Kejujuran merupakan salah satu akhlak utama yang sangat ditekankan oleh Rasulullah saw. Dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran tidak hanya dibutuhkan dalam ucapan, tetapi juga dalam pekerjaan, perdagangan, keluarga, pendidikan, kepemimpinan, hingga bermedia sosial. Orang yang membiasakan diri berkata dan bersikap jujur akan dituntun oleh Allah menuju kebaikan, keberkahan, dan keselamatan.
Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul “Pesan Rasulullah tentang Kejujuran.” Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ، وَنَهَانَا عَنِ الْكَذِبِ وَالْخِيَانَةِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَنَسْأَلُهُ الْهِدَايَةَ وَالثَّبَاتَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، الَّذِيْ عَلَّمَنَا أَنَّ الصِّدْقَ طَرِيْقٌ إِلَى الْبِرِّ، وَأَنَّ الْبِرَّ طَرِيْقٌ إِلَى الْجَنَّةِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Pada kesempatan Jumat yang mulia ini, Khatib ingin mengajak kita semua untuk bertakwa kepada Allah. Menumbuhkan rasa takut kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi, larangan-Nya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Di Jumat yang mulia ini, Khatib juga ingin mengajak kita semua merenungkan salah satu pesan besar Rasulullah saw., pesan tentang kejujuran. Kejujuran mungkin terdengar sederhana. Anak kecil pun tahu bahwa jujur itu baik dan bohong itu buruk. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat bahwa kejujuran tidak selalu mudah dilakukan.
Kadang seseorang ingin jujur, tetapi takut kehilangan keuntungan. Ingin jujur, tetapi takut dimarahi. Ingin jujur, tetapi malu mengakui kesalahan. Ingin jujur, tetapi khawatir jabatan, nama baik, atau kepentingannya terganggu.
Karena itu, Rasulullah saw. tidak hanya menyebut kejujuran sebagai akhlak biasa. Rasulullah menjadikannya sebagai jalan menuju kebaikan, bahkan jalan menuju surga.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتّٰى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ صِدِّيْقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتّٰى يُكْتَبَ عِنْدَ اللّٰهِ كَذَّابًا
Artinya: "Dari Abdullah bin Mas‘ud ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun kepada surga. Seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha menjaga kejujuran hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta menuntun kepada keburukan, dan keburukan menuntun kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan membiasakan diri berdusta hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Hadits ini sangat dalam maknanya. Rasulullah tidak hanya mengatakan, “Jujurlah.” Tetapi Rasulullah menjelaskan jalan hidup manusia. Jika seseorang terbiasa jujur, kejujuran itu akan menariknya kepada kebaikan-kebaikan lain.
Orang yang jujur biasanya lebih mudah amanah. Orang yang jujur biasanya lebih hati-hati dalam bekerja. Orang yang jujur biasanya lebih takut kepada Allah. Dari satu kejujuran, muncul kebaikan-kebaikan berikutnya.
Sebaliknya, dusta juga seperti itu. Satu kebohongan sering melahirkan kebohongan berikutnya. Orang yang berbohong hari ini, besok harus menutupinya dengan kebohongan lain. Lama-lama hatinya terbiasa. Awalnya malu berbohong, kemudian menjadi biasa, lalu akhirnya tidak merasa bersalah lagi.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Inilah yang dijelaskan oleh Syekh Rasyid Ahmad al-Kankuhi dalam kitab al-Kaukabud Durri 'ala Jami' at-Tirmidzi ketika menerangkan hadits ini. Beliau menjelaskan bahwa kebiasaan melakukan satu sifat baik akan menarik seseorang kepada sifat baik yang lain. Sebaliknya, kebiasaan melakukan sedikit keburukan bisa menarik seseorang kepada keburukan yang lebih banyak.
Maka jangan pernah meremehkan satu kejujuran kecil. Jangan pula meremehkan satu kebohongan kecil. Sebab akhlak manusia sering dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Imam Abul 'Abbas al-Qurthubi dalam kitab al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim menjelaskan bahwa sabda Nabi: “Hendaklah kalian berpegang pada kejujuran,” merupakan ungkapan yang menunjukkan dorongan kuat, bahkan mengandung makna kewajiban.
