Khutbah

Khutbah Jumat: Menggapai Lailatul Qadar di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

Jumat, 13 Maret 2026 | 09:04 WIB

Khutbah Jumat: Menggapai Lailatul Qadar di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

khutbah Jumat (Freepik)

Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah waktu yang sangat berharga bagi setiap Muslim. Pada malam-malam inilah terdapat lailatul qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu, sudah sepatutnya kita tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan kelalaian.

 

Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Menggapai Lailatul Qadar di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!


 

Khutbah I


الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَظْهَرَ لَنَا ثَمَرَ الرَّوْضِ مِنْ كِمَامِهِ، وَأَسْبَغَ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ مَلَابِسَ إِنْعَامِهِ، وَبَصَّرَنَا مِنْ شَرْعِهِ بِحَلَالِهِ وَحَرَامِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ذُوْ الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُؤَيَّدُ بِمُعْجِزَاتِهِ الْعِظَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

 

Sudah sepantasnya bagi kita semua sebagai umat Islam, untuk senantiasa meningkatkan iman dan takwa dengan menjalankan segala perintah dan larangan-Nya. Terkhusus pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan ini, di mana di dalamnya terdapat lailatul qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Maka menjalaninya dengan semangat peningkatan takwa merupakan momentum yang tidak bisa kita sia-siakan.

 

Lailatul qadar adalah malam istimewa bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam takwa. Malaikat turun membawa ketenteraman, dan pintu ampunan dibuka seluas-luasnya. Maka jangan biarkan malam ini berlalu tanpa perubahan. Perbanyak doa, istighfar, merendah diri, dan berbuat baik. Karena di malam mulia ini, setiap amal kebajikan nilainya melebihi seribu bulan. 

 

Allah swt berfirman:

 

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ؟ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

 

Artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr, [97]: 1-5).

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

 

Mengutip salah satu riwayat yang dicatat oleh Imam Malik bin Anas dalam kitab Muwaththa’, jilid I, halaman 321, disebutkan bahwa Rasulullah pernah diperlihatkan umur umat-umat terdahulu yang sangat panjang, sehingga mereka memiliki banyak kesempatan beramal saleh. Sementara umur umat Nabi Muhammad relatif lebih pendek. Hal ini membuat Rasulullah khawatir umatnya tidak mampu menyamai amal umat terdahulu.

 

Maka dengan rahmat dan kasih sayang-Nya, Allah menganugerahkan lailatul qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Dalam riwayat tersebut dikatakan:

 

عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ سَمِعَ مَنْ يَثِقُ بِهِ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ، أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ، فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ أَنْ لَا يَبْلُغُوا مِنَ الْعَمَلِ مِثْلَ الَّذِي بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِي طُولِ الْعُمُرِ، فَأَعْطَاهُ اللَّهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ خَيْرًا مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

 

Artinya, “Dari Malik, bahwa ia mendengar dari seseorang yang ia percayai dari kalangan ahli ilmu berkata: Sesungguhnya Rasulullah diperlihatkan umur-umur manusia sebelumnya, atau apa saja yang Allah kehendaki dari hal tersebut. Maka seakan-akan Nabi melihat umur umatnya lebih pendek sehingga mereka tidak dapat mencapai amal sebanyak yang dicapai oleh umat-umat lain karena panjangnya usia mereka. Maka Allah pun menganugerahkan kepadanya Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.” (HR. Malik bin Anas).

 

Lailatul Qadar adalah bukti kasih sayang Allah bagi umat Nabi Muhammad. Meskipun hidup kita lebih singkat dari umat terdahulu, Allah memberi kesempatan meraih pahala besar melalui satu malam penuh berkah ini. Mari manfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan sungguh-sungguh: shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, i’tikaf di masjid, serta memperbanyak sedekah dan kebaikan kepada sesama.

 

Semangat meningkatkan ibadah dan kebaikan inilah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah ketika sudah memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, hal ini sebagaimana disampaikan oleh Aisyah dalam sebuah riwayat, ia berkata:

 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

 

Artinya, “Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah saw apabila memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadhan), ia mengencangkan ikat pinggangnya, memperbanyak ibadah di malam hari, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari).

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

 

Bagaimana cara mengetahui datangnya lailatul qadar? Pada dasarnya, hanya Allah yang benar-benar mengetahui kapan malam istimewa itu terjadi. Namun, para ulama mencoba menjelaskan tanda-tandanya berdasarkan hadis Nabi.

 

Salah satu riwayat dari Ubadah bin Shamit menyebutkan bahwa Rasulullah menjelaskan beberapa tanda yang bisa dirasakan pada malam tersebut. Suasananya terasa sangat tenang dan damai, tidak terlalu dingin dan tidak pula panas. Langit tampak bersih dan cerah, seakan malam itu begitu jernih.

 

Bahkan, malam lailatul qadar sering digambarkan terasa terang dan menenangkan, seperti cahaya bulan purnama yang lembut. Udara pun biasanya sangat bersahabat, tanpa angin yang kencang.

 


إِنَّ أَمَارَةَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَنَّهَا صَافِيَةٌ بَلْجَةٌ كَأَنَّ فِيهَا قَمَرًا سَاطِعًا سَاكِنَةٌ سَاجِيَةٌ لَا بَرْدَ فِيهَا وَلَا حَرَّ وَلَا يَحِلُّ لِكَوْكَبٍ أَنْ يُرْمَى بِهِ فِيهَا حَتَّى تُصْبِحَ وَإِنَّ أَمَارَتَهَا أَنَّ الشَّمْسَ صَبِيحَتَهَا تَخْرُجُ مُسْتَوِيَةً لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ مِثْلَ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَلَا يَحِلُّ لِلشَّيْطَانِ أَنْ يَخْرُجَ مَعَهَا يَوْمَئِذ

 

Artinya, “Sesungguhnya tanda lailatul qadar adalah malamnya tampak jernih dan terang, seolah-olah pada malam itu ada bulan yang bersinar. Suasananya tenang dan tenteram, tidak terasa dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak tampak bintang yang jatuh hingga datang waktu pagi. Dan di antara tandanya pula, pada pagi harinya matahari terbit dalam keadaan sempurna, tidak memiliki sinar yang menyilaukan, seperti bulan pada malam purnama. Pada hari itu pula setan tidak dapat keluar bersama terbitnya matahari.” (HR. Ahmad).

 

Seyogianya, kita melaksanakan amal ibadah dan kebaikan. Jangan sampai kita menyia-nyiakan peluang emas ini, karena di malam-malam penuh berkah ini Allah membuka pintu rahmat dan ampunan yang besar.

 

Kita bisa memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa dan istighfar, serta berbuat kebaikan sekecil apa pun, seperti menolong orang yang kesusahan, ringan tangan memberi sedekah, membantu tetangga, menyebarkan salam, dan yang lainnya. Karena pada malam tersebut, semua ibadah dan kebaikan akan memiliki nilai pahala yang lebih baik dari seribu bulan.

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

 

Demikianlah khutbah Jumat ini disampaikan, semoga kita semua diberikan kekuatan dan keistiqamahan untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan sebaik-baik ibadah. Marilah kita bersama-sama memburu lailatul qadar dengan penuh kesungguhan, sebagaimana teladan Rasulullah yang meningkatkan amal ibadahnya di malam-malam ini.

 

Jangan sampai kita termasuk golongan yang merugi, yang melewatkan malam penuh kemuliaan hanya karena terlena dengan urusan dunia atau karena malas beribadah. Sungguh, keberuntungan yang hakiki adalah bagi mereka yang berhasil meraih ampunan Allah di malam yang lebih baik dari seribu bulan.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
 

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
 

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
 

Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.