Khutbah

Khutbah Jumat: Jangan Sampai Jabatan dan Harta Melalaikan Kita, Belajar dari Surah At-Takatsur

Senin, 7 September 2026 | 19:00 WIB

Khutbah Jumat: Jangan Sampai Jabatan dan Harta Melalaikan Kita, Belajar dari Surah At-Takatsur

Ilustrasi uang. Sumber: Canva.

Kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba-lomba memperebutkan harta duniawi. Banyak jalan untuk memperolehnya, termasuk melalui jabatan dengan segala fasilitasnya yang cukup fantastis. Pada tahap inilah tidak sedikit orang yang memperoleh jabatan kemudian terlena dengan berbagai fasilitasnya, bahkan masih merasa kurang sehingga melakukan berbagai hal demi memenuhi nafsunya.


Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Jangan Sampai Jabatan dan Harta Melalaikan Kita, Belajar dari Surah At-Takatsur”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

 

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ مَنْ اتَّقَى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ ۝ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ۝ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ۝ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ ۝ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ۝ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ ۝ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ۝


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu bentuk ketakwaan adalah bagaimana kita menempatkan dunia secara proporsional.


Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci dunia, apalagi meninggalkan kemajuan. Seorang muslim justru dianjurkan bekerja, membangun usaha, mengembangkan ilmu, meningkatkan kesejahteraan, dan memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kemajuan dunia membuat kita lupa kepada tujuan hidup sebagai seorang muslim.


Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:


اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ


Artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, dan berlomba-lomba memperbanyak harta dan anak keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20)


Ayat ini bukan larangan untuk menjadi kaya, memiliki kedudukan, atau menikmati kemajuan. Ayat ini hendak memperingatkan ketika sesuatu yang semestinya menjadi sarana kehidupan berubah menjadi ukuran keberhasilan dan kebanggaan diri.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Dalam konteks kehidupan kita, perlombaan dunia tidak selalu berbentuk harta. Ada pula perlombaan mendapatkan jabatan, kekuasaan, pengaruh, fasilitas, dan kehormatan.


Jabatan yang semestinya menjadi sarana untuk mengabdi kepada masyarakat dapat berubah menjadi sesuatu yang diperebutkan karena di dalamnya terdapat berbagai keuntungan: kewenangan, fasilitas, akses, penghormatan, dan pengaruh.


Di sinilah kita perlu berhati-hati. Seseorang mungkin awalnya ingin menjadi pejabat karena ingin berbuat baik. Tetapi setelah memperoleh jabatan, ia mulai menikmati fasilitasnya. Kemudian, ia merasa nyaman dengan kekuasaannya.


Setelah itu muncul keinginan mempertahankan posisi, mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi, memperluas pengaruh, atau menempatkan orang-orang terdekat di sekitar kekuasaan. Tanpa disadari, tujuan pengabdian dapat bergeser menjadi kepentingan mempertahankan kekuasaan.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Inilah yang perlu kita renungkan dari konsep tafakhur (berbangga-bangga) dan takāṡur (berlomba memperbanyak). Manusia bukan hanya bisa berlomba dalam mengumpulkan uang, tetapi juga dapat berlomba dalam memperoleh sesuatu yang membuat dirinya tampak lebih tinggi daripada orang lain.


Dalam kehidupan pejabat, bentuknya bisa sangat konkret. Misalnya, jabatan yang semestinya cukup untuk menjalankan tugas justru dipandang sebagai kesempatan mendapatkan fasilitas yang lebih banyak.


Kedudukan yang semestinya digunakan untuk melayani justru dijadikan simbol status. Pengaruh yang semestinya dipakai untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat justru digunakan untuk membangun jaringan kepentingan pribadi dan kelompok.


Bukan berarti setiap pejabat demikian. Banyak pula orang yang memegang jabatan dengan sungguh-sungguh, sederhana, dan berusaha memberikan manfaat. Karena itu, persoalannya bukan pada jabatan itu sendiri, melainkan apa yang dilakukan terhadap jabatan yang dimiliki dan terhadap hatinya.


Imam Al-Ghazali di dalam Ihya’ ‘Ulumiddin (Beirut: Dar al-Ma’rifah, juz 4, hlm. 432) telah mewanti-wanti soal ini:


وَيَكْفِيهِ مِنَ الْمَهْلِكَاتِ النَّظَرُ فِي عَشَرَةٍ – فَإِنَّهُ إِنْ سَلِمَ مِنْهَا سَلِمَ مِنْ غَيْرِهَا – وَهِيَ: الْبُخْلُ، وَالْكِبْرُ، وَالْعُجْبُ، وَالرِّيَاءُ، وَالْحَسَدُ، وَشِدَّةُ الْغَضَبِ، وَشَرُّ الطَّعَامِ، وَشَرُّ الْوِقَاعِ، وَحُبُّ الْمَالِ، وَحُبُّ الْجَاهِ


Artinya, “Di antara hal-hal yang merusak, maka cukup baginya untuk memperhatikan sepuluh hal ini, karena jika ia selamat dari hal-hal tersebut, maka ia selamat dari yang lainnya, yaitu: kikir, kesombongan, ujub, riya, iri hati, amarah yang hebat, rakus terhadap makanan, tamak terhadap hubungan badan (nafsu birahi), cinta harta, dan cinta kedudukan.”


Sehingga, kita tidak cukup hanya berhati-hati terhadap uang. Ia juga harus berhati-hati terhadap keinginan untuk dihormati, dikenal, memiliki pengaruh, dan memperoleh kedudukan.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Allah SWT kemudian mengingatkan dalam Surat At-Takatsur:


أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ


Artinya, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.”


Syekh Wahbah Al-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir, juz 30, hlm. 384, menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan peringatan kepada orang yang terlalu sibuk memperbanyak dan mengumpulkan perkara duniawi sehingga lalai dari ketaatan kepada Allah dan amal untuk akhirat, sampai-sampai ajal datang menjemputnya dalam kondisi seperti itu.


Ayat tersebut menjadi sangat relevan ketika kita melihat bagaimana jabatan dapat menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai. Ketika seseorang sudah memperoleh satu jabatan, ia ingin jabatan yang lebih tinggi. Setelah memperoleh kekuasaan, ia ingin pengaruh yang lebih luas. Setelah memperoleh fasilitas, ia ingin fasilitas yang lebih besar.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Nabi SAW menggambarkan sifat manusia tersebut dalam sabdanya:


لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ


Artinya, “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah menerima tobat orang yang bertobat.” (HR. Al-Bukhari)


Hadits ini tidak hanya berbicara tentang keinginan memiliki uang lebih banyak. Dalam konteks jabatan, ia juga mengingatkan bahwa nafsu untuk memiliki lebih banyak kekuasaan dan pengaruh dapat mengikuti pola yang sama.


Maka, bila di antara kita ada seorang pejabat atau hendak menjadi pejabat, ada pertanyaan reflektif yang patut direnungkan: apakah kita masih melihat jabatan sebagai kesempatan untuk berbuat baik dan bermanfaat bagi orang banyak, atau mulai melihatnya sebagai simbol keberhasilan pribadi?


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Pada prinsipnya, Islam tetap mendukung kemajuan. Kita membutuhkan pejabat yang kompeten, ekonomi yang kuat, teknologi yang maju, pendidikan yang berkembang, dan pembangunan yang memberikan kesejahteraan. Seorang muslim tidak harus hidup miskin untuk disebut zuhud.


Tetapi kemajuan memiliki batas moral. Kita boleh memiliki dunia, tetapi tidak boleh diperbudak dunia. Kita boleh memegang jabatan, tetapi jangan menjadikan jabatan sebagai kebanggaan pribadi. Kita boleh menikmati fasilitas yang menjadi hak, tetapi jangan menjadikan fasilitas sebagai alasan untuk memperebutkan kekuasaan.


Sebab, pada akhirnya, jabatan akan berakhir. Kursi yang hari ini ditempati akan diduduki orang lain. Fasilitas yang hari ini dinikmati akan berpindah. Kekuasaan yang hari ini berada di tangan seseorang akan kembali kepada pemiliknya yang hakiki, yaitu Allah SWT.


Jangan sampai takatsur membuat kita lupa bahwa kuburan adalah batas akhir dari seluruh perlombaan dunia. Di sana jabatan tidak lagi membedakan manusia. Gelar tidak lagi meninggikan seseorang. Fasilitas tidak lagi memberikan kenyamanan. Yang tersisa hanyalah amal sebagai bekal untuk bertemu dengan Tuhan.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Karena itu, siapa pun yang sedang memegang jabatan hendaknya menjadikan kekuasaannya sebagai kesempatan untuk memberikan manfaat, bukan kesempatan memperbesar kebanggaan diri. Dan siapa pun yang belum memegang jabatan, hendaknya tidak menjadikan jabatan sebagai ukuran kemuliaan. Sebab, seorang muslim boleh mengejar kemajuan dunia, tetapi ia harus tetap tahu kapan dunia menjadi sarana dan kapan dunia mulai berubah menjadi tujuan.


Semoga Allah memberikan kepada para pemegang jabatan hati yang bersih, menjauhkan mereka dari kecintaan berlebihan terhadap kekuasaan dengan segala fasilitasnya, serta menjadikan kita orang-orang yang mampu menggunakan dunia tanpa diperbudak olehnya, memiliki harta tanpa diperbudak harta, dan memegang jabatan tanpa diperbudak kekuasaan.


بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرٍ.


إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ التَّوْفِيقَ وَالسَّدَادَ فِي جَمِيعِ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَخِيْرُونَكَ فِي أُمُوْرِهِمْ، وَيَرْضَوْنَ بِقَضَائِكَ وَقَدَرِكَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.


عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Ustadz M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat.