Khutbah

Khutbah Jumat: Seni Berlapang Dada di Tengah Ujian Kehidupan dari Imam al-Qusyairi

NU Online  ·  Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00 WIB

Khutbah Jumat: Seni Berlapang Dada di Tengah Ujian Kehidupan dari Imam al-Qusyairi

Ilustrasi berat menghadapi masalah. Sumber: Canva.

Saat ini kita hidup di era yang penuh dengan tantangan. Tantangan itu tidak hanya menekan raga, tetapi juga menguji kejernihan hati dan keteguhan iman. Karena itu, sudah sepatutnya kita memahami makna berlapang dada di tengah situasi yang serba sulit seperti saat ini.


Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Seni Berlapang Dada di Tengah Ujian Kehidupan dari Imam al-Qusyairi”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!


Khutbah I

الحَمْدُ لِلّٰهِ أَوَّلًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ أَخِرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ مُسْتَغْرِقُ المَحَامِدِ كُلِّهَا. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الحَاثِّ عَلٰى طَاعَةِ الكَرِيْمِ الغَفَّارِ، النَّاهِي عَنِ اتِّبَاعِ الهَوَى وَالنَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ وَكُلِّ ضَارٍّ. وَعَلٰى آلِهِ السَّادَةِ الأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ الأَبْرَارِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَى، وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَيْثُمَا كُنْتُمْ، وَأَتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ. وَالْعَصْرِۙ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ إِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui segala keadaan hamba-Nya, baik saat berada dalam kesempitan maupun kelapangan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah mewariskan teladan tentang bagaimana tetap bertakwa dalam setiap tarikan napas kehidupan.


Menjaga ketakwaan adalah sebuah keniscayaan yang wajib kita pegang dalam setiap keadaan. Maka, dalam suasana yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada seluruh hadirin, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa menjalankan seluruh perintah Allah Ta’ala dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya.


Allah Ta’ala berfirman:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dahulu, manusia diuji dengan keterbatasan makanan dan jarak yang jauh. Hari ini, kita diuji oleh banjirnya informasi, derasnya persaingan, cepatnya perubahan, dan beratnya ekspektasi. Media sosial dan stasiun televisi sering menampilkan “kehidupan sempurna” orang lain, sementara kita sendiri bergulat dengan cicilan, target kerja, tanggung jawab keluarga, dan rasa cemas akan masa depan yang belum pasti.


Namun, sesungguhnya kondisi ini bukanlah sesuatu yang baru. Jauh sebelum era digital lahir, Allah Ta’ala telah menetapkan sunnah kehidupan:


لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍ


Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)


Maka, wajar jika kita merasa lelah. Wajar jika usaha terasa berat, rezeki terasa sempit, dan hati sering gelisah. Sebab, memang demikianlah tabiat kehidupan dunia. Dunia bukan tempat bebas ujian, melainkan tempat manusia ditempa agar iman dan kesabarannya semakin kuat.


Karena itu, kita harus mampu menghadapi setiap ujian dan tantangan dengan lapang dada. Kita harus yakin bahwa di balik setiap ujian yang Allah berikan, selalu ada jalan kelapangan yang Allah siapkan.


Allah Ta’ala berfirman:


وَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۣطُۖ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ


Artinya: “Allah menyempitkan dan melapangkan. Kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Semua keadaan, baik sempit maupun lapang, pada hakikatnya bersifat sementara. Ujung dari semua perjalanan hidup adalah kembali kepada Allah Ta’ala untuk dihisab. Maka, janganlah kita terlena ketika berada dalam kelapangan, dan jangan pula berputus asa ketika berada dalam kesempitan.


Imam al-Qusyairi dalam kitab ar-Risalah al-Qusyairiyah, halaman 158, menyatakan bahwa terkadang suatu kelapangan datang secara tiba-tiba dan menimpa seseorang dalam keadaan yang tidak ia duga. Ia tidak mengetahui sebabnya, tetapi keadaan itu mengguncang dan mengusik dirinya.


Maka, jalan terbaik bagi orang yang mengalaminya adalah diam dan menjaga adab. Sebab, pada saat itu terdapat bahaya yang besar. Hendaklah ia berhati-hati terhadap tipu daya yang tersembunyi. Beliau menukil perkataan para ulama:


قِفْ عَلَى الْبِسَاطِ وَإِيَّاكَ وَالِانْبِسَاطَ


Artinya: “Berdirilah di atas hamparan, tetapi berhati-hatilah agar tidak berlebihan.”


Penjelasan ini mengingatkan kita untuk selalu waspada dalam setiap keadaan hidup, baik saat sedang lapang maupun sedang sempit. Ketika lapang, jangan sampai kita sombong dan lupa diri. Ketika sempit, jangan sampai kita putus asa dan berburuk sangka kepada Allah. Kita harus terus menjaga husnuzan bahwa takdir Allah Ta’ala adalah yang terbaik.


Para ulama mengatakan:


وَلِكُلِّ شَيْءٍ أَجَلٌ


Artinya: “Dan bagi setiap sesuatu ada batas waktunya.


Maka, kita harus yakin bahwa masa sulit, masa paceklik, masa gelisah, dan masa penuh tekanan tidak akan berlangsung selamanya. Semua ada batas waktunya di sisi Allah. Begitu pula kenikmatan, kelapangan, jabatan, kesehatan, dan masa muda, semuanya juga bersifat sementara.


Dengan kesadaran ini, hati kita akan menjadi lebih tenang. Kita tidak mudah panik saat menghadapi masalah, dan tidak mudah lupa diri saat mendapatkan nikmat. Kita akan lebih fokus dalam menjalani hidup, menghadapi tantangan, dan memperbaiki diri.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dari uraian singkat ini, ada pelajaran penting yang perlu kita pegang: sabar, bersyukur, dan tetap berusaha secara maksimal. Lapang dada bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Lapang dada berarti menerima ketentuan Allah dengan hati yang jernih, sambil tetap melakukan usaha terbaik yang bisa kita lakukan.


Mari kita perkuat keistiqamahan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Kita harus yakin bahwa dengan istiqamah, Allah akan memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapi setiap masalah yang ada.


Allah Ta’ala berfirman:


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ


Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak pula berduka cita.” (QS. Al-Ahqaf: 13)


Demikian khutbah singkat pada siang hari ini. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang mampu bersabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, dan tetap berlapang dada dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Amin ya Rabbal ‘alamin.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَا خَاصَّةً، وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.


اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.


Ustadz Abdul Karim Malik, alumni Al-Falah Ploso Kediri, pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dan pengajar di Pondok Pesantren YAPINK Tambun-Bekasi.