Sebagai bagian dari sifat naluriah manusia, marah kerap kali muncul sebagai reaksi terhadap kondisi atau situasi yang tidak sejalan dengan keinginan. Seseorang yang telah dikuasai oleh amarah kerap kali melakukan hal-hal yang melampaui batas sehingga agama mengajarkan untuk selalu mengendalikan diri tatkala amarah memuncak.
Berikut naskah khutbah Jumat yang berjudul, “Pesan Rasulullah Mengendalikan Amarah.” Untuk mencetaknya, silakan klik ikon berwarna merah pada bagian kanan atas desktop. Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي تَفَرَّدَ بِالْعِزِّ وَالْجَلَالِ، وَتَوَحَّدَ بِالْكِبْرِيَاءِ وَالْكَمَالِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَا نَفَادَ لِحِكْمَتِهِ، وَلَا زَوَالَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ بِأَشْرَفِ الْأَخْلَاقِ وَالْخِصَالِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الله! إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وِلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مَسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ . الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia ini, kami berwasiat kepada kita semua agar senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt. Takwa yang tertanam di dalam hati, kemudian dibuktikan dengan tindakan nyata berupa melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap kali mendapati persoalan atau situasi yang menyebabkan emosi dan amarah kita memuncak. Ketika tidak dapat dikendalikan, ia terkadang menjadi pemicu retaknya keharmonisan antarsesama. Perselisihan kecil di tengah jalan kadang memicu perkelahian.
Perbedaan pendapat di media sosial kadang menjelma menjadi ujaran kebencian. Bahkan, hubungan persaudaraan yang sudah terjalin sejak lama harus putus dan berakhir karena kedua belah pihak sama-sama disulut amarah.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Baca Juga
Khutbah Jumat: 4 Resep Hidup Bahagia
Semua kita pernah marah. Karena sejatinya marah adalah sifat naluriah manusia. Seorang ayah pernah marah kepada anaknya. Guru bisa marah kepada muridnya. Pedagang mungkin marah kepada pembeli. Bahkan, seorang kekasih bisa saja marah kepada kekasihnya karena satu kekeliruan dan kesalahpahaman.
Karena itu, keberadaan rasa marah bukanlah suatu masalah, akan tetapi sejauh mana amarah itu menggiring kita kepada hal-hal tercela. Yang menjadi persoalan bukan rasa marah, melainkan efek yang dipicu oleh rasa marah tersebut berupa tindakan-tindakan di luar perhitungan akal sehat.
Karenanya, dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah menasihati seorang sahabat untuk tidak marah. Pesannya singkat, namun mengandung makna yang sangat dalam. diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dari Sahabat Abu Hurairah,
أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ
Artinya: “Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW 'Berikan aku wasiat.' Kemudian Rasulullah SAW menjawab, 'Jangan marah'. Beliau mengulang kalimat tersebut berkali-kali dan bersabda, 'Jangan marah'.” (HR. Bukhari)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Fathul Bari juz 10 halaman 520, mengutip keterangan dari al-Khattabi bahwa pesan Nabi لاَ تَغْضَبْ dalam hadits di atas bukan berarti melarang kita untuk marah. Sebab, marah adalah sifat alamiah yang akan selalu ada dalam diri manusia. Melarang seseorang untuk marah sama halnya dengan melarang melakukan sesuatu yang mustahil, karena sampai kapan pun ia akan selalu menjadi sifat naluriah yang tidak akan pernah hilang dalam hakikat diri manusia.
Namun, hadits di atas mengajarkan kita untuk menghindari sebab-sebab yang dapat memicu kemarahan serta menahan diri untuk tidak larut dalam amarah ketika marah datang. Karena, betapa banyak ikatan persahabatan yang putus karena rasa marah yang tidak terkendali. Betapa banyak perkelahian yang terjadi akibat tersulutnya emosi. Betapa banyak rumah tangga yang hancur karena amarah yang tidak dapat diredam.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Karena itu, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa salah satu karakter orang bertakwa adalah mampu menahan dan meredam amarah. Dalam Surat Ali Imran ayat 134, Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan,” (QS. Ali Imran [03]: 134).
Ayat ini secara tegas menyebutkan bahwa salah satu ciri-ciri orang bertakwa adalah mampu mengendalikan diri ketika ia diliputi rasa marah. Penggunaan kalimat “Kadzimin” dalam ayat di atas menjadi indikasi bahwa yang dituntut adalah mengendalikan amarah, bukan menghilangkan rasa marah.
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Mafatihul Ghaib juz 9 halaman 367, menjelaskan bahwa kalimat وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ dalam ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang yang bertakwa salah satunya adalah mereka yang mampu menahan diri agar tidak dikuasai amarah dalam waktu yang lama. Sehingga orang seperti ini, secara tidak langsung, akan menjadi pribadi yang penyabar, santun, namun tetap teguh dalam kebenaran.
Karena, orang yang mampu menahan amarah sejatinya bukanlah orang yang lemah dan tidak berdaya. Tetapi hal tersebut justru menjadi tanda bahwa dirinya adalah orang kuat yang sesungguhnya. Musuh yang paling sulit untuk dilawan adalah hawa nafsu yang menjadi sumber datangnya amarah.
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Artinya, "Orang kuat bukanlah orang yang suka bergulat. Akan tetapi, orang yang kuat itu adalah dia yang mampu menahan diri ketika marah." (HR. Bukhari)
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Di era disrupsi yang penuh tekanan seperti sekarang ini, pesan Rasulullah ini sangat relevan untuk kita jadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Pertikaian di lingkungan keluarga, caci maki di media sosial, dan perpecahan di lingkungan masyarakat sering kali berawal dari emosi yang tidak terkendali.
Maka dari itu, mari kita sama-sama memohon kepada Allah SWT agar diberikan kemampuan untuk mengendalikan amarah, menjadi sosok pemaaf sehingga pada akhirnya mendapat predikat muttaqin yang dijanjikan surga sebagai kenikmatan yang hakiki. Amin ya Rabbal ‘Alamin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهَ وَحْدَهُ لا شريكَ لَهُ ارْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَ كَفَرَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُولُهُ سَيِّدُ الإِنْسِ وَالبَشَرِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوا اللَّهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَزَجَرَ . وَ اعْلَمُوا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ فَقَالَ تعالى إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّد وَ عَلَى آل سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيمَ وعلى آل سيدنا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الخُلَفَاء الرَّاشِدِيْنَ سَادَاتِنَا اَبِي بَكْرٍ وعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَحَابَةِ والتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِينَ وَ الْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْاِسْلَامَ وَالْمُسْلِمَيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدَّيْنَ وَاخْذّلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنِ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَ إِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدُكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ واللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.