingan tersebut membuat harapan masyarakat Pante Lhong semakin besar agar langkah serupa juga dapat segera dilakukan di Kabupaten Bireuen.


“Jika proses pembangunan hunian bisa dipercepat, masyarakat tentu akan lebih cepat bangkit dan memulai kembali kehidupan mereka,” kata Tgk Akmal.


Bagi warga Pante Lhong, harapan mereka sebenarnya sederhana: kembali memiliki rumah yang layak untuk ditinggali bersama keluarga.


Ramadhan yang mereka jalani di tenda biru menjadi pengingat bahwa bencana tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga perjuangan panjang untuk bangkit kembali.


Kini, menjelang Hari Raya Idul Fitri, harapan itu semakin besar. Warga berharap ada langkah nyata agar mereka tidak harus menyambut Lebaran di pengungsian.


Namun, jika keadaan belum berubah, bukan tidak mungkin Idul Fitri tahun ini tetap mereka rayakan di bawah tenda biru, tempat yang selama hampir empat bulan menjadi saksi kesabaran dan perjuangan mereka bertahan setelah bencana.