Kunjungan ke Melbourne, Kiai Ma’ruf Amin: Ber-NU Harus dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Identitas
Ahad, 28 Juni 2026 | 13:00 WIB
Pertemuan Nahdliyin Victoria dengan Mustasyar PBNU KH Maruf Amin, Kamis (25/6/2026) (Foto: PCINU Australia)
Melbourne, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof KH Ma’ruf Amin bersilaturahim dengan warga NU (Nahdliyin) Victoria dalam kegiatan Dialog dan Diskusi bersama PCINU Australia–New Zealand di Melbourne pada Kamis (25/6/2026).
Acara tersebut dihadiri Konsul Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania, Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo, Ketua Tanfidziyah PCINU ANZ Arief Syamsulaksana, Prof. Nadirsyah Hosen, tokoh masyarakat, pengurus PCINU ANZ, serta Nahdliyin di Victoria.
Dalam dialognya, Kiai Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya dengan identitas. Menurutnya, ber-NU perlu dilandasi pemahaman, kesadaran, dan niat ibadah.
“Ber-NU itu bukan sekadar mengaku sebagai warga NU. Ber-NU harus dilakukan dengan kesadaran, pemahaman, dan sebagai bentuk ibadah,” ujar Prof Ma’ruf Amin.
Pihaknya juga menekankan pentingnya prinsip ‘ala bashirah, yakni bergerak dengan dasar ilmu dan keyakinan yang kuat. Dengan pemahaman yang benar, warga NU diharapkan tidak sekadar ikut arus, tetapi benar-benar memahami arah perjuangan jam’iyah.
“Bukan ikut-ikutan. Bukan karena orang tua. Bukan karena teman. Bukan karena guru. Tetapi karena benar-benar memahami,” tuturnya.
Prof Ma’ruf kemudian menjelaskan tiga hal penting dalam Khittah NU, yaitu fikrah, manhaj, dan harakah. Fikrah berarti cara berpikir, manhaj adalah metode dalam mengambil keputusan, sedangkan harakah merupakan gerakan nyata yang lahir dari keduanya.
“Karena itu NU adalah gerakan,” tegasnya.
Menurut Prof Ma’ruf, gerakan NU sejak awal mencakup tiga bidang utama, yaitu gerakan keagamaan, gerakan kebangsaan, dan gerakan ekonomi. Ketiganya perlu terus diperkuat agar NU tetap hadir memberi manfaat bagi umat dan bangsa.
Ia juga mengingatkan agar NU tidak dibelokkan menjadi alat kepentingan pribadi maupun kelompok. NU, kata dia, harus tetap menjadi alat perjuangan untuk mewujudkan kemaslahatan umat.
“NU bukan alat untuk memperoleh manfaat pribadi maupun manfaat kelompok,” ujarnya. “NU adalah alat perjuangan untuk mewujudkan kemaslahatan umat,” lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Konsul Jenderal RI untuk Victoria dan Tasmania, Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo, menyampaikan apresiasi kepada PCINU ANZ yang terus menjaga moderasi beragama di tengah masyarakat Australia yang beragam.
Ia menyebut komunitas Muslim Indonesia di Melbourne telah memberikan kontribusi positif, bukan hanya bagi warga Indonesia, tetapi juga bagi citra Islam Indonesia di tengah masyarakat multikultural Australia.
“Bukan hanya menjaga keimanan, tetapi juga menampilkan wajah Islam yang damai dan rahmatan lil ‘alamin,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCINU ANZ Arief Syamsulaksana menyampaikan terima kasih atas kehadiran Prof. Ma’ruf Amin bersama rombongan. Ia menyebut kehadiran tersebut menjadi kehormatan bagi warga Nahdliyin di Australia–New Zealand, khususnya di Melbourne.
Prof Nadirsyah Hosen dalam sambutannya turut mengenang kiprah panjang Prof Ma’ruf Amin di NU, dunia keulamaan, politik kebangsaan, hingga pengembangan ekonomi syariah. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga adab dalam perbedaan pendapat, sebagaimana tercermin dalam tradisi keilmuan para ulama NU.
Dialog ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguatan nilai-nilai Nahdlatul Ulama bagi diaspora Indonesia di Australia. Melalui kegiatan ini, warga Nahdliyin diharapkan terus menjaga ukhuwah, memperkuat moderasi beragama, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.
Kontributor: Arian Prasetiyawan