Artinya, setiap orang yang memahami perintah Allah seharusnya menjaga kejujuran dalam ucapan, keikhlasan dalam perbuatan, dan kebersihan dalam keadaan batinnya. Beliau juga menjelaskan bahwa orang yang menjaga kejujuran dalam ucapan, ikhlas dalam amal, dan bersih dalam keadaan hatinya akan termasuk golongan orang-orang baik, dan akan sampai kepada ridha Allah Yang Maha Pengampun.
Karena itu, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119).
Ayat ini mengajarkan bahwa kejujuran bukan hanya sifat pribadi, tetapi juga lingkungan hidup. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk jujur, tetapi juga memerintahkan kita untuk bersama orang-orang yang jujur.
Sebab lingkungan sangat mempengaruhi hati kita. Jika kita berkumpul dengan orang-orang yang jujur, kita akan malu untuk berdusta. Tetapi jika kita terbiasa berada di tengah lingkungan yang menganggap dusta sebagai hal biasa, lama-lama hati kita bisa ikut rusak.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Kejujuran itu luas. Jujur bukan hanya tidak berbohong ketika berbicara. Jujur juga berarti amanah dalam pekerjaan. Jujur berarti tidak memanipulasi laporan. Jujur berarti tidak mengurangi timbangan. Jujur berarti tidak membuat janji palsu. Jujur berarti berani mengakui kesalahan. Jujur berarti tidak menipu pasangan, keluarga, murid, jamaah, atasan, bawahan, atau masyarakat.
Seorang pedagang disebut jujur bukan hanya ketika mulutnya berkata benar, tetapi juga ketika ia menjelaskan kekurangan barang dagangannya. Seorang pegawai disebut jujur bukan hanya ketika ia tidak mencuri uang, tetapi juga ketika ia bekerja sesuai tanggung jawabnya.
Seorang pemimpin disebut jujur bukan hanya ketika pidatonya indah, tetapi ketika kebijakannya tidak menipu rakyat. Seorang guru disebut jujur ketika ilmunya disampaikan apa adanya. Seorang dai disebut jujur ketika agama tidak dipakai untuk kepentingan pribadi.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Namun, para ulama juga mengingatkan bahwa kejujuran harus ditempatkan dengan kebijaksanaan. Dalam keterangan Syekh Rasyid Ahmad al-Kankuhi, kejujuran diperintahkan selama tidak menyebabkan hilangnya hak orang lain, tertumpahnya darah, atau bahaya yang lebih besar.
Jujur bukan berarti membuka aib orang di depan umum. Jujur bukan berarti berbicara tanpa adab. Jujur bukan berarti menyampaikan semua hal dengan cara yang menyakiti. Kejujuran harus berjalan bersama hikmah, amanah, dan kasih sayang.
Kalau ada orang bertanya tentang aib orang lain yang tidak perlu dibuka, maka diam bisa lebih baik. Kalau ada konflik, lalu ucapan yang terlalu terbuka justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar, maka diperlukan kebijaksanaan. Islam tidak memisahkan kejujuran dari akhlak.
Karena itu, kejujuran yang diajarkan Rasulullah adalah kejujuran yang membawa kebaikan, bukan kejujuran yang dipakai untuk menghina, merendahkan, atau merusak.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Orang yang jujur mungkin tidak selalu menang cepat. Tetapi orang yang jujur sedang berjalan menuju ridha Allah. Dan apa artinya kita menang di mata manusia, tetapi jatuh di hadapan Allah? Apa artinya kita terlihat hebat di dunia, tetapi dicatat sebagai pendusta di sisi Allah?
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang jujur dalam ucapan, ikhlas dalam amal, bersih dalam hati, dan istiqamah dalam kebaikan.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا، وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِۙ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ، وَالْوَبَاءَ، وَالطَّاعُوْنَ، وَالْأَمْرَاضَ، وَالْفِتَنَ، مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُونِيْسِيَا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
Ustadz Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta.