Bukan Sekadar Dibaca, Gus Yahya: Al-Qur’an Harus Dipelajari dan Diurai dengan Ilmu
Selasa, 10 Maret 2026 | 08:00 WIB
Gus Yahya saat peluncuran Gerakan AGUS (Al-Qur’an dan Gizi untuk Santri) yang digagas Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU di Pondok Pesantren Al-Uswah, Gunungpati, Kota Semarang pada Ahad (8/3/2026).
Semarang, NU Online Jateng
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca dan dilantunkan, tetapi harus menjadi pedoman hidup umat Islam, khususnya bagi kalangan pesantren.
Hal tersebut disampaikan Gus Yahya saat peluncuran Gerakan AGUS (Al-Qur’an dan Gizi untuk Santri) yang digagas Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU di Pondok Pesantren Al-Uswah, Gunungpati, Kota Semarang pada Ahad (8/3/2026).
Menurutnya, distribusi 100.000 mushaf Al-Qur’an melalui program tersebut memiliki makna yang lebih dalam bagi jam’iyah Nahdlatul Ulama.Karena itu, ia menekankan bahwa Al-Qur’an tidak boleh hanya dibaca, tetapi harus dipahami dan dijadikan pedoman hidup.
"Al-Quran itu mestinya bukan hanya lit tilawah was sum’ah saja. Quran itu inti fungsinya adalah sebagai imam,” ujarnya.
Gus Yahya menambahkan bahwa untuk mengikuti Al-Qur’an sebagai pemimpin kehidupan, umat Islam harus mempelajarinya melalui ilmu yang diwariskan para ulama.
“Quran harus dipelajari, harus diurai dengan ilmu,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tradisi keilmuan tersebut diwariskan secara sanad yang bersambung hingga Rasulullah saw, yang dijaga oleh para ulama dan kiai di pesantren.
“Para kiai, para ulama ini mengambil ilmu dari orang sebelumnya dan seterusnya sampai kepada Rasulullah dengan sanad yang bersambung,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa NU sebagai jam’iyah para ulama memiliki tanggung jawab untuk menjaga tradisi keilmuan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an.
Selengkapnya klik di sini.