Fragmen

Mbah Kiai Siradj Menolak untuk Bersalaman Langsung dengan Ahli Qur'an, Apa Sebabnya?

Selasa, 7 Juli 2026 | 13:00 WIB

Mbah Kiai Siradj Menolak untuk Bersalaman Langsung dengan Ahli Qur'an, Apa Sebabnya?

Repro foto lukisan KH Ahmad Siradj (Dok. Keluarga)

KH Ahmad Siradj Umar merupakan seorang tokoh ulama yang wafat pada 27 Muharram 1381 H atau 10 Juni 1961 M. Semasa hidupnya ia dikenal sebagai seorang kiai yang mengasuh sebuah pesantren di Kota Surakarta.


Menjelang peringatan haul ke-67 kakek buyut Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU) KH Yahya Choll Staquf (Gus Yahya) tersebut, ada satu kisah menarik, yang penulis dapatkan dari salah satu santri Kiai Siradj, KH Amidi Asfari Laweyan, pada tahun 2023 lalu.


"Riwayatnya dari KH Baidlowi Syamsuri (Brabo) dari KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan (Al-Muayyad Mangkuyudan). Juga riwayat dari beberapa kiai lain," terang KH Amidi.


Dikisahkan, Mbah Kiai Siradj setiap berkunjung ke Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, biasanya naik becak. Masuk dari belakang, berhenti di kediaman KH Abdul Mannan.


"Jadi lewat belakang, tidak lewat dari depan masjid itu, kemudian lewat rumah KH Abdul Mannan, di situ becaknya berhenti. Kalau bertemu anak-anak kecil biasanya pada salaman," tutur Kiai Amidi.


Namun, ada satu momen yang kerap kali disaksikan, ketika Kiai Siradj bersalaman dengan orang-orang, ada satu orang yang ia tolak untuk langsung disalami, yakni KH Ahmad Musthofa (Mbah Daris), ayah KH Abdul Karim Ahmad Surakarta.


"Begitu turun dari becak, saat yang lain diajak bersalaman, Mbah Siradj justru menolak bersalaman dengan Mbah Daris. Mbah Daris merasa tidak enak, kok hanya dia yang tidak diajak bersalaman," lanjut Kiai Amidi.


Ternyata, yang dilakukan oleh Mbah Kiai Siradj adalah dengan berwudhu terlebih dahulu. Setelah selesai berwudhu, ia mencari kembali Mbah Daris dan bersalaman. Ini maksudnya apa?


"Wong Apal Qur'an, Ahli Qur'an iku ora beda karo Qur'an. Adabe santri, iku yen arep nyekel Qur'an kudu wudhu (Penghapal atau ahli Al-Qur'an itu tidak jauh berbeda dengan Al-Qur'an. Adabnya seorang santri, kalau mau menyentuh Al-Qur'an ya harus wudhu terlebih dahulu). Ini tafsiran dari Mbah Baidlowi Syamsuri," kata Kiai Amidi.


Begitulah salah satu adab yang dicontohkan oleh KH Ahmad Siradj, memberikan penghormatan kepada ahii ilmu, khususnya ahli Al-Qur'an. Begitu juga, dengan anak-anak kecil ia mengasihi.


Tokoh pejuang dan pendiri NU

Mbah Kiai Siradj merupakan sebuah potret ulama bersahaja yang lekat pula dengan kisah kepahlawanan. Rumah yang ia tinggali, sekaligus menjadi tempat mengaji, hanya sebuah bangunan gedhek yang lokasinya terletak tak jauh dari SMA Al Islam. Rumah tersebut, merupakan pemberian wakaf dari sang adik, KH Kholil Umar.


Namun, siapa sangka dari bangunan gedhek tersebut, menjadi salah satu markas untuk menempa mental para pejuang yang tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah Surakarta, agar tetap tabah dalam berjuang mengusir penjajah.


Bila di Parakan Temanggung ada Mbah Subchi yang memberikan semangat kepada para pejuang lewat bambu runcingnya, maka di Solo ada Mbah Siradj beserta kiai-kiai sepuh lain yang tergabung dalam “Barisan Kiai”, menjadi rujukan para laskar dan tentara yang berjuang di garda depan revolusi kemerdekaan. Sebelum berangkat berperang, mereka minta didoakan para kiai sepuh ini, agar lurus niat dan bertambah semangat dalam berjuang.


Kiai Siradj juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang ikut merintis lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Surakarta. Dalam buku biografi KH A Wahid Hasyim (Abu Bakar Aceh, 1957) termaktub pada catatan dari Kongres ke Kongres (Muktamar) Nahdlatul Ulama (NU).


Namanya tercatat pernah mengikuti Kongres I NU yang diadakan pada tahun 1926 di Kota Surabaya. Ketika itu ia hadir bersama KH Mawardi, sebagai utusan golongan ulama muda dari Kota Solo. Begitulah sekilas jejak perjuangan dan teladan dari KH Ahmad Siradj. Lahu al-fatihah!


Ajie Najmuddin, Pemerhati Sejarah NU