Khutbah

Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Idul Fitri

Rabu, 18 Maret 2026 | 18:30 WIB

Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Idul Fitri

khutbah Jumat

Salah satu kegiatan yang dianjurkan dilakukan pada malam hari raya Idul Fitri ialah mengumandangkan takbir. Selain sebagai tanda berakhirnya bulan Ramadhan, membaca takbir juga merupakan wujud syukur bagi umat Islam atas anugerah yang telah Allah berikan. Anugerah berupa diberikan hidayah untuk dapat mengisi bulan Ramadhan dengan amal saleh dan menyempurnakan ibadah puasa selama sebulan penuh.

 


Teks khutbah Jumat berikut berjudul "Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Hari Raya Idul Fitri,". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.


 

Khutbah I


الْحَمْدُ لِلهِ الََّذِيْ أَعَزَّ الْإِسْلَامَ بِشَعَائِرِهِ، وَشَرَعَ لِعِبَادِهِ مَا يُظهِرُ بِهِ تَعْظِيْمَهُ وَتَكْبِيْرَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الدَّاعِيْ إِلَى تَعْظِيْمِ اللهِ وَإِظْهَارِ شَعَائِرِ دِيْنِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ 
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt, 

 

Saat ini kita berada di hari Jumat terakhir di bulan Ramadhan. Namun sebelumnya marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan terutama nikmat iman dan Islam yang merupakan nikmat terbesar yang kita miliki. Termasuk kenikmatan bisa beribadah di bulan Ramadhan tahun ini.

 

Tak lupa pula shalawat beserta salam, mari kita haturkan bersama kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Amin ya Rabbal ‘alamin. 

 

Khatib juga mengajak pada jamaah sekalian sekaligus diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah Swt dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. 

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt, 


Salah satu amalan yang dianjurkan pada malam hari raya Idul Fitri adalah membaca takbir. Takbir bukan hanya menandai berakhirnya bulan Ramadhan, tetapi juga menjadi ungkapan rasa syukur umat Islam atas segala karunia yang diberikan Allah. Salah satunya adalah hidayah, sehingga kita dapat menjalani Ramadhan dengan amal baik dan menunaikan ibadah puasa secara sempurna selama sebulan penuh.

 

Anjuran sunnah membaca takbir pada malam Idul Fitri pun disebutkan dalam Al-Qur’an, salah satunya pada surat Al-Baqarah ayat 185, Allah swt berfirman:

 


وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ


Artinya: “Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuNya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur”. (Qs. Al-Baqarah: 185)


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt, 


Syekh Nawawi Banten dalam kitab Marah Labid (Juz I, hal. 61) menjelaskan bahwa ayat tersebut memuat beberapa perintah penting. Pertama, perintah untuk mencukupi jumlah puasa dengan mengqadha puasa yang terlewat selama bulan Ramadhan. Kedua, kesunnahan untuk mengumandangkan takbir pada hari raya. Ketiga, ajakan untuk mengagungkan Allah atas hidayah yang telah diberikan-Nya.

 

Lafadz “walitukmilul ‘iddata” berarti “mencukupkan bilangan”, yaitu memastikan jumlah puasa yang dilakukan sesuai dengan jumlah hari dalam bulan Ramadhan yang terlewat. Ketentuan ini berlaku bagi orang yang ingin mengqadha puasa di kemudian hari, mengingat satu bulan hijriah bisa berjumlah 29 atau 30 hari.


Selain itu, ayat ini juga menegaskan kesunnahan membaca takbir pada hari raya Idul Fitri. Menurut Syekh Muhammad bin Qosim Al-Ghazi dalam kitab Fathul Qarib (hal. 103), membaca takbir disunnahkan bagi semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, di rumah maupun dalam perjalanan, di lingkungan pemukiman, jalanan, masjid, maupun pasar. Waktu membaca takbir dimulai sejak matahari terbenam pada malam hari raya Idul Fitri hingga imam masuk untuk menunaikan shalat Ied.

 


Amalan ini dilakukan sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada Allah swt atas segala karunia dan hidayah. Lebih jauh lagi, Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab Mafatihul Ghaib, juz V, hal 259 menjelaskan bahwa maksud dari takbir pada ayat di atas ialah mengumandangkan takbir pada malam hari raya Idul Fitri sebagaimana riwayat Ibnu Abbas. 

 


Simak penjelasan Imam Ar-Razi berikut:


قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: حَقٌّ عَلَى الْمُسْلِمِينَ إِذَا رَأَوْا هِلَالَ شَوَّالٍ أَنْ يُكَبِّرُوا، وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: وَأُحِبُّ إِظْهَارَ التَّكْبِيرِ فِي الْعِيدَيْنِ، وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ وَأَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: يُكْرَهُ ذَلِكَ غَدَاةَ الْفِطْرِ، وَاحْتَجَّ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلى مَا هَداكُمْ وَقَالَ: مَعْنَاهُ وَلِتُكْمِلُوا عِدَّةَ شَهْرِ رَمَضَانَ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عِنْدَ انْقِضَائِهِ عَلَى مَا هَدَاكُمْ إِلَى هَذِهِ الطَّاعَةِ


Artinya: “Ibnu Abbas berkata: wajib bagi umat Islam untuk membaca takbir ketika mereka melihat hilal Syawal. Imam Syafii berkata: aku menyukai membaca takbir pada dua hari raya. Pendapat ini didukung oleh Imam Malik, Ahmad, Ishak, Abu Yusuf dan Muhammad. Abu Hanifah berkata: dimakruhkan membaca takbir pada pagi hari raya Idul Fitri. 


Imam Syafii berargumentasi dengan firman Allah ta’ala: “walitukmilul ‘iddata walitukabbirullaha ‘ala ma hadaakum”, Imam Syafii berkata maknanya ialah “hendaklah kamu menyempurnakan bilangan bulan Ramadhan agar kemudian kamu mengagungkan Allah (membaca takbir) ketika selesai sesuai dengan petunjuk-Nya pada ketaatan ini”. 

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt, 

 


Selain sebagai tanda berakhirnya Ramadhan, mengumandangkan takbir pada malam hari raya Idul Fitri juga merupakan bagian dari syiar Islam. Terkait hal ini, Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil Adzim (Juz I, hal. 371) menukil ucapan Ibnu Abbas yang berkata bahwa setelah selesai shalat, Rasulullah saw. tidak melakukan hal lain selain membaca takbir. 


Berdasarkan hal ini, mayoritas ulama menjadikan ayat tersebut sebagai dasar disyariatkannya membaca takbir pada hari raya Idul Fitri. Bahkan, menurut Daud bin Ali Al-Asbahani Adz-Dzahiri, mengumandangkan takbir pada hari raya Idul Fitri hukumnya wajib, jika dilihat dari makna lahiriah (dzahir) perintah dalam ayat tersebut.

 

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا بِالتَّكْبِيرِ، وَلِهَذَا أَخَذَ كَثِيرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ مَشْرُوعِيَّةَ التَّكْبِيرِ فِي عِيدِ الْفِطْرِ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلى مَا هَداكُمْ حَتَّى ذَهَبَ دَاوُدُ بْنُ عَلِيٍّ الْأَصْبَهَانِيُّ الظَّاهِرِيُّ إِلَى وُجُوبِهِ فِي عِيدِ الْفِطْرِ لِظَاهِرِ الْأَمْرِ


Artinya: “Ibnu Abbas berkata: kami tidak mengetahui hal lain yang dilakukan Rasulullah setelah selesai shalat selain membaca takbir. Oleh karenanya, mayoritas ulama menjadikan ayat ini sebagai argumentasi disyariatkannya membaca takbir pada hari raya Idul Fitri. Bahkan Daud bin Ali Al-Asbahani Adz-Dzahiri berpendapat bahwa mengumandangakan takbir pada hari raya Idul Fitri dihukumi wajib melihat dari dzahir perintah”.

 

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk mengumandangkan takbir pada malam hari raya Idul Fitri hingga imam masuk untuk melaksanakan shalat ied di pagi harinya. Selain sebagai tanda berakhirnya Ramadhan, mengumandangkan takbir juga merupakan bagian dari syiar Islam dan sangat disunnahkan untuk dilakukan.

 

Demikian khutbah Jumat kali ini, di akhir Ramadhan tahun ini, mari kita panjatkan doa terbaik semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dan meraih predikat orang yang bertakwa di sisi Allah.

 


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

 

Khutbah II 

 

الْحَمْدُ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
 

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 

اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.  رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ  


----------
Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu