Ilmu Tauhid

Syiah dan Lima Kelompok Besar di Dalamnya

Jumat, 10 April 2026 | 11:00 WIB

Syiah dan Lima Kelompok Besar di Dalamnya

Ilustrasi kaligrafi Ali. Sumber: Canva/NU Online.

Islam memiliki perjalanan sangat panjang yang di dalamnya tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang pergulatan politik, perdebatan perspektif, hingga berbagai dinamika lainnya yang turut mewarnai peradaban. Puncaknya adalah ketika Rasulullah wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah.


Sejak saat itulah, umat Islam menghadapi masa tanpa kehadiran langsung sosok Nabi Muhammad sebagai pemimpin dan rujukan utama mereka. Maka muncullah berbagai perdebatan dan perbedaan perspektif, hingga tarik-menarik kepentingan yang sebelumnya tidak pernah tampak di masa Kanjeng Nabi.


Sejak saat itu pula, perbedaan-perbedaan perspektif itu tidak hanya menjadi diskusi saja, tetapi juga membentuk kelompok-kelompok atau firqah tersendiri dalam sejarah Islam. Salah satu dari kelompok tersebut adalah Syiah. Ia menjadi salah satu yang paling menonjol dari beberapa kelompok dalam Islam. Dan untuk mengetahui sejarah lengkapnya, berikut penulis ulas dengan detail.


Syiah Itu Siapa Sebenarnya?

Mengutip penjelasan Syekh Ali Muhammad as-Shalabi, definisi Syiah tidak bisa dilepaskan dari fase perkembangan mereka sendiri. Hal ini karena pemikiran dan keyakinan Syiah mengalami perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu, sehingga bentuk Syiah pada masa awal tidak sama dengan yang dikenal pada masa-masa setelahnya, termasuk sekarang.


Pada periode generasi awal Islam, tepatnya di era kekhalifahan Sayyidina Utsman bin Affan, sebutan Syiah belum mengandung makna teologis; ia hanya merujuk pada sikap lebih memprioritaskan Ali bin Abi Thalib dibandingkan Utsman bin Affan. Maka sejak itu, muncullah dua istilah populer bernama “Syi’iyyun” dan “Utsmaniyyun”. Syi’i merujuk pada mereka yang mendahulukan Ali atas Utsman, sementara Utsmani adalah kebalikannya.


Oleh sebab itu, pada fase awal munculnya kelompok Syiah, istilah ini hanya digunakan untuk menyebut mereka yang lebih mengutamakan Ali daripada Utsman, tanpa muatan doktrin yang berkembang di kemudian hari seperti saat ini. Simak penjelasan berikut ini:


التَّشَيُّعُ فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ غَيْرُ التَّشَيُّعِ فِيمَا بَعْدَهُ، وَلِهَذَا كَانَ الصَّدْرُ الْأَوَّلُ لَا يُسَمَّى شِيعِيًّا إِلَّا مَنْ قَدَّمَ عَلِيًّا عَلَى عُثْمَانَ، وَلِذَلِكَ قِيلَ: شِيعِيٌّ وَعُثْمَانِيٌّ، فَالشِّيعِيُّ مَنْ قَدَّمَ عَلِيًّا عَلَى عُثْمَانَ، فَعَلَى هَذَا يَكُونُ التَّعْرِيفُ لِلشِّيعَةِ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ: أَنَّهُمُ الَّذِينَ يُقَدِّمُونَ عَلِيًّا عَلَى عُثْمَانَ فَقَطْ


Artinya, “Syiah pada masa awal berbeda dengan Syiah pada masa setelahnya. Oleh karena itu, pada masa awal seseorang tidak disebut Syiah kecuali jika ia mendahulukan Ali daripada Utsman. Oleh karena itu, dikatakan: Syi’iyyun dan Utsmaniyyun. Maka, Syiah adalah orang yang mendahulukan Ali daripada Utsman. Berdasarkan hal ini, definisi Syiah pada masa awal adalah mereka yang hanya mendahulukan Ali daripada Utsman.” (Sirah Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib, [Beirut: Darul Ma’rifah, 2005 M], jilid II, halaman 386).


Dari penjelasan tersebut, dapat kita pahami bahwa Syiah pada awalnya hanyalah simpatisan politik Sayyidina Ali bin Abi Thalib saja tanpa membawa pandangan teologi apa pun sebagaimana perkembangannya saat ini. Namun, seiring berjalannya waktu, ia berubah menjadi sebuah aliran dengan pemikiran dan corak tersendiri, dan berikut penjelasannya.


Macam-macam Syiah

Dan benar, seiring berjalannya waktu, Syiah di awal kemunculannya tidak lagi sama dengan Syiah di masa-masa setelahnya. Ia terus berkembang dari sekadar memprioritaskan Ali atas Utsman, lalu meluas ke doktrin imamah, kemaksuman imam, dan seterusnya. Dari proses panjang ini, Syiah pun terpecah menjadi setidaknya lima aliran besar, yaitu: (1) Kaisaniyah; (2) Zaidiyah; (3) Imamiyah; (4) Ghulat; dan (5) Isma’iliyah. Berikut ini perinciannya:


1. Syiah Kaisaniyah

Syiah Kaisaniyah adalah kelompok Syiah yang dinisbatkan kepada seorang tokoh bernama Kaisan, yang merupakan mantan budak yang dimerdekakan oleh Ali bin Abi Thalib. Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa ia merupakan murid dari Muhammad bin al-Hanafiyah (14 – 80 Hijriah), putra Ali bin Abi Thalib dari seorang ibu bernama Khaulah binti Ja’far, bukan dari Fatimah az-Zahra.


Para pengikut Kaisaniyah memiliki keyakinan yang berlebihan hingga melampaui kadar dan derajat yang semestinya terhadap Muhammad bin al-Hanafiyah. Mereka menganggapnya menguasai seluruh ilmu pengetahuan, segala rahasia, mulai dari ilmu takwil, ilmu batin, hingga ilmu tentang alam semesta dan jiwa.


Sebagaimana disampaikan oleh Abu Bakar as-Syahrastani (wafat 548 H), salah satu ciri khas mereka adalah keyakinan bahwa agama pada hakikatnya hanya terletak pada ketaatan seseorang terhadap pemimpin (imam), sehingga dari keyakinan ini mereka meninggalkan kewajiban syariat setelah merasa telah mencapai derajat ketaatan penuh kepada sang imam.


Mereka juga berkeyakinan adanya reinkarnasi, hulul (penjelmaan atau keyakinan Tuhan bersemayam dalam diri makhluk), raj’ah (kembali ke dunia setelah mati), meragukan keberadaan kiamat, dan meyakini bahwa agama adalah taat kepada seorang pemimpin, sehingga siapa yang tidak memiliki pemimpin, maka ia tidak memiliki agama. (As- Syahrastani, al-Milal wan Nihal, [Mesir: Muassasah al-Halabi, t.t], jilid I, halaman 147).


2. Syiah Zaidiyah

Syiah Zaidiyah adalah kelompok Syiah yang dinisbatkan kepada Zaid bin Ali (76 – 122 H), putra dari Husain bin Ali bin Ali bin Abi Thalib. Kelompok ini berkeyakinan bahwa kepemimpinan (imamah) harus berada di kalangan keturunan Fatimah, namun tidak terbatas pada satu garis tertentu saja.


Setiap keturunan Fatimah yang memiliki kriteria seperti berilmu, zuhud, berani, dermawan, serta bangkit memperjuangkan kepemimpinan, ia berhak menjadi imam dan wajib ditaati, baik dari jalur Hasan maupun Husain. Bahkan, mereka membolehkan adanya lebih dari satu imam dalam wilayah yang berbeda selama memenuhi kriteria tersebut.


Sebagaimana penjelasan as-Syahrastani, dalam aspek pemikirannya, Zaidiyah banyak terpengaruh oleh teologi Mu’tazilah, karena Zaid bin Ali pernah belajar kepada Washil bin Atha. Oleh sebab itu, corak pemikiran rasional cukup tampak dalam kelompok ini. Selain itu, mereka juga memiliki pandangan yang relatif moderat dalam menyikapi para sahabat. Zaidiyah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang paling utama, namun tetap membolehkan kepemimpinan yang dipegang oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab, dengan alasan kemaslahatan umat saat itu.


Mereka juga membolehkan kepemimpinan orang yang kurang utama (mafdhul) meskipun masih ada yang lebih utama (al-afdhal). Sikap inilah yang membuat sebagian kelompok Syiah Kufah menolak Zaid bin Ali, karena ia tidak mencela dua khalifah tersebut (Abu Bakar dan Umar), hingga akhirnya mereka menolak sikap tersebut dan kemudian masyhur dengan sebutan Syiah Rafidhah (yang menolak). Berikut sebagian kutipannya:


وَلَمَّا سَمِعَتْ شِيعَةُ الْكُوفَةِ هَذِهِ الْمَقَالَةَ مِنْهُ وَعَرَفُوا أَنَّهُ لَا يَتَبَرَّأُ مِنَ الشَّيْخَيْنِ رَفَضُوهُ حَتَّى أَتَى قَدَرُهُ عَلَيْهِ فَسُمِّيَتْ رَافِضَةً


Artinya, “Ketika pengikut Syiah Kufah mendengar ucapan ini dari Zaid dan mengetahui bahwa ia tidak berlepas diri dari dua syekh (Abu Bakar dan Umar), mereka menolaknya sampai ajalnya tiba. Maka mereka pun dinamakan Rafidhah (kaum penolak).” (As- Syahrastani, I/150-153).


3. Syiah Imamiyah

Syiah Imamiyah adalah kelompok yang meyakini bahwa kepemimpinan (imamah) setelah Nabi Muhammad telah ditetapkan secara jelas dan tegas untuk Ali bin Abi Thalib, bukan melalui pilihan umat, melainkan melalui penunjukan langsung (nash) dari Nabi. Dan dalam pandangan mereka, persoalan imamah merupakan perkara pokok dalam agama, sehingga tidak mungkin Nabi wafat tanpa menetapkan siapa yang akan menjadi pemimpin setelahnya.


Mereka juga berpendapat bahwa tujuan diutusnya Nabi adalah untuk menghilangkan perselisihan dan menciptakan kesatuan, sehingga mustahil beliau meninggalkan umat dalam keadaan tanpa penunjukan yang pasti terkait kepemimpinan. Oleh karena itu, wajib bagi Nabi untuk menunjuk seseorang yang menjadi rujukan dan dapat dipercaya sebagai pemimpin umat. Dan mereka meyakini bahwa Nabi telah menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai imam, baik secara tersirat maupun tersurat. Berikut buktinya menurut mereka:


Penunjukan Secara Tersirat (Ta’ridh):

Pertama, Nabi Muhammad pernah mengutus Abu Bakar untuk membacakan Surah Baraah kepada orang banyak, namun kemudian mengutus Ali untuk menggantikannya sebagai pembaca dan penyampai pesan tersebut. Kedua, Nabi pernah bersabda bahwa Jibril turun kepadanya dan mengatakan bahwa pesan tersebut akan disampaikan oleh seorang pria dari kaumnya yang diyakini merujuk pada Ali. Ketiga, Nabi Muhammad sering menunjuk Abu Bakar, Umar, atau sahabat lain sebagai pemimpin dalam berbagai ekspedisi militer, tetapi juga pernah menunjuk Amr bin Aas dan Usamah bin Zaid untuk memimpin mereka. Namun, Nabi tidak pernah menunjuk siapa pun untuk memimpin Ali.


