Khutbah Jumat: Mengambil Hikmah dari Pergantian Siang dan Malam
Kamis, 9 Oktober 2025 | 05:00 WIB
Pergantian siang dan malam merupakan tanda kebesaran Allah yang mengandung banyak pelajaran bagi orang yang berakal. Allah memerintahkan kita untuk merenungi ciptaan-Nya dan mengambil ibrah darinya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Dengan memahami hikmahnya, kita dapat menemukan keseimbangan dalam menjalani kehidupan serta tumbuh menjadi pribadi yang penuh rasa syukur, sabar, dan tunduk pada kebesaran Allah.
Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul "Mengambil Hikmah dari Pergantian Siang dan Malam". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat! (Redaksi).
Khutbah I
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَالْإِيمَانِ، وَجَعَلَنَا أُمَّةً وَسَطًا، نَحْمِلُ رِسَالَةَ السَّلَامِ وَالْخَيْرِ وَالْإِعْمَارِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ الْمُذْنِبَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَاتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَىٰ: أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ. اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pertama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah ta'ala, Dzat yang telah melimpahkan kepada kita begitu banyak nikmat, terutama nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga kita dapat berkumpul dalam majelis yang penuh berkah ini.
Baca Juga
Khutbah Jumat: 4 Resep Hidup Bahagia
Tak lupa, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan, sebagaimana firman Allah:
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
Artinya: “Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197).
Salah satu bentuk ketakwaan itu adalah dengan bersyukur atas segala ciptaan Allah dan merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya yang terbentang di alam semesta. Salah satu tanda kebesaran Allah yang patut kita renungi adalah pergantian siang dan malam. Fenomena ini terjadi setiap hari tanpa pernah berhenti sekaligus menjadi bukti nyata betapa Maha Kuasanya Allah dalam mengatur kehidupan ini.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Proses pergantian malam dan siang ini telah disebutkan oleh Allah dalam surat Yasin ayat 37-40:
وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُۖ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙ. وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَاۗ ذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗ. وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ. لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِۗ وَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ
Artinya: “Suatu tanda juga (atas kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam. Kami pisahkan siang dari (malam) itu. Maka, seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan. Dan matahari yang berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. (Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(-nya) tempat-tempat peredaran sehingga kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”
Peredaran Matahari dan Bulan yang mengakibatkan siang dan malam ini sudah pasti memiliki makna mendalam yang patut kita renungkan. Allah pun kembali telah mengingatkan dalam surat Ali Imran ayat 190:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”
Pergantian siang dan malam bukan hanya sebagai rutinitas alamiah semata. Pergantian tersebut bisa menjadi sarana untuk mempertebal iman, meningkatkan rasa syukur, dan menyadari betapa agungnya kekuasaan Allah dalam setiap detik kehidupan kita.
Pada umumnya, di masyarakat yang bergerak di bidang pertanian, perdagangan, dan sejenisnya, siang dimanfaatkan untuk bekerja dan beraktivitas mencari rezeki Allah. Sedangkan malam hari, sering digunakan untuk beristirahat dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dari pergantian malam dan siang kita juga belajar tentang kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya yang teratur, seimbang, dan sempurna. Dari siang kita belajar arti kesungguhan dan tanggung jawab. Teriknya matahari mengajarkan keteguhan, bahwa hasil tidak akan datang tanpa kerja keras. Dunia di siang hari penuh dengan hiruk pikuk manusia yang berusaha menjemput rezeki, menuntut ilmu, dan berbuat kebaikan.
Allah berfirman:
وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا
Artinya: “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba’: 11).
Sedangkan malam memberi kita pelajaran tentang ketenangan dan introspeksi. Dalam kesunyian malam, kita diajak untuk kembali kepada fitrah dengan merenung, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah. Di saat itulah banyak rahasia kehidupan bisa terungkap melalui ibadah. Rasulullah sendiri banyak Riwayat menjadikan malam sebagai waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat dan zikir. Hal ini karena malam memiliki keistimewaan sendiri.
Nabi SAW bersabda:
يَنْزِلُ رَبُّنَا، تَبَارَكَ وَتَعَالَى، كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ، فَيَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
Artinya: “Tuhan kita, Allah ta’ala ‘turun’ setiap malam ke langit dunia di saat sepertiga malam akhir. Kemudian Allah berfirman, ‘Siapapun berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapapun meminta kepada-Ku, akan Aku kasih. Siapapun meminta ampun kepada-Ku, akan Aku beri ampunan.” (HR Muttafaq ‘alaih).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Selanjutnya, pergantian siang dan malam mengingatkan kita akan keterbatasan waktu. Tidak ada yang kekal, setiap terang pasti berganti gelap, setiap kehidupan pasti akan berakhir. Maka dari itu, kita hendaknya bijak menggunakan waktu. Siang tidak boleh disia-siakan dengan kemalasan, dan malam tidak boleh dilewati dengan kelalaian.
Jika kita mampu memetik hikmah dari pergantian siang dan malam, maka insyaAllah kita akan menemukan harmoni antara kerja keras dan ketenangan batin. Kita akan belajar bahwa kehidupan yang seimbang adalah kehidupan yang selaras dengan sunnatullah, bekerja di siang hari dengan sungguh-sungguh, dan beristirahat di malam hari dengan penuh syukur dan zikir.
Semoga kita senantiasa bisa menjadi insan yang mampu mengambil pelajaran penting dari kekuasaan Allah sebagai modal dalam menjalani kehidupan ini. Semoga Allah senantiasa melindungi kita baik di siang hari, maupun di malam hari. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah II
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ، وَجَعَلَ التَّعَاوُنَ وَالاِتِّحَادَ سَبَبًا فِي نَيْلِ النَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ ،وَعَلَىٰ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، اِعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّۚ يَٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِرِضَاكَ، وَاجْعَلْ بِلَادَنَا هَذِهِ بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْـبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ، اللّٰهُمَّ وَحِّدْ كَلِمَتَنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَوَفِّقْ قَادَتَنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَىٰ، وَانْصُرِ الْمُجَاهِدِينَ وَالْمُصْلِحِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ .فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
H. Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.