Krisis Iklim Kian Mengkhawatirkan, Generasi Muda Jadi Aktor Perubahan
Jumat, 12 Juni 2026 | 12:00 WIB
Talkshow Dua Dekade Adiwiyata: Bumi Butuh Aksi, Sekolah Jadi Solusi, Iklim Perlu Adaptasi, Generasi Jadi Mitigasi di Jakarta, Kamis (11/6/2026). (NU Online/Jannah)
Jakarta, NU Online
Krisis iklim semakin menjadi ancaman nyata bagi kehidupan global, termasuk Indonesia. Peningkatan suhu bumi, cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, hingga pencemaran lingkungan menjadi rangkaian dampak yang kian sering dirasakan masyarakat. Di tengah tantangan tersebut, generasi muda dinilai memiliki peran strategis sebagai aktor perubahan dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan menekan laju krisis iklim.
Leader Nasional World Cleanup Day (WCD) Indonesia, Andy Bahari menyampaikan bahwa keterlibatan generasi muda tidak hanya penting sebagai peserta gerakan lingkungan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan perilaku di masyarakat.
“Generasi muda hari ini bukan hanya pewaris bumi, tetapi juga aktor utama yang dapat menentukan arah masa depan lingkungan. Kesadaran dan aksi nyata mereka sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak krisis iklim yang semakin mengkhawatirkan,” ujarnya Talkshow Dua Dekade Adiwiyata: Bumi Butuh Aksi, Sekolah Jadi Solusi, Iklim Perlu Adaptasi, Generasi Jadi Mitigasi di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Ia mengatakan bahwa persoalan besar lingkungan di Indonesia adalah sampah. Andy menyebutkan sekitar 33,79 juta ton timbulan sampah Indonesia pada 2025. Sampah rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan porsi lebih dari 50 persen, sementara sampah makanan dan plastik masih mendominasi komposisi sampah nasional.
Andy menegaskan bahwa perubahan perilaku sederhana seperti memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan aktif dalam kegiatan lingkungan dapat memberikan dampak signifikan apabila dilakukan secara masif.
“Anak muda memiliki kekuatan pengaruh yang luar biasa melalui komunitas dan media sosial. Ketika mereka bergerak bersama, perubahan perilaku masyarakat dapat terjadi lebih cepat,” katanya.
Senada, Direktur Eksekutif Think Policy Indonesia, Andhyta Firselly Utami mengatakan bahwa krisis iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan persoalan yang sedang dihadapi saat ini.
“Krisis iklim sudah terjadi sekarang. Dampaknya dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari ancaman terhadap kesehatan, pangan, hingga ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Andhyta menilai generasi muda memiliki peran penting dalam mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih berpihak pada keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, keterlibatan anak muda dalam diskusi, advokasi, hingga pengambilan keputusan menjadi faktor penting untuk memastikan pembangunan berjalan selaras dengan upaya perlindungan lingkungan.
“Generasi muda perlu terlibat aktif dalam proses pengambilan kebijakan. Mereka harus berani menyuarakan aspirasi dan memastikan isu iklim menjadi prioritas pembangunan,” katanya.