Penunjukan Secara Tersurat (Tashrih):

Pada masa awal Islam, Nabi pernah bertanya, “Siapa yang akan berbaiat kepadaku dengan hartanya?” dan beberapa orang berbaiat. Kemudian Nabi bertanya lagi, “Siapa yang akan berbaiat kepadaku dengan jiwanya, dan dia akan menjadi washi (pelaksana wasiat) dan wali (pemimpin) urusan ini setelahku?” Tidak ada yang berbaiat hingga Ali bin Abi Thalib mengulurkan tangannya dan berbaiat dengan jiwanya.


4. Syiah al-Ghaliyah

Syiah Ghaliyah adalah kelompok Syiah yang dikenal karena sikap berlebih-lebihan (ghuluw–ekstrem) terhadap para pemimpin mereka, hingga mengangkatnya keluar dari batas kemanusiaan dan menempatkannya pada derajat ketuhanan. Mereka menyerupakan pemimpin dengan Tuhan dan juga menyerupakan Tuhan dengan makhluk. Karenanya, mereka berada di antara berlebihan dalam pengagungan dan kekeliruan dalam memahami hakikat Tuhan.


Munculnya pemikiran ini sebagaimana disinggung oleh As-Syahrastani tidak lepas dari pengaruh berbagai ajaran sebelumnya, seperti paham hulul (penyatuan Tuhan dengan makhluk), reinkarnasi, serta pengaruh dari tradisi Yahudi dan Nasrani, yang masing-masing memiliki kecenderungan untuk menyerupakan Tuhan dengan makhluk atau sebaliknya. Pengaruh-pengaruh ini kemudian meresap ke dalam sebagian kelompok Syiah ekstrem, hingga melahirkan keyakinan yang menyimpang dalam memandang para imam.


Di sisi lain, ajaran-ajaran utama yang menjadi ciri kelompok ini dapat diringkas dalam empat hal, yaitu: (1) tasybih, yaitu menyerupakan Tuhan dengan makhluk; (2) bada’, yaitu keyakinan bahwa Tuhan dapat mengubah keputusan-Nya karena munculnya pengetahuan baru yang tidak diketahui sebelumnya; (3) raj’ah, yaitu kembali ke dunia setelah mati; dan (4) tanasukh atau reinkarnasi.


5. Syiah Isma’iliyah

Syiah Isma’iliyah adalah kelompok yang menetapkan bahwa kepemimpinan berada pada Ismail bin Ja’far sebagai putra tertua dari Ja’far ash-Shadiq, berbeda dengan kelompok lain yang mengalihkannya kepada selainnya. Mereka meyakini bahwa penunjukan terhadap Ismail telah terjadi sejak awal, dan tidak boleh dibatalkan.


Namun mereka sendiri terpecah dalam memahami nasib Ismail, sebagian berpendapat bahwa ia benar-benar wafat semasa hidup ayahnya, kemudian penunjukan Kepemimpinan tersebut berpindah kepada keturunannya, sementara sebagian lain meyakini bahwa ia tidak wafat, melainkan disembunyikan demi menjaga keselamatannya.


Salah satu keyakinan paling mencolok dalam aliran ini adalah bahwa siapa pun yang meninggal tanpa mengenal imam zamannya, matinya seperti mati jahiliyah. Demikian pula, siapa pun yang meninggal tanpa baiat kepada imam, matinya juga seperti mati jahiliyah. (As- Syahrastani, I/155-159).


Demikian tulisan tentang mengenal Syiah, mulai dari definisinya di masa awal yang hanya sebatas mendahulukan Ali atas Utsman, hingga pergeseran maknanya seiring waktu yang melahirkan berbagai doktrin dan akhirnya terpecah menjadi lima aliran besar sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Wallahu a’lam bisshawab.


Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.