Daerah

Mengenal Sie Reuboh, Masakan Daging Khas Aceh yang Kaya Rempah dan Filosofi Hidup

Jumat, 13 Maret 2026 | 09:30 WIB

Mengenal Sie Reuboh, Masakan Daging Khas Aceh yang Kaya Rempah dan Filosofi Hidup

Potret kuliner tradisional khas Aceh, sie reuboh. (Foto: Helmi Abu Bakar)

Aceh Besar, NU Online

Sie reuboh merupakan salah satu masakan daging khas Aceh yang dikenal dengan cita rasa rempah yang kuat serta filosofi hidup yang melekat di balik proses pembuatannya. Hidangan tradisional ini kerap disajikan oleh masyarakat Aceh, terutama saat Ramadhan, sebagai menu makan malam setelah berbuka puasa.


Sie reuboh biasanya dibuat dari daging sapi yang dimasak bersama cuka, cabai, serta berbagai rempah tradisional. Proses memasaknya membutuhkan waktu cukup lama karena daging harus direbus hingga bumbu benar-benar meresap dan teksturnya menjadi empuk.


Peneliti sekaligus akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh Musiarifsyah Putra mengatakan, kuliner tradisional sie reuboh tidak hanya memiliki nilai rasa, tetapi juga menyimpan filosofi kehidupan masyarakat Aceh yang diwariskan secara turun-temurun.


“Sie reuboh adalah warisan kuliner yang mencerminkan cara hidup masyarakat Aceh. Di dalam proses memasaknya terdapat nilai kesabaran, ketekunan, dan kearifan dalam memanfaatkan bahan yang ada,” ujarnya, pada Kamis (12/3/2026)


Musiarifsyah menjelaskan, proses memasak sie reuboh yang memerlukan waktu lama memiliki makna simbolik dalam filosofi rakyat Aceh. Daging yang dimasak perlahan hingga bumbu meresap menggambarkan bahwa sesuatu yang baik membutuhkan proses yang tidak instan.


“Filosofi masyarakat Aceh mengajarkan bahwa hasil yang berkualitas lahir dari kesabaran dan ketekunan. Seperti memasak sie reuboh, bumbu harus menyatu dengan daging agar menghasilkan rasa yang sempurna,” jelasnya.


Selain itu, penggunaan cuka dalam hidangan ini juga memiliki makna tersendiri. Selain memberi rasa asam yang khas, cuka berfungsi sebagai pengawet alami yang membuat makanan dapat bertahan lebih lama.


Dalam tradisi masyarakat Aceh pada masa lalu, cara ini menjadi bentuk kearifan lokal untuk menjaga makanan tetap layak dikonsumsi tanpa teknologi penyimpanan modern.


Musiarifsyah menilai hal tersebut mencerminkan nilai ketahanan hidup masyarakat Aceh yang terbiasa beradaptasi dengan kondisi lingkungan.


“Ini menunjukkan kecerdasan lokal masyarakat Aceh dalam mengolah makanan. Ada nilai ketahanan dan kemampuan beradaptasi dengan alam,” kata Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Aceh Besar itu.


Rempah-rempah yang digunakan dalam sie reuboh juga memiliki makna simbolik dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh. Perpaduan berbagai bumbu yang berbeda menghasilkan harmoni rasa yang kuat. Hal ini melambangkan kehidupan masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi kebersamaan dan persatuan.


Dalam kehidupan sehari-hari, sie reuboh biasanya disajikan sebagai lauk pendamping nasi putih hangat. Hidangan ini juga kerap hadir dalam berbagai acara keluarga, kenduri, maupun pertemuan masyarakat sebagai simbol kebersamaan.


Pada Ramadhan, banyak keluarga di Aceh menjadikan sie reuboh sebagai menu makan malam setelah berbuka puasa. Rasa rempah yang kuat dan tekstur daging yang empuk menjadikannya santapan yang menggugah selera setelah seharian menahan lapar dan dahaga.


Musiarifsyah berharap kuliner tradisional sie reuboh dapat terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang oleh perkembangan zaman.


“Melestarikan kuliner tradisional berarti juga menjaga identitas budaya. Di dalam makanan seperti sie reuboh terdapat sejarah, nilai kehidupan, dan kearifan masyarakat Aceh,” tuturnya.


Kini, selain dimasak di rumah-rumah masyarakat, sie reuboh juga mulai banyak dijumpai di berbagai rumah makan khas Aceh. Kehadirannya menunjukkan bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat di tengah perkembangan dunia kuliner modern.


Bagi masyarakat Aceh, sepiring nasi hangat dengan lauk sie reuboh bukan sekadar hidangan setelah berbuka puasa. Hidangan ini juga menjadi simbol kesabaran, ketahanan, dan kebersamaan yang hidup dalam filosofi masyarakat Aceh serta terus diwariskan dari generasi ke generasi.