Khutbah

Khutbah Jumat: Menyeimbangkan 5 Unsur Utama dalam Diri Manusia

Kamis, 9 April 2026 | 19:40 WIB

Khutbah Jumat: Menyeimbangkan 5 Unsur Utama dalam Diri Manusia

Khutbah Jumat(freepik)

Manusia diciptakan Allah dengan potensi yang luar biasa. Namun, untuk menjadi pribadi yang seimbang dan bermanfaat, kita perlu memahami dan menyeimbangkan lima unsur utama dalam diri manusia. Lima unsur ini saling berkaitan dan membentuk keseluruhan karakter serta kehidupan kita.


Untuk itu, Khutbah Jumat ini berjudul, “Khutbah Jumat: Menyeimbangkan 5 Unsur Utama dalam Diri Manusia”, Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini. Semoga bermanfaat.


 

Khutbah I


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى :لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah

 

Pada kesempatan mulia ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, baik dalam keadaan terlihat maupun tersembunyi, ramai maupun sepi, ataupun dalam keadaan sedih ataupun bahagia.

 

Ketakwaan bukan hanya soal ibadah lahiriah, tetapi juga bagaimana kita mampu menjaga dan menyeimbangkan seluruh unsur yang ada dalam diri kita. Sejatinya, orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu menata dirinya secara utuh, sehingga hidupnya selaras antara lahir dan batin, dunia dan akhirat.

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah

 

Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita renungkan hakikat diri kita. Siapakah kita sebenarnya? Apakah kita hanya sosok tubuh atau jasad yang berjalan saja? Ataukah kita adalah makhluk yang memiliki unsur-unsur lain yang saling terkait sehingga kita bisa beraktivitas dengan mudah? Lalu bagaimana menyelaraskan unsur-unsur yang ada dalam diri kita?

 

Setidaknya ada lima unsur utama yang membentuk diri kita sebagai manusia sempurna, ciptaan Allah SWT. Lima unsur ini bukan untuk dipisahkan, melainkan untuk diseimbangkan agar masing-masing bisa berfungsi secara maksimal.

 

Lima unsur itu adalah: jasad, nafsu, akal, hati, dan ruh. Dalam kearifan Jawa, yang selaras dengan nilai-nilai Islam, kelima unsur ini dikenal sebagai: rogo, karso, cipto, roso, dan sukmo. Keseimbangan kelima unsur ini membuat kita mampu hidup utuh, yakni sehat jasad, tenang batin, bijak akal, suci hati, dan dekat dengan Allah.

 

Pertama adalah jasad atau rogo. Jasad merupakan bagian lahiriah manusia yang tampak dan memiliki hak untuk dipenuhi. Pemenuhan hak jasad dapat dilakukan melalui konsumsi yang baik dan halal, olahraga secara rutin, istirahat yang cukup, serta menjaga diri dari tindakan yang bersifat merusak atau berlebihan, seperti pola makan ekstrem atau kebiasaan yang membahayakan kesehatan.

 

Selain itu, jasad juga memiliki kewajiban, yaitu digunakan untuk menjalankan ibadah. Dengan jasad yang terjaga, kita dapat lebih optimal dalam melaksanakan perintah-perintah Allah. Jasad yang sehat dan kuat dapat diarahkan untuk kebaikan. Tangan dapat digunakan untuk memberi dan membantu, kaki untuk melangkah menuju aktivitas yang bermanfaat, serta seluruh anggota tubuh menjadi sarana dalam mengamalkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kedua adalah nafsu atau karso. Nafsu adalah kekuatan besar yang hidup dalam diri kita. Nafsu itu ibarat api: bisa menghangatkan dan memberi energi, tapi kalau tak dijaga, juga bisa membakar dan merusak.

 

Dalam Islam, nafsu bukan untuk dimatikan, melainkan dididik dan diarahkan. Ada nafsu yang masih rendah (ammarah), yang sering menyeret kita pada hal-hal buruk. Ada juga nafsu yang mulai sadar (lawwamah), yang sudah bisa menyesali kesalahan. Dan yang tertinggi adalah nafsu yang tenang (muthmainnah), yang sudah selaras dengan kebaikan dan ketenangan hati.

 

Tugas kita adalah menaikkan derajat nafsu itu. Dari yang liar menjadi terkendali. Dari yang serakah menjadi qana’ah. Dari yang mengikuti dunia menjadi menuju akhirat.

