Khutbah

Khutbah Istisqa: Saat Kekeringan Melanda Saatnya Muhasabah dan Berbenah Diri

Kamis, 10 September 2026 | 12:54 WIB

Khutbah Istisqa: Saat Kekeringan Melanda Saatnya Muhasabah dan Berbenah Diri

Khutbah Istisqa (magnific)

Salah satu hikmah dari adanya kekeringan yang melanda umat manusia adalah mengingatkan mereka akan besarnya nikmat hujan dan air dalam kehidupan sehari-hari. Pada momen ketika kekeringan melanda dan air sulit didapatkan inilah, semua manusia sama-sama membutuhkan rahmat dan pertolongan Allah swt, dan di saat ini pula menjadi momen yang tepat untuk kembali bermuhasabah dan memperbaiki diri.

 

Naskah khutbah berikut ini dengan judul, “Khutbah Istisqa: Saat Kekeringan Melanda Saatnya Muhasabah dan Berbenah Diri”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

 

Khutbah I

 

أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومَ وَأَتُوبُ إِليْهِ ([9]). اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِلٰهَا وَاحِدًا إِيَّاهُ يَقْصِدُونَ وَإِلىَ رِضْوَانِهِ يَرْغَبُونَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمَأْمُوْنُ. ٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تعالى: فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا، يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا


 

Ma’asyiral muslimin wal muslimat yang dirahmati Allah


 

Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita semua. Dia Zat yang telah menurunkan air dari langit, untuk memberikan penghidupan di bumi. Shalawat dan salam mari senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, para keluarga, dan para sahabatnya.

 

Selanjutnya, khatib berwasiat kepada jamaah sekalian, untuk terus berusaha meningkatkan takwa. Dengan menunaikan segala perintah dan larangan-Nya, serta senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi diri dan evaluasi secara menyeluruh, karena dengan cara itulah kita semua bisa mengubah hal-hal yang kurang baik menjadi lebih baik dalam hidup kita. 

 

Berkaitan dengan muhasabah ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

 


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ


Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr, [59]: 18).


Ma’asyiral muslimin wal muslimat yang dirahmati Allah

 

Hari ini berkumpul bersama-sama untuk bermunajat dan mengetuk pintu langit, sembari berharap keberkahan turunnya hujan untuk keberlangsungan hidup di muka bumi ini. Kita bermunajat kepada Allah swt dalam keadaan yang sangat butuh, mulai dari membutuhkan air untuk minum, untuk tanaman, untuk hewan ternak, maupun untuk seluruh kehidupan yang bergantung kepadanya.

 

Maka pada momen inilah waktu yang tepat bagi kita semua untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri dengan sungguh-sungguh. Mari kekeringan ini jangan hanya jadikan momen untuk mengevaluasi persediaan air, tetapi juga momen untuk muhasabah diri, mulai dari sejauh mana kita menjalankan perintah Allah, meninggalkan larangan-Nya, dan mensyukuri nikmatnya.

 

Al-Qur’an mengajarkan kepada kita semua bahwa dengan memperbanyak membaca istighfar dan kembali kepada Allah dapat menjadi salah satu jalan yang mengiringi turunnya hujan dan datangnya keberkahan. Allah swt berfirman:

 


اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا، يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا، وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

 

Artinya, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12).

 

Ayat ini mengajarkan kepada kita semua untuk memperbanyak istighfar kepada Allah swt atas segala dosa dan kesalahan, khususnya ketika terjadi kekeringan. Namun, istighfar di sini tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan saja, melainkan harus kita wujudkan dengan kembali kepada Allah, meninggalkan dosa, dan memperbaiki ketaatan.

 

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir, bahwa ketika seseorang benar-benar memohon ampunan dengan bertobat dan menaati segala perintah, maka Allah akan membukakan segala pintu keberkahan baginya, termasuk keberkahan yang berasal dari langit dan bumi. 

 


Dalam kitab Tafsir Al-Qur’anil Adzim, jilid VIII, halaman 233, Ibnu Katsir mengatakan:

 


إِذَا تُبْتُمْ إِلىَ اللهِ وَاسْتَغْفَرْتُمُوْهُ وَأَطَعْتُمُوْهُ، كَثُرَ الرِّزْقُ عَلَيْكُمْ، وَأَسْقَاكُمْ مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَنْبَتَ لَكُمْ مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، وَأَنْبَتَ لَكُمُ الزَّرْعَ وَأَدَرَّ لَكُمُ الضَّرْعَ


 

Artinya, “Jika kalian bertobat kepada Allah, memohon ampun kepada-Nya, dan menaati-Nya, niscaya rezeki akan dilapangkan bagi kalian, Dia akan memberi kalian minum dari keberkahan langit, menumbuhkan keberkahan bumi, menumbuhkan tanaman, dan melimpahkan air susu bagi kalian.”

 

Bertobat merupakan bagian paling pokok dari muhasabah dan upaya memperbaiki diri, sebab seseorang akan melakukannya setelah ia menyadari kesalahannya dan mengetahui kelalaiannya, kemudian akan berusaha untuk tidak mengulanginya kembali.


Ma’asyiral muslimin wal muslimat yang dirahmati Allah


Oleh sebab itu, mari kekeringan ini tidak hanya kita jadikan momen untuk memohon agar hujan segera turun, tetapi juga kita jadikan sebagai momen untuk muhasabah atau evaluasi diri, kembali kepada Allah, serta memperbaiki kehidupan kita. Caranya adalah jangan berhenti hanya pada kalimat “astahghfirullah” saja, tetapi harus terbukti dalam cara kita memperlakukan nikmat Allah, termasuk nikmat air.


Selama air masih ada dan bisa kita dapatkan, jangan gunakan secara berlebihan, atau membiarkan keran terus mengalir tanpa adanya kebutuhan, atau menggunakan air untuk sesuatu yang tidak diperlukan. Perbuatan seperti merupakan tindakan yang tidak diperbolehkan dalam Islam, Allah swt berfirman:

 

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

 

Artinya, “Dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).


Ma’asyiral muslimin wal muslimat yang dirahmati Allah


Selain bermuhasabah terhadap diri sendiri, kita juga perlu melihat keadaan saudara-saudara di sekitar kita. Kekeringan bukan hanya soal berkurangnya air, tetapi juga tentang siapa yang paling terdampak olehnya. Ketika ada orang yang kesulitan mendapatkan air, harus berjalan jauh untuk mengambilnya, atau bahkan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk kebutuhan yang paling dasar ini, jangan sampai kita memilih untuk tidak peduli.

 

Jika kita memiliki kemampuan, mari berbagi. Bisa dengan memberikan air, bersedekah, atau membantu kebutuhan mereka. Sebab menghadapi kekeringan bukan hanya tentang berdoa agar hujan segera turun untuk diri kita sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir dan meringankan kesulitan orang lain.

 

Muhasabah juga tidak cukup berhenti pada diri pribadi. Ada muhasabah kolektif yang perlu dilakukan bersama. Kita perlu bertanya: apa yang sudah kita lakukan terhadap alam dan sumber daya air yang kita miliki?

 

Pemerintah, misalnya, perlu bermuhasabah dengan mengevaluasi kebijakan, tata kelola sumber daya air, serta sejauh mana masyarakat mendapatkan akses air yang layak. Perusahaan juga perlu melihat kembali aktivitasnya: apakah kegiatan yang dilakukan ikut menjaga sumber air atau justru berpotensi merusaknya?

 

Lembaga pendidikan pun memiliki peran penting untuk menanamkan kesadaran kepada peserta didik agar mereka memahami bahwa air bukan sesuatu yang tidak terbatas dan lingkungan bukan sekadar tempat untuk mengambil manfaat.

 

Di tingkat keluarga, orang tua juga perlu mengajarkan kepada anak untuk menghargai air, tidak menggunakannya secara berlebihan, serta memiliki kepedulian terhadap orang lain yang sedang mengalami kesulitan. Dengan begitu, kepedulian terhadap air tidak berhenti sebagai nasihat, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan dan karakter sejak dini.

 

Pada akhirnya, kekeringan adalah persoalan bersama. Karena itu, muhasabah juga harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya individu, tetapi keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dunia usaha, hingga pemerintah.

 

Jangan sampai kita hanya sibuk memohon hujan, tetapi lupa memperbaiki cara kita memperlakukan alam, mengelola sumber daya air, dan memperhatikan sesama. Doa perlu berjalan bersama ikhtiar. Dan salah satu bentuk ikhtiar itu adalah belajar untuk lebih bijak menggunakan air sekaligus lebih peka terhadap mereka yang sedang kekurangan.


Ma’asyiral muslimin wal muslimat yang dirahmati Allah

 

Oleh sebab itu, mari kita jadikan kekeringan ini sebagai momentum untuk benar-benar berubah, tidak hanya diri sendiri, tetap juga mengubah diri secara kolektif. Mari kita perbaiki hubungan dengan Allah swt dan dengan sesama, mari kita gunakan air dengan bijak, dan mari kita sama-sama peduli terhadap lingkungan di sekitar kita.

 


Semoga doa yang kita panjatkan hari ini tidak hanya mengantarkan hujan dari langit, tetapi juga dapat menghadirkan perubahan dalam diri kita, sehingga ketika hujan itu benar-benar turun, kita menjadi hamba yang lebih pandai bersyukur dan lebih bertanggung jawab dalam menjaga nikmat Allah swt.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II


 [(7x)] أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّومَ وَأَتُوبُ إِليْهِ



اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ


أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
 

Khatib menghadap kiblat, membalikkan selendang surban, dan memindahkannya dari bahu kanan ke bahu kiri.

 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْها سُقْيا رَحْمَةٍ وَلا تَجْعَلْها سُقْيا عَذَابٍ وَلا مَحقٍ وَلا بَلاءٍ، وَلا هَدْمٍ وَلا غَرَقٍ، اللَّهُمَّ عَلى الظِّرَابِ وَالآكَامِ وَمَنَابِتِ الشّجَرِ وَبُطُونِ الأودِيَةِ، اللَّهُمَّ حَوَالَيْنا وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنا غَيْثاً مغِيثاً هَنِيئاً مَرِيئاً مُرِيعاً سَحّاً عامّاً غَدَقاً طَبَقاً مُجَلَّلاً دائماً إلى يَوْمِ الدِّينِ، اللَّهُمَّ اسْقِنا الغَيْثَ وَلا تَجعَلْنا مِنَ القَانِطِينَ، اللَّهُمَ إنَّ بِالعِبادِ وَالبِلاَدِ مِنَ الجهْدِ وَالْجوعِ والضّنْكِ ما لا نَشْكُو إلاّ إلَيْكَ، اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضّرْعَ وَأَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكاتِ السَّمَاءِ وَأنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الأَرْضِ، وَاكْشِفْ عَنّا مِنَ البَلاءِ مَا لاَ يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إنَّكَ كُنْتَ غَفَّاراً فَأَرْسِل السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَاراً وَيَغْتَسِلُ في الوَادِي إذَا سالَ وَيُسَبِّحُ للرَّعْدِ وَالبَرْقِ

 

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

------------
Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop Bangkalan Jawa Timur.