Khutbah Jumat: Menjaga Hati dari Kebiasaan Membandingkan Diri di Media Sosial
Rabu, 24 Juni 2026 | 14:50 WIB
Di era digital, media sosial menjadi ruang untuk menampilkan diri. Setiap hari, kita melihat keberhasilan dan kebahagiaan orang lain yang tampak sempurna. Tanpa disadari, hal ini dapat menumbuhkan kebiasaan membandingkan hidup sendiri dengan orang lain, hingga memunculkan kegelisahan dan membuat kita lupa mensyukuri nikmat Allah.
Naskah khutbah Jumat berikut ini berjudul, “Menjaga Hati dari Kebiasaan Membandingkan Diri di Media Sosial”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلىَ عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلىَ خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْوَهَّابِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِۗ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى ١٣١
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pada kesempatan ini, mari kita menguatkan ketakwaan kepada Allah SWT sekaligus meningkatkan rasa syukur atas karunia dan nikmat Allah yang tak bisa kita hitung satu per satu. Salah satu cara bersyukur adalah dengan tidak membanding-bandingkan kehidupan kita dengan orang lain, terlebih hanya dengan melihat status atau unggahan orang lain di media sosial atau medsos.
Di era yang serba digital saat ini, medsos telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Hampir setiap hari, kita menggunakan handphone, smartphone, atau sejenisnya untuk berkomunikasi dan berinteraksi di dunia maya.
Banyak aktivitas dilakukan melalui kemajuan internet, mulai dari komunikasi, mencari informasi, hiburan, hingga ‘mengintip’ aktivitas orang lain di media sosial. Banyak dari kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk menatap layar HP dan melihat berbagai unggahan teman, kerabat, tokoh publik, ataupun orang-orang yang bahkan tidak kita kenal secara langsung.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Saat berselancar di medsos tersebut, kita disuguhi berbagai konten berupa tulisan, foto, dan video, seperti saat liburan, membeli dan naik kendaraan baru, rumah baru, kesuksesan karier, keharmonisan keluarga, dan berbagai kebahagiaan yang mereka bagikan di beranda media sosial.
Baca Juga
Khutbah Jumat: 4 Resep Hidup Bahagia
Akibatnya, tidak sedikit dari kita yang kemudian, tanpa disadari, mulai membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Ketika melihat orang lain tampak sukses, kita merasa tertinggal. Ketika melihat orang lain tampak bahagia, kita merasa penuh kekurangan. Ketika melihat orang lain meraih berbagai pencapaian, kita mulai mempertanyakan mengapa kita belum mencapai titik yang sama.
Padahal, kebiasaan membandingkan kehidupan diri dengan orang lain, terutama melalui apa yang terlihat di media sosial, dapat menjadi sumber kegelisahan, ketidakpuasan, bahkan hilangnya rasa syukur kepada Allah SWT.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Membandingkan kehidupan nyata kita dengan kehidupan orang lain yang hanya tampak di media sosial sesungguhnya adalah perbandingan yang tidak adil. Kita membandingkan seluruh isi kehidupan kita dengan potongan-potongan kebahagiaan yang ditampilkan orang lain.
Salah satu dampak buruk dari kebiasaan membandingkan diri adalah hilangnya rasa syukur. Padahal syukur merupakan salah satu kunci kebahagiaan dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: "(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”"
Ketika kita terlalu sibuk melihat nikmat yang dimiliki orang lain, kita sering kali lupa menghitung nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Sering kali kita selalu melihat ke atas dalam urusan dunia sehingga merasa diri penuh dengan kekurangan. Padahal masih banyak orang yang berada dalam kondisi lebih sulit daripada kita.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia), dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada mu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Kebiasaan ini akan membuat kita mudah merasa rendah diri, kehilangan rasa percaya diri, dan menganggap diri tidak cukup baik. Hidup terasa selalu kurang. Apa pun yang dimiliki seolah tidak pernah memuaskan hati. Padahal kita perlu menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah tentang siapa yang memiliki lebih banyak, melainkan siapa yang mampu mensyukuri apa yang dimilikinya.
Ada orang yang hidup sederhana tetapi hatinya tenang. Sebaliknya, ada pula yang hidup dalam kemewahan, namun jiwanya dipenuhi kegelisahan. Sebab ketenangan hati tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh kedekatan kepada Allah SWT dan kemampuan menerima takdir-Nya dengan kerelaan. Allah berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِۗ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى ١٣١
Artinya: “Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Thaha: 131)
Selain itu, kebiasaan membandingkan diri juga dapat melahirkan persaingan yang tidak sehat. Demi terlihat seperti orang lain, kita bisa memaksakan diri untuk berutang hanya demi mengikuti gaya hidup. Akhirnya kita susah sendiri karena sesuai dengan pribahasa: “Besar pasak daripada tiang”, alias mengalami kerugian.
Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِـنْ يَنْظُرُ إِلَى قُــــلُوبِكُمْ وَأَعْمَــالِكُمْ
Artinya: “Sungguh Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, melainkan melihat hati dan amal kalian.” (HR Muslim).
Oleh karena itu, hadirin yang dirahmati Allah SWT,
Marilah kita berhenti membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain karena melihatnya di media sosial. Mari bersyukur pada apa yang telah Allah berikan kepada kita. Mari fokus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Karena pada akhirnya, setiap orang memiliki waktunya masing-masing, rezekinya masing-masing, serta ujian dan kebahagiaannya masing-masing. Apa yang Allah tetapkan untuk kita tidak akan tertukar dengan milik orang lain.
Semoga Allah SWT menjadikan kita, hamba-hamba yang pandai bersyukur, memiliki hati yang qanaah, terhindar dari sifat iri dan dengki, serta diberikan kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun di akhirat. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.