 

Allah berfirman dalam surat al-Fajr ayat 27-30:

 

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً . فَادْخُلِي فِي عِبَادِي . وَادْخُلِي جَنَّتِي

 

Artinya: "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama´ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku," (QS. Al-Fajr 27 - 30).

 

Ketiga adalah akal atau cipto. Akal berfungsi sebagai alat untuk memahami, menimbang, dan mengambil keputusan. Akal yang digunakan secara baik akan membantu seseorang dalam membedakan yang tepat dan yang keliru, serta mendorong sikap terbuka terhadap ilmu pengetahuan.

 

Al-Qur’an berulang kali mendorong manusia untuk menggunakan akal. Hal ini tampak dalam ungkapan afalā ta‘qilūn (apakah kamu tidak berpikir?) dan ulul albab (orang-orang yang berakal).

Pesan ini menegaskan betapa pentingnya berpikir dan merenung. Kita diajak untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah, memahami makna di balik setiap peristiwa, serta menggunakan akal untuk membedakan kebenaran dan merencanakan masa depan dengan bijak

 

Dalam Al-Qur'an, surat Ali Imran ayat 190, Allah berfirman;

 

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ

 

Artinya; "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal".

 

Keempat adalah hati atau roso, pusat rasa dan kesadaran batin yang mengatur emosi, kepekaan, dan nilai-nilai moral. Dari hati lahir kasih sayang, empati, dan ketulusan, tapi juga bisa muncul kecenderungan negatif seperti iri atau sombong.

 

Kondisi hati sangat memengaruhi cara kita merespons kehidupan. Hati yang terjaga membuat kita lebih mudah merasakan ketenangan, keikhlasan, dan kebijaksanaan. Sebaliknya, hati yang dipenuhi sifat negatif dapat membentuk sikap dan perilaku yang kurang baik. Hati adalah kompas batin manusia. Jadi semakin hati manusia bersih dan terlatih, semakin bijak pula langkah yang kita ambil dalam hidup.

 

Rasulullah mengingatkan dalam sabdanya:

 

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم.

 

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

Kelima adalah ruh atau sukmo. Ruh merupakan unsur terdalam dalam diri kita yang bersifat ilahiah dan menjadi sumber kehidupan. Ruh tidak bekerja dalam bentuk emosi seperti hati, melainkan menjadi penghubung antara kita dengan Allah swt. Jika hati berkaitan dengan rasa dan dinamika batin sehari-hari, maka ruh berkaitan dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam, seperti makna kehadiran, tujuan hidup, dan hubungan dengan Allah.

 

Hati dan ruh memiliki peran yang berbeda. Hati mengelola rasa dan kecenderungan batin, sedangkan ruh menjadi sumber kehidupan sekaligus arah spiritual yang membimbing manusia menuju makna yang lebih tinggi.

 

Dari kelima unsur ini, kita belajar bahwa hidup harus seimbang. Jasad dijaga kesehatannya, nafsu dikendalikan arahnya, akal dipandu oleh agama, hati dibersihkan dari penyakit dan ruh didekatkan kepada Allah.

 

Jika satu saja rusak, maka yang lain akan terganggu. Bagi yang hanya fokus pada jasad, hidupnya akan bersifat duniawi. Yang mengikuti nafsu, hidupnya penuh dosa. Yang mengandalkan akal saja, bisa tersesat. Yang hatinya kotor, sulit menerima kebenaran. Dan yang ruhnya kosong, hidupnya hampa.

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah

 

Mari kita menjadi manusia yang utuh; sukses di dunia sekaligus selamat di akhirat. Bukan hanya jasad yang sehat, tapi juga batin yang tenang.

 

Gunakan jasad untuk beribadah dan berbuat baik, kendalikan nafsu agar tidak menjerumuskan, arahkan akal pada kebenaran, sucikan hati dari sifat negatif, dan hubungkan ruh langsung kepada Allah SWT.

 

Dengan begitu, setiap bagian dari diri kita bekerja harmonis, menuntun hidup menuju keseimbangan, kebahagiaan, dan keberkahan.

 

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan pada kita untuk menyeimbangkan jasad dengan ibadah, mengendalikan nafsu kita dengan iman, menerangi akal kita dengan ilmu, membersihkan hati kita dengan dzikir, dan menghidupkan ruh kita dengan kedekatan kepada-Nya.

 

Dari keseimbangan ini semoga kita menjadi hamba yang hidupnya penuh keberkahan, wafat dalam keadaan husnul khatimah, dan dikumpulkan bersama orang-orang saleh.
Amin ya rabbal ‘alamin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ



اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ



عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

----------------

H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung