Salah satu problem yang ada di hadapan kita saat ini adalah tergerusnya nilai-nilai moral dan akhlak di setiap lapisan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus penindasan, pelecehan, dan berbagai penyimpanan lainnya. Islam menawarkan satu solusi untuk memerangi degradasi moral tersebut dari akarnya, yaitu dengan memperbaiki kualitas shalat.
Berikut naskah khutbah Jumat yang berjudul, “Khutbah Jumat: Degradasi Moral dan Kualitas Shalat”. Untuk mencetaknya, silakan klik ikon berwarna merah pada bagian kanan atas desktop. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ تَعَالَى فَي كِتَابِهِ الكَرِيمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ: اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Hadirin jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah
Di hari yang mulia, di tempat yang mulia dan dengan tujuan serta niat yang mulia ini marilah kita berupaya melaksanakan wasiat mulia, yakni wasiat untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada allah swt. dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang oleh-Nya.
Karena yang menjadi barometer kemuliaan seseorang dalam pandangan Allah Swt. bukanlah harta, jabatan atau materi lainnya, melainkan sedalam apa ia menancapkan pondasi ketakwaan dalam hatinya. Dalam surat Al-Hujurat ayat 13, Allah swt berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti."
Baca Juga
Khutbah Jumat: 4 Resep Hidup Bahagia
Hadirin jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah
Belakangan ini, kita menyaksikan terkikisnya nilai-nilai agama dan moral dalam kehidupan masyarakat. Berita tentang tindak kekerasan, pelecehan, korupsi, penyalahgunaan wewenang, hingga berbagai bentuk kemaksiatan dan tindakan yang tidak bermoral lainnya silih berganti memenuhi ruang publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembangunan material belum tentu sejalan dengan kemajuan akhlak dan spiritualitas.
Hal ini terkesan miris mengingat Indonesia sendiri dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi moralitas dan sopan santun. Karakter yang menjadi nilai luhur bangsa dan sejalan dengan ajaran Islam itu semakin memudar seiring dengan perkembangan zaman. Hal ini patut menjadi perhatian kita semua untuk kemudian bagaimana nilai-nilai moral tersebut kembali tertanam dalam diri setiap individu.
Hadirin jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah
Islam dengan seperangkat ajarannya, sejatinya telah menawarkan solusi untuk mengatasi degradasi moral. Salah satunya adalah dengan shalat. Ia bukan hanya ritual yang menghubungkan antara hamba dengan Tuhannya, tetapi ia juga digadang-gadang sebagai media yang mampu meminimalisir degradasi moral dan kemungkaran yang berpotensi muncul dari seseorang. Dalam Al-Quran, Allah swt berfirman:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Artinya: "Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Ankabut: 45).
Ayat di atas menegaskan bahwa salah satu hikmah shalat adalah dapat mencegah seseorang dari melakukan prilaku tercela.
Menurut Imam Fakhruddin ar Razi dalam kitab Mafatihul Ghaib, juz XXV halaman 61, terdapat beberapa alasan logis mengapa shalat dapat menjadi upaya untuk meminimalisir kemungkaran.
Salah satunya adalah karena shalat dapat meningkatkan ketakwaan seorang hamba kepada Allah swt. Ketika hubungan batin antara hamba dengan Tuhannya kuat, dalam kondisi apapun ia akan selalu merasa diawasi oleh-Nya. Perasaan inilah yang mampu membendung prilaku buruk yang berpotensi muncul dari diri seseorang, karena ia selalu merasa dekat dan diawasi oleh Allah swt.
Karenanya, meskipun shalat merupakan ritual ibadah personal, tetapi efek dari shalat dapat dirasakan secara sosial. Shalat memang disyariatkan sebagai media komunikasi atau munajat seorang hamba dengan Tuhannya, tapi tolok ukur baik tidaknya shalat seseorang dapat dilihat salah satunya dari prilaku kesehariannya. Karena itu, dapat dikatakan bahwa shalat adalah ibadah yang diproyeksikan untuk mencetak pribadi yang bukan hanya saleh secara ritual tetapi juga saleh secara sosial.
Namun, shalat akan memiliki dampak yang signifikan dalam pembentukan karakter seseorang manakala dilakukan dengan khusyuk dan penuh penghayatan. Shalat yang kosong dari hal tersebut tidak akan memiliki efek signifikan untuk mencegah kemungkaran yang timbul dari orang tersebut, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat di atas.
Terkait hal ini, Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam At-Tafsirul Munir, juz XX, halaman 249, berkata:
"Semua itu (dampak positif shalat) akan muncul jika shalat dilakukan dengan khusyuk, penuh ketundukan keikhlasan sebagaimana yang sudah disebutkan. Sehingga, shalat akan memiliki makna dan ruh, ia akan memiliki cahaya yang memenuhi hati karena dilakukan dengan memikirkan keagungan Allah dan takut kepada-Nya. Jika hal itu tidak terpenuhi, maka shalat hanya akan menjadi gerakan dan perbuatan lahiriah semata tanpa ada pengaruh yang berarti."
Hadirin jama’ah shalat Jum’at rahimakumullah
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, juz VI, halaman 255, juga menjelaskan bahwa shalat itu harus memenuhi tiga unsur; ikhlas, rasa takut (ketundukan) dan zikir.
Jika salah satu dari tiga hal ini tidak terpenuhi, maka sejatinya hakikat shalat masih belum terwujud. Tiga hal inilah yang kemudian dapat membentuk karakter seorang muslim. Sebab, jika seseorang mampu menginternalisasikan tiga unsur di tadi dalam kehidupan sehari-hari, maka hal tersebut bisa menjadi rem baginya dari melakukan tindakan mungkar.
Hadirin jamaah shalat Jum’at rahimakumullah
Maka dari itu, berbagai masalah moralitas yang kita lihat saat ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan aturan dan hukuman. Perbaikan akhlak harus dimulai dari perbaikan hati, dan shalat adalah salah satu sarana terpenting untuk membersihkan hati ketika dikerjakan dengan khusyuk, ikhlas, serta menghadirkan kesadaran akan pengawasan Allah Swt. Semakin baik kualitas shalat seseorang, maka semakin besar pula pengaruhnya dalam membentuk kejujuran, amanah, dan pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.
Karenanya, marilah kita berusaha memperbaiki kualitas shalat kita, menghadirkan hati saat bermunajat kepada Allah swt, serta menjadikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai pedoman dalam bersikap dan berinteraksi dengan sesama. Jangan sampai shalat yang kita kerjakan setiap hari hanya menjadi rangkaian gerakan tanpa ruh dan penghayatan.
Semoga kita semua senantiasa diberikan hidayah dan kekuatan oleh Allah swt untuk terus mampu menjaga shalat dengan sebaik-baiknya, sehingga dengan wasilah itu kita akan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar serta memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Amin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريكَ لَهُ ارْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ سَيِّدُ الإِنْسِ وَالبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تعالى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وعلى آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا اَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَحَابَةِ والتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعَوَاتِ
اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْاِسْلَامَ وَالْمُسْلِمَيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدَّيْنَ وَاخْذّلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ واللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Ustadz Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.