Nasional

Debit Sungai Tamiang Meningkat, PCNU Aceh Tamiang Ajak Warga Waspada Banjir

Senin, 21 September 2026 | 15:00 WIB

Debit Sungai Tamiang Meningkat, PCNU Aceh Tamiang Ajak Warga Waspada Banjir

Debit sungai Tamiang meningkat. (Foto: dok istimewa)

Aceh Tamiang, NU Online

Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, dalam beberapa hari terakhir membuat debit sejumlah sungai meningkat. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi banjir susulan, terutama karena warga masih mengingat dampak banjir besar yang sebelumnya menerjang kawasan tersebut.


Cuaca mendung dan potensi hujan dengan intensitas tinggi membuat masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Warga terus memantau perkembangan debit air di sejumlah aliran sungai yang bermuara ke Sungai Tamiang.


Kenaikan debit air di kawasan hulu, termasuk aliran dari Simpang Jernih dan Sungai Kaloy, menjadi perhatian masyarakat. Selain air yang meningkat, material kayu yang terbawa arus juga mulai terlihat di sepanjang aliran sungai.


Situasi tersebut mengingatkan warga pada bencana banjir sebelumnya yang membawa material kayu hingga merusak rumah dan mengganggu aktivitas masyarakat.


Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Aceh Tamiang, Tgk Mustofa Abdussalamsyah, Jumat (18/9/2026), mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi banjir.


Menurutnya, masyarakat perlu terus memantau kondisi sungai dan perkembangan cuaca, terutama ketika hujan deras berlangsung dalam waktu cukup lama.


“Dalam kondisi seperti ini, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Pergerakan debit air sungai perlu terus dipantau, terutama oleh masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir,” ujar Tgk Mustofa.


Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu kondisi memburuk untuk melakukan persiapan. Keluarga perlu memastikan barang-barang penting berada di tempat aman dan mengetahui jalur yang dapat digunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan evakuasi.


Tgk Mustofa juga mengajak masyarakat mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan cuaca dan kondisi sungai. Menurutnya, informasi yang akurat penting agar masyarakat dapat mengambil langkah antisipasi secara tepat.


“Jangan menunggu air sudah masuk ke rumah baru melakukan persiapan. Jika kondisi menunjukkan adanya peningkatan risiko, masyarakat harus segera mengambil langkah yang diperlukan untuk keselamatan keluarga,” katanya.


Ia turut mengajak masyarakat memperkuat kepedulian antarwarga, terutama terhadap kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga yang membutuhkan bantuan.


Menurutnya, kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen sosial perlu saling berkoordinasi dalam memantau kondisi lingkungan.


“Musibah tidak dapat dipastikan kapan datangnya, tetapi kesiapsiagaan dapat kita bangun bersama. Mari saling mengingatkan, menjaga lingkungan, dan mengutamakan keselamatan apabila kondisi semakin mengkhawatirkan,” ujarnya.


Trauma Banjir Masih Membekas

Kekhawatiran warga Aceh Tamiang tidak terlepas dari pengalaman banjir besar sebelumnya. Material kayu yang terbawa arus deras hingga menghantam permukiman menjadi salah satu hal yang masih membekas dalam ingatan masyarakat.


Seorang warga, Abdullah, mengaku hujan deras yang kembali terjadi membuat dirinya dan warga lainnya merasa cemas.


“Hampir setiap malam hujan deras, kami tidak bisa tidur karena takut banjir lagi,” ujarnya, Jumat (18/9/2026).


Menurut Abdullah, ingatan terhadap rumah yang rusak dan hantaman material kayu saat bencana sebelumnya masih kuat di benak warga. “Apalagi sudah mau setahun,” katanya.


Di tengah hujan yang masih berpotensi mengguyur Aceh Tamiang, masyarakat memilih meningkatkan kesiapsiagaan. Pergerakan air sungai terus dipantau, sementara warga berharap hujan segera mereda dan potensi banjir dapat diantisipasi sedini mungkin.