Harga Plastik Naik, LPBINU Dorong Masyarakat Ubah Perilaku dengan Bawa Wadah Sendiri saat Belanja
Kamis, 9 April 2026 | 21:30 WIB
Jakarta, NU Online
Anggota Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU) Anwar Sjani mendorong masyarakat untuk mengubah perilaku mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat harga plastik naik.
Menurutnya, masyarakat menjadi lebih selektif dalam berbelanja dan mulai mengurangi konsumsi barang yang dianggap tidak penting.
“Daya beli masyarakat itu sangat tertekan, sehingga orang-orang jadi lebih selektif dalam beli, dan akan mengurangi, akhirnya masyarakat akan membawa wadah sendiri saat berbelanja,” kata Anwar kepada NU Online pada Kamis (9/4/2026).
Anwar menilai kenaikan harga plastik dapat menjadi ‘alarm besar’ sekaligus momentum untuk mendorong perubahan perilaku.
“Akhirnya menjadi perubahan perilaku, kalau dari LPBI melihat dampak positifnya, menjadi momentum yang sangat baik untuk bagaimana mengurangi ketergantungan pada plastik yang sekali pakai,” katanya.
Di tingkat masyarakat, kesadaran untuk membawa wadah atau kantong belanja sendiri sebenarnya mulai tumbuh, meski belum merata.
“Masyarakat di level ini, kesadaran sudah terbangun. Ketika mereka belanja, mereka bawa kantong dan wadah sendiri. Tapi memang hanya beberapa, belum menjadi kesadaran bersama untuk yang lain,” katanya.
Menurutnya, penggunaan barang yang dapat dipakai berulang kali dinilai sebagai langkah paling efektif. Ia mencontohkan penggunaan tas kain yang kini mulai tersedia di berbagai gerai ritel.
“Menggunakan barang-barang yang bisa dipakai berulang kali itu ada solusi yang paling efektif, misalnya ada ekobag, tas-tas kain, yang ganti kantong,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa masyarakat harus mulai menyadari bahwa plastik bukan lagi barang murah. Selama ini, plastik kerap dianggap sebagai pilihan praktis tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan.
“Masyarakat mulai harus sadar, bahwa plastik bukanlah barang-barang murah ternyata,” tegasnya.
Menurut Anwar, gerakan pengurangan plastik belum menjadi kebutuhan mendesak bagi sebagian besar masyarakat. Hal ini membuat perubahan perilaku berjalan lambat.
“Masyarakat ini memang belum begitu terhempit, belum begitu mendesak. Masyarakat mau berubah saat keadaan yang mengharuskan banget, yang mendesak harus berubah,” ujarnya.
Anwar juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memperkuat sosialisasi dan regulasi. Ia menilai implementasi aturan pengurangan plastik di sejumlah daerah masih lemah.
“Pemerintah perlu melakukan sosialisasi dan regulasi yang mendukung pengurangan plastik. Karena di beberapa daerah pun juga regulasi itu memang nggak begitu berjalan,” pungkasnya.