Khutbah

Khutbah Jumat: Keutamaan Melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh

NU Online  ·  Kamis, 25 Juni 2026 | 18:00 WIB

Khutbah Jumat: Keutamaan Melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh

Ilustrasi buka puasa. Sumber: Canva.

Selain berpuasa pada hari-hari tertentu seperti Tasu’a pada 9 Muharram dan Asyura pada 10 Muharram, kita juga dapat berpuasa pada hari-hari lainnya, terlebih pada momen yang memang dianjurkan untuk berpuasa, seperti Ayyamul Bidh. Dengan demikian, insyaallah kita akan mendapatkan keutamaan yang lebih banyak.


Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Keutamaan Melaksanakan Puasa Ayyamul Bidh”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

 

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.


أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah Jumat ini, marilah kita senantiasa mengingat segala anugerah yang telah dikaruniakan Allah kepada kita. Nikmat tersebut hendaknya kita syukuri dan kita gunakan di jalan kebaikan, serta menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah.


Pada kesempatan ini, khatib mengajak seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beribadah kepada Allah merupakan wujud nyata ketakwaan kita, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an:


يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ


Artinya: “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Bulan Muharram termasuk salah satu dari empat bulan mulia yang diterangkan dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:


اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ


Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus. Maka, janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu, dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)


Dalam Tafsir al-Ibriz, Juz 10, halaman 536, KH. Bisri Mustofa menerangkan bahwa empat bulan mulia yang dimaksud adalah Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut, kita dianjurkan untuk memuliakannya dengan menjalankan berbagai kebaikan serta menjauhi maksiat.


Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menghiasi bulan Muharram ini dengan berbagai amalan mulia, salah satunya dengan melaksanakan puasa sunnah. Puasa sunnah di bulan Muharram bahkan disebut sebagai puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ


Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.’” (HR. Muslim)


Imam an-Nawawi dalam al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, Juz VIII, halaman 55, menjelaskan bahwa hadits ini mempertegas hukum dan keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Dengan kata lain, semakin banyak kita berpuasa pada bulan Muharram, maka semakin baik. Bisa berpuasa sehari, dua hari, tiga hari, atau bahkan sepanjang bulan Muharram apabila memang tidak memberatkan.


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Selain berpuasa pada hari-hari tertentu, seperti Tasu’a pada 9 Muharram dan Asyura pada 10 Muharram, kita juga dapat berpuasa pada hari-hari lain. Terlebih jika hari tersebut bertepatan dengan momen yang memang dianjurkan untuk berpuasa, seperti Ayyamul Bidh. Maka, insya Allah kita akan mendapatkan keutamaan yang lebih banyak.


Puasa tiga hari pada setiap bulan Qamariyah, atau yang sering disebut puasa Ayyamul Bidh, merupakan puasa sunnah yang sangat dianjurkan. Pahala puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan sangat besar. Barangsiapa menjalankan puasa tiga hari Ayyamul Bidh, maka ia mendapatkan pahala seperti puasa selama sebulan. Jika dilakukan setiap bulan, pahalanya seperti puasa setahun penuh.


Rasulullah SAW bersabda:


وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا، فَإِنَّ ذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ


Artinya: “Sungguh, cukup bagimu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan, sebab kamu akan menerima sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang kamu lakukan. Karena itu, puasa tersebut seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Adapun tata cara melaksanakan puasa Ayyamul Bidh adalah dengan menghadirkan niat di hati. Puasa sunnah ini dapat dilakukan dengan niat puasa mutlak, seperti “Saya niat puasa.” Namun, yang lebih baik adalah niat secara khusus sebagaimana berikut:


نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى


Nawaitu shauma ayyāmil bīḍ lillāhi ta‘ālā.


Artinya: “Saya niat puasa Ayyamul Bidh karena Allah Ta’ala.


Selain niat di dalam hati, disunnahkan pula mengucapkannya dengan lisan. Niat puasa Ayyamul Bidh dapat dilakukan sejak malam hari hingga siang hari sebelum masuk waktu zawal, yaitu saat matahari tergelincir ke barat, dengan syarat belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar atau sejak masuk waktu subuh. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Mu‘in, Juz II, halaman 223.


Setelah berniat, seseorang melaksanakan puasa dengan menahan diri dari segala hal yang membatalkan, seperti makan, minum, dan semisalnya, hingga waktu berbuka tiba. Selain itu, ia juga harus menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengurangi atau membatalkan pahala puasa, seperti berkata kotor, menggunjing orang lain, dan melakukan perbuatan dosa.


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikianlah keterangan singkat mengenai pentingnya melaksanakan ibadah puasa sunnah di bulan Muharram. Tidak hanya puasa Tasu’a dan Asyura, kita juga dapat melengkapinya dengan melaksanakan puasa Ayyamul Bidh.


Dengan melaksanakan amalan-amalan tersebut, insya-Allah kita akan memperoleh banyak pahala. Selain itu, amalan ini juga dapat menjadi permulaan yang baik bagi kita untuk membuka lembaran tahun baru dengan ketaatan. Dengan niat yang baik pada masa kini, semoga Allah Ta’ala semakin memudahkan langkah kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan berikutnya.


Untuk menutup khutbah ini, marilah kita berdoa semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan, kesehatan, dan kemudahan kepada kita semua. Semoga kita dan seluruh keluarga kita diberi kekuatan untuk melaksanakan kebaikan-kebaikan yang diperintahkan oleh Allah, serta dijauhkan dari segala perkara yang dapat mendatangkan murka-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.


بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.


Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا، وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِۙ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.


اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ، وَالْوَبَاءَ، وَالطَّاعُوْنَ، وَالْأَمْرَاضَ، وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُونِيْسِيَا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.


Ustadz Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali.