Daerah

Suluk Kajen Diresmikan, Siap Jadi Pusat Riset Manuskrip dan Pemikiran Syekh Ahmad Mutamakkin

Jumat, 3 Juli 2026 | 08:00 WIB

Suluk Kajen Diresmikan, Siap Jadi Pusat Riset Manuskrip dan Pemikiran Syekh Ahmad Mutamakkin

Seminar bertajuk Suluk Kajen #1 bertema Pamoring Kawula Gusti: Syekh Ahmad Mutamakkin dan Reimajinasi Intelektual Pesantren di Era Kontemporer, Sabtu (27/6/2026) (Foto: NUO Jateng)

Jakarta, NU Online

Upaya menghidupkan kembali tradisi intelektual pesantren berbasis manuskrip dan khazanah Islam Nusantara terus diperkuat. Yayasan Makam Mbah Mutamakkin resmi meluncurkan Suluk Kajen, sebuah forum ilmiah yang didedikasikan untuk mengkaji pemikiran, sejarah, dan warisan keilmuan Syekh Ahmad Mutamakkin.


Peluncuran Suluk Kajen berlangsung dalam seminar perdana bertajuk Pamoring Kawula Gusti: Syekh Ahmad Mutamakkin dan Reimajinasi Intelektual Pesantren di Era Kontemporer di serambi Masjid Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, Sabtu (27/6/2026).


Forum tersebut dihadiri sejumlah ulama dan intelektual nasional, di antaranya Prof KH Said Aqil Siroj, KH Ulil Abshar Abdalla, KH Abdul Ghaffar Rozin, Prof Islah Gusmian, Zainul Milal Bizawie, Prof Maharsi, dan Saiful Umam.

 

Direktur Suluk Kajen, Mohammad Yunus Masrukhin, menjelaskan bahwa selama ini masyarakat lebih mengenal Syekh Ahmad Mutamakkin atau Mbah Mutamakkin melalui tradisi lisan dan praktik keagamaan yang diwariskan turun-temurun.


"Masih banyak sumber sejarah otentik yang berkaitan dengan Mbah Mutamakkin yang belum dapat diakses secara luas maupun dikaji secara akademik," kata Yunus diberitakan laman NU Online Jateng.


Berangkat dari kegelisahan para kiai sepuh Kajen selama beberapa tahun terakhir, lanjut Yunus, Suluk Kajen dibentuk sebagai lembaga ilmiah yang bertugas mentransformasikan warisan pemikiran Mbah Mutamakkin melalui pendekatan tekstual, sejarah, sosial, politik, hingga ekonomi dari masa ke masa.

 

"Kerja tersebut diakui bukan pekerjaan ringan. Karena itu, Suluk Kajen dirancang sebagai proyek keilmuan jangka panjang yang membutuhkan kesinambungan riset serta kolaborasi berbagai kalangan akademisi dan pesantren," sebutnya.


Untuk menjalankan misinya, Suluk Kajen memiliki lima divisi strategis. Divisi Riset bertugas menghasilkan kajian akademik, yang kemudian dikembangkan melalui Divisi Kegiatan dalam bentuk seminar, diskusi, dan forum ilmiah bersama ulama maupun intelektual.


Selanjutnya, Divisi Publikasi bertanggung jawab menyebarluaskan hasil penelitian melalui jurnal ilmiah maupun konten populer di media sosial agar lebih mudah diakses masyarakat, khususnya generasi muda.


Sementara itu, Divisi Museum berperan mengoleksi, mengonservasi, dan mendokumentasikan situs maupun artefak yang berkaitan dengan Mbah Mutamakkin sebagai bagian dari penguatan bukti sejarah perkembangan Islam di kawasan Pantura. Seluruh aktivitas tersebut dikoordinasikan oleh Kesekretariatan.

 

Selain membangun ekosistem riset, Suluk Kajen juga mulai memetakan manuskrip-manuskrip kuno yang masih tersimpan di lingkungan Kajen. Pendataan terus dilakukan, namun hingga kini sedikitnya sembilan naskah telah berhasil diidentifikasi dan siap dikaji lebih mendalam.

 

Beberapa manuskrip penting tersebut antara lain Arsyul Muwahhidin, Suluk Alif, Suluk Kajen, serta Bundel Kajen yang merupakan koleksi Prof Islah Gusmian.


Suluk Kajen lahir sebagai ruang bersama untuk merawat tradisi keilmuan pesantren yang memandang ilmu bukan sekadar kumpulan pengetahuan, melainkan jalan pembentukan adab, spiritualitas, dan kebijaksanaan.

 

Semangat itu dirangkum dalam filosofi Jawa Hangrenggani Urip, Hanguripake Rerenggan, yang dimaknai sebagai ikhtiar memuliakan kehidupan melalui ilmu, laku spiritual, dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur sebagai fondasi peradaban.


Dengan pendekatan tersebut, Suluk Kajen diharapkan tidak hanya menjadi forum diskusi akademik, tetapi juga berkembang sebagai pusat riset manuskrip, pelestarian warisan intelektual pesantren, sekaligus ruang dialog yang mempertemukan tradisi, ilmu pengetahuan, dan tantangan masyarakat kontemporer.