Komisi Program Muktamar NU Dorong Anak Muda Dilibatkan dalam Program NU
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:52 WIB
Hasanuddin Ali saat memaparkan hasil analisisnya dalam sidang komisi program di Aula IAIBAFA, Tambakberas, Jombang, Jum'at (28/8/2026). (Foto: Umi Kholifah/NU online).
Jombang, NU Online
Sidang Komisi Program Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mendorong keterlibatan anak muda dalam penyusunan dan pelaksanaan program organisasi. Keterlibatan generasi muda dinilai penting karena mereka akan menjadi penentu keberlanjutan NU sekaligus memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Hal tersebut mengemuka dalam Sidang Komisi Program yang digelar di Aula IAIBAFA, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026). Salah satu tim perumus, Hasanuddin Ali, memaparkan hasil analisis mengenai kesenjangan selera, pemikiran, dan performa kerja antara Nahdliyyin usia muda dan tua.
Menurut Hasanuddin, keterlibatan generasi muda menjadi semakin penting dalam menyiapkan realisasi Roadmap NU 2026–2050. Sebab, generasi muda saat ini akan menjadi penerus kepemimpinan dan penggerak NU pada masa mendatang.
Ia menilai terdapat perbedaan cukup mencolok dalam selera dakwah antara generasi muda dan generasi tua Nahdliyyin. Gen Z, misalnya, cenderung lebih tertarik pada dakwah dari sejumlah ustadz yang tidak berasal dari lingkungan NU.
“Ustadz yang diidolakan oleh Gen Z adalah ustadz yang bukan NU, seperti Ustadz Hanan Attaki, Adi Hidayat, dan sebagainya. Sedangkan Nahdliyyin lama atau usia tua, idolanya adalah ulama NU sendiri, seperti KH Anwar Zahid, Gus Baha, dan sebagainya,” paparnya.
Perbedaan tersebut, menurut Hasanuddin, menunjukkan perlunya NU memahami karakter dan kebutuhan generasi muda dalam menyusun program. Terlebih, generasi muda dinilai memiliki kemampuan yang lebih sesuai untuk menghadapi perubahan dan tantangan zaman.
Ia mencontohkan sejumlah organisasi keagamaan yang dinilai berkembang ketika memberikan ruang lebih besar kepada generasi muda dalam kepengurusan.
“Semakin tua pengurus, semakin redup performa organisasi. Sebaliknya, semakin muda pengurus, semakin cemerlang organisasi,” ungkapnya.
Karena itu, Hasanuddin menilai program kerja NU periode 2026–2030 menjadi momentum penting untuk memperkuat keterlibatan Gen Z. Menurutnya, generasi muda perlu tidak hanya menjadi sasaran program, tetapi juga dilibatkan sebagai bagian dari perumus dan pelaksana program NU.
“Maka, program kerja 2026–2030 nanti sangat menentukan karena di tahun inilah Gen Z sedang berada di titik emasnya, sehingga di masa mendatang mereka akan mampu membawa NU menuju masa keemasan pula,” tuturnya.
Menyesuaikan Program dengan Kebutuhan Anak Muda
Pimpinan Sidang Komisi Program, Alissa Wahid, turut menyoroti pentingnya NU memahami kebutuhan generasi muda, terutama dalam bidang dakwah. Menurutnya, salah satu alasan Gen Z lebih tertarik mengikuti tausiyah dari ustadz di luar NU adalah karena materi yang disampaikan dinilai lebih sesuai dengan hal-hal yang ingin mereka ketahui.
“Kenapa Gen Z lebih suka tausiyah Ustadz Hanan Attaki, Adi Hidayat, Abdul Somad, Felix Siauw, dan sebagainya yang bukan NU? Ya, karena apa yang mereka cari ada di tausiyah mereka,” jelasnya.
Menurut Alissa, NU perlu mengevaluasi materi dakwah agar lebih mampu menjawab rasa ingin tahu dan persoalan yang dihadapi generasi muda.
“Barangkali ulama NU kita ini ceramahnya itu-itu saja seputar politik, takwa, sedekah, poligami, dan sebagainya, yang sama sekali tidak menjawab rasa ingin tahu Gen Z,” bebernya.
Hal tersebut diperkuat dengan hasil survei yang dipaparkan Hasanuddin mengenai layanan atau topik keagamaan yang diharapkan Nahdliyyin dari berbagai kelompok generasi.
Dalam survei Alvara, sebanyak 58,9 persen Gen Z memilih “Bimbingan Fikih Remaja” sebagai layanan atau topik keagamaan yang paling mereka harapkan. Kebutuhan tersebut dinilai menunjukkan pentingnya NU menghadirkan program yang lebih sesuai dengan persoalan dan kebutuhan generasi muda.
Kontributor: Umi Kholifah